Mendengar kata ‘penyembahan’ tentu bukan hal asing bagi telinga kita. Bahkan dalam tiap kebaktian golongan Kristen tertentu kita akan mendengar kata ini disebut. Kita mungkin juga termasuk tipe orang yang perlu melakukan hal ini sebelum mendengarkan Firman Tuhan dalam ibadah atau saat teduh kita. Namun, apa yang sebenarnya kita lakukan dalam penyembahan?
Penyembahan sendiri sudah ada sejak ribuan tahun. Bahkan bisa dikatakan, sejak sebelum peradaban manusia muncul, manusia sendiri sudah melakukan penyembahan (kegiatan menyembah). Ada satu unsur yang tidak pernah hilang dalam penyembahan, yaitu sebuah perasaan ketidakmampuan dari manusia, perasaan bahwa dirinya kecil dan membutuhkan pribadi lain yang mampu menolongnya. Maka menurut sejarah, awalnya manusia menyembah apapun yang dilihatnya (pohon, batu, bulan, bintang, matahari, dll).
Ya, kita menyembah karena kita merasa tidak mampu dan butuh pertolongan. Saya ingin mengatakan bahwa perasaan itu dapat disimpulkan dalam sebuah kata, KEBERGANTUNGAN. Makin besar rasa kebergantungan kita, makin besar dan kuat penyembahan kita. Dan jika kita hubungkan dengan Allah yang kita sembah, maka kebergantungan itu menyangkut semua hal, mulai dari yang paling kecil, misalnya perasaan bahwa untuk bernafas saja kita butuh Tuhan, sampai kepada bahwa untuk mencapai visi atau panggilan hidup kita sangat membutuhkanNya.
Lalu bagaimana kita menyembah? Di dalam Alkitab, ada 3 tokoh yang pernah disebut berkenan di hadapan Allah. Yang pertama adalah Henokh yang kemudian diangkat oleh Allah, selanjutnya Daud yang disebut sebagai orang yang melakukan kehendak Tuhan pada zamannya, dan ketiga adalah Yesus sendiri.
Bagaimana dengan Daud? Seorang berdosa yang jika dihitung pelanggarannya dan disidangkan pada masa kini, ia akan dijatuhi hukuman terberat karena melakukan pelanggaran terhadap pasal berlapis (pembunuhan, pembunuhan berencana, berzinah, menyalahgunakan kekuasaan, dan sebagainya). Dengan jenis pelanggaran demikian, mengapa ia masih disebut berkenan?
Kitab Mazmur menjelaskan dengan rinci mengapa hal ini bisa terjadi. Namun, mari kita teliti salah satu pasalnya saja, yaitu dari Mazmur 84, ada beberapa poin yang kita dapat pelajari,
- Ay 3, “Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN..”
Pelataran bukanlah teras seperti pada rumah kita. Dalam Kemah Tabernakel, pelataran adalah tempat bangsa Israel berkumpul dan hadirat Allah turun. Jadi pelataran lebih tepat digambarkan seperti lobby atau hall, tempat pertemuan yang intim dan nyaman bisa dilakukan.
Daud mengatakan jiwanya hancur karena merindukan pertemuan dengan Tuhan. Ia tidak hancur waktu kehilangan istri dan anak-anaknya di Ziklag, justru ia mampu menguatkan kepercayaannya pada Tuhan, sebuah tindakan yang tidak manusiawi sebenarnya.
Bagaimana dengan kita? Alasan-alasan apa yang membuat jiwa kita hancur hari-hari ini? Diputus pacar? Kehilangan pekerjaan? Sakit penyakit? Semuanya hanyalah hal sepele jika dibandingkan hadirat Tuhan. - Ay 5, “Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau..”
Pada zaman modern ini, manusia makin sulit untuk berdiam, karena semua terjadi serba cepat dan instan. Menunggu adalah pekerjaan yang sangat menyiksa. Sedikit waktu terbuang, kita sudah sering mengomel. Tetapi kunci tinggal dalam hadirat Tuhan adalah berdiam.
