Saat kita melihat profil seorang Joko Widodo yang kita kenal dengan nama Jokowi, atau pasangannya Basuki atau Ahok (yang semoga sebentar lagi akan membawa perubahan bagi Jakarta), saat kita melihat seorang Dahlan Iskan sang Menteri BUMN dan segala kiprahnya, saat kita melihat Pak Yudiutomo Imardjoko yang lebih memilih kembali ke Indonesia dan memajukan BatanTek (sebuah perusahaan pengayaan nuklir bagi bidang kesehatan), atau ibu Risma sang walikota Surabaya, dan masih banyak profil lain yang tidak akan mampu disebutkan satu persatu, kita akan tahu bahwa masih ada harapan bagi negara ini.
Musuh terbesar bangsa ini bukanlah kemiskinan atau sakit penyakit, namun kemiskinan dan sakit moral dan jiwa yang bernama korupsi. Korupsi tidak hanya mencakup secara nyata tindakan menggelapkan sejumlah uang untuk kepentingan pribadi, namun dari akar katanya, korupsi berarti penyimpangan dari sebuah kondisi ideal atau idealisme, dan juga berarti ketidakmurnian secara moral. Ia juga berarti sesuatu yang telah dicederai atau dihancurkan.
Masyarakat kita tidak anti terhadap perbedaan (terutama terkait SARA), bahkan kita menjunjung tinggi hal itu yang terkandung dalam nilai luhur “Bhinneka Tunggal Ika”, juga tidak anti terhadap kemiskinan, kebodohan, dan sakit penyakit. Tidak peduli dengan latarbelakangnya, mereka terjun untuk memerangi tiga musuh besar masyarakat, tanpa peduli siapa yang ditolong. Itulah nasionalisme yang membuat saya tahu bahwa bangsa ini memang lebih besar dari sebuah agama.
Namun, terhadap sebuah hal yang bernama korupsi ini, masyarakat kita memandang begitu jijik. Sebuah peringatan bagi pemerintah dan yang ingin masuk dalam pemerintahan bahwa masyarakat kita tidak bodoh lagi. Dalam pilkada Jakarta 2012 incumbent dapat dikalahkan karena masalah brand image. Figur yang merakyat dan berprestasi akan dipilih dan dicintai.
Saya melihat Indonesia yang berangsur membaik. Di tengah carut marut kondisi yang ada, selalu ada putra-putra bangsa yang memilih maju dan membangun, berprestasi demi kedigdayaan bangsa. Kondisi ekonomi terus membaik (bahkan salah satu pertumbuhan ekonomi yang terbaik di dunia saat ini), satu persatu sektor dapat kita taklukkan. Satu persatu musuh bangsa akan kita kalahkan (kemiskinan, kebodohan, sakit penyakit).
Suatu generasi akan digantikan oleh generasi berikutnya. 10 sampai 20 tahun lagi, tampuk-tampuk pimpinan akan dipegang oleh orang-orang seusia saya (kita). Hanya satu hal yang tidak boleh kita lupakan, tetap jaga nilai integritas, jauh melebihi apapun. Integritas adalah musuh korupsi. Dan integritas harus dilatih.
Bekerja sesuai dengan kesepakatan, belajar dan tidak mencontek, mengatakan ya jika memang ya, tidak jika memang tidak. Bangsa ini butuh sebuah ketegasan, dan sekali lagi, ketegasan adalah hasil sebuah latihan. Mari menjadi generasi muda yang mampu berdisiplin dalam idealisme kita. Dan saatnya nanti, bawalah idealisme tersebut sebagai kerangka bagi karya-karya kita. Maju terus Indonesia!!!
(Sebuah catatan dan perenungan 13 Juli 2012)





