Pluralitas adalah salah satu kata yang dapat dibanggakan dari Indonesia. Media asing sering menulis tentang Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia yang mampu menerapkan demokrasi secara elok. Indonesia telah lama menjadi salah satu barometer bagi proses demokrasi dalam bernegara.
Namun, berbagai peristiwa akhir-akhir ini menyadarkan kita bahwa pluralitas dan toleransi di Indonesia sedang dicobai dan diserang. Lihatlah bagaimana seorang Gubernur yang begitu disanjung dan sangat diakui oleh dunia malah dianggap telah melakukan perbuatan yang menyerang agama lain. Padahal semua orang dengan akal sehat tahu bahwa tuduhan itu tidak berdasar. Kemudian peristiwa pelarangan KKR di Bandung yang kemudian berujung pada tindakan ‘balasan’ di tempat lain. Yang terakhir adalah proses sweeping atribut Natal di mall-mall di Surabaya.
Beberapa kejadian beruntun ini menyadarkan saya bahwa ada sesuatu yang sedang bermain di balik peristiwa-peristiwa besar tersebut. Saya sangat sadar bahwa ini bukan masalah agama. Tetapi ada kepentingan politik yang bermain di sini. Bahkan dugaan saya, oknum-oknum di Indonesia pun sebenarnya hanya ‘pion’ di balik sang grandmaster yang entah siapa dan ada di mana.
Entah mengapa, saya merasa Indonesia saat ini tak ada ubahnya dengan zaman dahulu ketika masih dijajah Belanda. Menyadari bahwa Indonesia setelah ratusan tahun tidak belajar tentang apa itu politik adu domba.
Memang, pluralitas di Indonesia sebenarnya seperti buah simalakama yang harus selalu dipegang oleh bangsa ini. Jika mampu memainkan perannya dengan baik, maka pluralitas bisa menjadi modal. Misalnya saja dengan menampilkannya sebagai ragam budaya yang tidak akan pernah habis dieksplorasi oleh turis asing. Tetapi di sisi lain selalu akan menjadi sasaran empuk bagi serangan pemecah belah bangsa ini.
Saya masih yakin pemerintahan saat ini masih memegang kendali. Namun bukan berarti kita sebagai rakyat tidak dapat melakukan tindakan apapun tentang hal ini. Jika anda adalah rakyat kecil yang prihatin dengan kondisi Indonesia saat ini, berikut adalah beberapa hal yang dapat anda lakukan.
- Berdoa bagi bangsa kita. Terlepas dari apapun agama anda, Indonesia telah menjadi tempat bernaung bagi banyak agama dan banyak budaya. Bahkan Indonesia didirikan dengan semangat pluralitas. Lihatlah bagaimana Sumpah Pemuda dikumandangkan. Mengapa doa? Karena kita percaya kekuatan Tuhan lebih besar dari kekuatan manusia. Tuhan sanggup menaungi dan melindungi negara ini. Kita harus percaya bahwa Tuhanlah yang menciptakan bangsa-bangsa, dan Tuhanlah yang akan melindunginya.
Yer 29:7 Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.
Bagi Anda yang minoritas, tidak usah merasa diserang. Dalam kasus sweeping atribut misalnya. Tidak menggunakan dan tidak ada atribut Natal di mall-mall kesayangan tidak berpengaruh apapun atas keimanan apalagi keselamatan Anda bukan? Tidak usah lebay dengan merasa ditekan dan menjadi korban. Tetaplah berdoa bagi bangsa kita.
- Belajarlah dan belajarlah. Belajarlah tentang agamamu lebih lagi. Belajarlah tentang sejarah bangsa ini lebih lagi. Temukan bahwa toleransi adalah tiang penyangga terbaik untuk menjaga bentuk bangsa ini.
- Sadarlah bahwa banyak bangsa lain iri dengan setiap modal yang kita miliki, kekayaan alam, kekayaan budaya, dan lainnya. Sadarlah bahwa sampai saat ini Indonesia masih dilirik oleh banyak pihak untuk dapat dikeruk bagi kepentingan mereka sendiri.
- Telitilah setiap hal yang anda bagikan di media sosial. Karena sekarang, ini adalah alat nomor satu yang sedang digunakan untuk melakukan proses pecah belah. Jangan sembarangan membagikan isu yang belum jelas.
- Bagikanlah terus pesan yang membawa nuansa perdamaian dan toleransi. Saya belajar dari bagaimana rokok dapat terus eksis di tengah himpitan regulasi yang ada. Di dalam setiap iklan dan bungkus rokok yang ada, terdapat pesan mengerikan yang seharusnya mampu untuk membuat orang menghindari rokok. Tapi kenyataannya tidak demikian. Industri rokok terus bertumbuh.
Apa yang terjadi? Iklan. Iklan yang terus menerus dan gencar membuat kita menjadi terbiasa. Dan kita tidak pernah bisa menolak kebiasaan. Saat kita sudah terbiasa menggosok gigi setelah bangun pagi, maka akan terasa aneh kalau kita tidak melakukannya satu kali saja.
Kuncinya adalah kita harus menekan arus berita yang sifatnya membawa kebencian dan menampilkan arus berita yang sifatnya membawa perdamaian dan toleransi. Bahkan sekalipun berita tersebut benar, tetapi jika membawa kebencian, apa gunanya? Anda hanya akan membuat orang lain benci terhadap orang lain. Sebenarnya anda sedang merugikan diri sendiri karena jika sampai negara kita hancur, maka kita yang masih mencari nafkah di Indonesia ini juga ikut susah. Apa untungnya?
Terakhir, bantulah untuk sebarkan pesan ini ke seluruh kolega dan siapa saja yang anda kenal untuk bersama-sama menjaga Indonesia dan membuatnya menjadi tempat bernaung yang lebih baik lagi untuk anak cucu kita.
Indonesia selalu dikenal dengan beragam warna. Indonesia tidak pernah dikenal sebagai satu warna. Indonesia tidak akan menjadi Indonesia dengan memaksakan satu warna terjadi. Jangan lepaskan pita Bhineka Tunggal Ika dari cengkraman kuat Garudaku!







