Tidak ada satu orangpun yang dapat memungkiri bahwa musik sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Hal ini terkait dengan posisi dan kemampuan musik yang unik. Musik jelas mampu mempengaruhi emosi manusia. Musik juga diterima oleh otak secara khusus sehingga otak yang tidak bisa bekerja multitasking pun masih dapat memproses suara musik meskipun sedang mengerjakan atau memproses yang lain.
Begitu juga di gereja, musik telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam seremonial ibadah maupun kehidupan pribadi jemaat. Muncul banyak ‘artis-artis rohani’ dengan lagu yang mampu menginspirasi jemaat dalam ‘penyembahan’. Bahkan bagi beberapa orang, tanpa musik rasanya sulit untuk merasakan Tuhan.
Artikel yang cukup kritis ada bagian paling bawah memberikan ulasan yang cukup menarik tentang hal ini. Saya sengaja akan copy-paste di bagian paling akhir supaya sumber bacaan tersebut tidak hilang. Anda boleh membacanya atau tidak sama sekali, karena saya akan memberikan pandangan saya yang terkait dengan hal ini terlebih dahulu sebelum memberikan artikel tersebut sebagai sebuah ‘attachment’.
Judul dari artikel tersebut memiliki daya pukul yang sangat kuat, didukung dengan pernyataan bahwa tidak ada bukti di Alkitab bahwa musik menjadi perantara antara manusia dengan Allah. Dalil yang diungkapkan adalah bahwa Yesuslah satu-satunya perantara/jembatan Allah dengan manusia. Saya setuju dengan hal ini. Tetapi di Alkitab sangat banyak bukti bahwa musik (alat musik) dipakai dalam acara seremonial ibadah. Kita mengenal istilah ceracap, gambus, kecapi, dan sebagainya.
Beberapa Mazmur ditulis oleh bani-bani yang bermain alat musik seperti bani Asaf. Daud sendiri adalah pemain kecapi. Jadi bagi saya pribadi, saya setuju bahwa yang membawa kedekatan dengan Allah bukanlah musiknya, tetapi Yesusnya. Musik akan menjadi salah jika ia menggantikan atau menghilangkan fokus kepada Yesus setiap kali kita menyembah.
Tetapi bukan berarti musik tidak punya posisi dalam hal ini. Mengapa saya mengatakan ini? Karena segala sesuatu di dunia ini sebenarnya mencerminkan Allah itu sendiri, karena semuanya adalah ciptaan Allah. Saat kita melihat pemandangan yang indah, keanekaragaman binatang, keteraturan dunia, kita bisa memuji Allah karena kehebatan ciptaanNya. Begitu juga musik adalah ciptaan Tuhan. Lucifer pun sebenarnya adalah malaikat pemusik. Tentunya kita tidak bisa disebut kafir jika kita menggunakan fasilitas musik untuk menyembah Tuhan. Saya pikir ini masalah porsi dan keseimbangan.
Saya juga tidak mengerti bagaimana kesimpulan poin pertama yang diungkapkan dalam buku ‘True Worship’ tersebut muncul. Bagaimana musik bisa disebut memunculkan iman? Saya pikir agak terlalu asumtif untuk berani mengatakan hal tersebut. Apakah background denominasi berpengaruh?
Poin kedua cukup penting tetapi baru masuk akal kalau memang kita menjadi tidak seimbang dalam memperlakukan musik. Tetapi memang ada orang-orang yang seperti tidak merasakan keberadaan Tuhan tanpa adanya musik. Bahkan ada tipe-tipe orang yang sengaja datang ke segala macam acara KKR hanya demi supaya merasakan ‘sensasi rohani sementara’ dalam dirinya. Musik jelas mempengaruhi emosi manusia. Tapi saya berpikir tergantung ‘siapa’ yang menungganginya? Jika Tuhan bisa menggunakan segala hal di alam semesta ini untuk mendekatkan manusia denganNya, mengapa bukan musik?
Poin ketiga tentang bahwa pemusik (dan pemimpin pujian?) mendapatkan status keimaman. Saya berpikir bahwa bukankah imam yang bertugas di bait suci memang memiliki ‘divisi khusus’ pemusik? Bahkan 1 Petrus 2:9 jelas berkata bahwa kita yang percaya kepada Yesus adalah imamat yang rajani. Jadi bukan hanya pemusik yang merupakan imam, tetapi seharusnya seluruh orang Kristen. Hanya masalahnya adalah tahukah kita bahwa kita punya tanggung jawab tersebut? Bahwa imam adalah orang yang berfungsi sebagai perantara, bahwa saat kita berdoa bagi orang lain, maka kita sedang menjadi imam atas orang tersebut?
Poin keempat saya pikir tidak perlu dibahas. Bagi saya artikel di bawah ini menjadi relevan jika memang musik telah ditempatkan secara tidak seimbang sebagai jalan menuju hadirat Allah. Yesus adalah jalan satu-satunya. Tetapi dengan kendaraan apa kita mengambil jalan tersebut bukankah itu pilihan kita?