Yesaya 30:15 berkata, “dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu..” Daud tahu rahasia berdiam dalam rumah Tuhan. Ia tahu, pada waktu jiwanya diam, ia sedang bergantung kepada Tuhan. Daud punya banyak musuh. Tetapi berdiam membuatnya mampu untuk “makan hidangan di hadapan musuh-musuhnya” (Mazmur 23). - Ay 6, “Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!”
Ziarah bukan liburan. Tetapi pada waktu orang berziarah, ia akan mengenang jalan hidup seseorang (napak tilas). Artinya, ia melakukan rekonstruksi / reka ulang kejadian yang pernah terjadi dalam hidup seseorang.
Ayat ini berkata bahwa pada waktu kita mengikuti langkah-langkah Tuhan, maka kita akan mendapatkan kekuatan baru. Itulah mengapa, berdiam di dalam Tuhan bukan berarti pasrah dan tidak melakukan apapun.
Justru berdiam dalam Tuhan, kita melakukan tindakan aktif, yaitu taat pada kehendak Tuhan. - Ay 7, “Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air;”
Lembah Baka dalam bahasa Inggris disebut ‘valley of weeping’ atau lembah tangisan. Ayat ini selaras dengan Mazmur 23:4, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, d aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku“.
Lembah Baka melambangkan kesulitan, tekanan, cobaan yang kita akan terus hadapi dalam kehidupan. Tetapi orang yang bergantung pada Tuhan justru mampu mengubah tekanan itu menjadi sumber air kehidupan. Hal ini hanya dapat terjadi waktu kita bergantung pada Tuhan. Karena tekanan dan kesulitan tersebut akan menjadi indah dan baik dengan campur tangan Tuhan (Roma 8:28). - Ay 8, “Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion.”
Ini adalah bagian yang paling saya sukai. Kebanyakan orang secara natural akan mengalami kelelahan setelah sekian waktu berjalan. Tetapi hukum Illahi berkata beda. Jika kita punya arah hati yang benar (“hendak menghadap Allah”), maka justru kehidupan kita makin kuat.
Kuncinya terletak pada cara pandang. Waktu kita memfokuskan diri pada Tuhan, maka secara otomatis kita akan melihat masalah kita dari sudut pandang yang berbeda. Ciri khas orang yang mengandalkan Tuhan, ia selalu berkata, “hai masalah, aku punya Tuhan yang besar“. Ya, tidak ada masalah yang lebih besar dari Tuhan kita.
Lima poin ini menjadi gambaran mengapa Daud dapat berkata,
Ay 10, “Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu k rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik.“
Daud mampu menikmati Tuhan. Berbeda dengan yang lain, menyembah Allah membuat kita menikmati Dia. Allah kita bukan membuat kita menjadi obyek yang harus taat disuruh-suruh. Justru dalam penyembahan kita menemukan segala bentuk terbaik dalam kehidupan yang kita mampu dapatkan.
Menyembah bukanlah kegiatan seminggu sekali di hari Minggu atau sekali sehari. Menyembah adalah gaya hidup. Dalam bahasa aslinya, menyembah terkandung dalam kegiatan sehari-hari seperti bekerja. Karena itulah Kolose 3:23 berkata bahwa dalam segala hal kita melakukannya seperti untuk Tuhan.
Kita selalu membawa Tuhan kita dalam tiap kehidupan kita sehari-hari. Perasaan kebergantungan kita padaNya menentukan seberapa maksimal kita akan menjalani kehidupan kita tiap hari. Stop untuk mengikuti ego kita dan mencoba melakukan semuanya sendiri. Percayalah hanya lewat Dia kita mampu untuk menjalani hidup kita.
Filipi 4:13 (KJV) “I can do all things through Christ which strengthens me“
*) Gambar dari churchofchristarticles.com