Saya pribadi memiliki banyak alternatif untuk merasakan Allah. Saya cukup sering ‘bertemu Tuhan’ dalam perenungan-perenungan saya, baik perenungan akan Firman maupun merenungkan perbuatan-perbuatanNya dalam hidup saya. Saya juga masih memakai musik dalam saat-saat tertentu. Bahkan Tuhan juga menggunakan orang lain untuk mengingatkan saya melalui perkataan dan perbuatannya. Pada saat saya makan, mandi, tidur, bekerja, saya berusaha untuk terus merasakan keberadaan Tuhan dalam hidup saya.
Apakah kata ‘terus’ berarti tidak ada satu detikpun yang terlewat? Tentu saja tidak. Tetapi saya percaya bahwa hubungan Allah dengan manusia ini adalah inisiatif Allah dan hanya karena pernyataan dan kesediaanNyalah kita bisa bertemu denganNya. Tentunya Ia akan mengingatkan saya setiap kali saya butuh bertemu denganNya. Itulah Roh Kudus yang bekerja melalui hati nurani.
Ada banyak kita keliru dalam memandang hubungan dengan Tuhan. Kita selalu mencari cara untuk berhubungan denganNya. Padahal inisiatif selalu berasal dari padaNya. Jika inisiatif berasal dari Tuhan, maka cara dan kekuataNya juga berasal dari padaNya (Roma 11:36). Termasuk dalam urusan penyembahan. Apapun yang Dia ingin kita lakukan, sudah sepatutnyalah kita lakukan. Saya sangat percaya bahwa kita yang percaya padaNya tidak akan pernah punya kondisi tuli rohani sehingga tidak bisa mendengar suaraNya dan mengerti tuntunanNya. Masalahnya hanyalah apakah kita percaya dan mau melakukannya?
Diambil dari “http://www.christianity.com/church/worship-and-hymns/is-your-church-worship-more-pagan-than-christian.html”
There is a great misunderstanding in churches of the purpose of music in Christian worship. Churches routinely advertise their “life-changing” or “dynamic” worship that will “bring you closer to God” or “change your life.” Certain worship CD’s promise that the music will “enable you to enter the presence of God.” Even a flyer for a recent conference for worship leaders boasted:
“Join us for dynamic teaching to set you on the right path, and inspiring worship where you can meet God and receive the energy and love you need to be a mover and shaker in today’s world…Alongside our teaching program are worship events which put you in touch with the power and love of God.”
The problem with the flyer and with many church ads is that these kinds of promises reveal a significant theological error. Music is viewed as a means to facilitate an encounter with God; it will move us closer to God. In this schema, music becomes a means of mediation between God and man. But this idea is closer to ecstatic pagan practices than to Christian worship.
Jesus is the only mediator between God and man. He alone is the One who brings us to God. The popular but mistaken notions regarding worship music undermine this foundational truth of theChristian faith. It is also ironic that while many Christians deny the sacramental role of those ordinances which the Lord Himself has given to the church (baptism and the Lord’s Supper) they are eager to grant music sacramental powers. Music and “the worship experience” are viewed as means by which we enter the presence of God and receive his saving benefits. There is simply no evidence whatsoever in Scripture that music mediates direct encounters or experiences with God. This is a common pagan notion. It is far from Christian.
In his helpful book True Worship Vaughan Roberts offers four consequences of viewing music as an encounter with God. I will summarize them.
1. God’s Word is marginalized.
In many Churches and Christian gatherings it is not unusual for God’s Word to be shortchanged. Music gives people the elusive “liver quiver” while the Bible is more mundane. Pulpits have shrunk and even disappeared while bands and lighting have grown. But faith does not come from music, dynamic experiences, or supposed encounters with God. Faith is birthed through the proclamation of God’s Word (Rom 10:17).2. Our assurance is threatened.
If we associate God’s presence with a particular experience or emotion, what happens when we no longer feel it? We search for churches whose praise band, orchestra, or pipe organ produce in us the feelings we are chasing. But the reality of God in our lives depends on the mediation of Christ not on subjective experiences.3. Musicians are given priestly status.
When music is seen as a means to encounter God, worship leaders and musicians are vested with a priestly role. They become the ones who bring us into the presence of God rather than Jesus Christ who alone has already fulfilled that role. Understandably, when a worship leader or band doesn’t help me experience God they have failed and must be replaced. On the other hand, when we believe that they have successfully moved us into God’s presence they will attain in our minds a status that is far too high for their own good.4. Division is increased.
If we identify a feeling as an encounter with God, and only a particular kind of music produces that feeling, then we will insist that same music be played regularly in our church or gatherings. As long as everyone else shares our taste then there is no problem. But if others depend upon a different kind of music to produce the feeling that is important to them then division is cultivated. And because we routinely classify particular feelings as encounters with God our demands for what produce those feelings become very rigid. This is why so many churches succumb to offering multiple styles of worship services. By doing so, they unwittingly sanction division and self-centeredness among the people of God.Scripture is full of exhortations to God’s people to sing and make music to the Lord. Our God has been gracious to give us this means to worship Him. But it is important to understand that music in our worship is for two specific purposes: to honor God and to edify our fellow believers. Unfortunately, many Christians tend to grant music a sacramental power which Scripture never bestows upon it.









