“Tiada manusia yang sempurna”. Peribahasa tersebut rupanya cocok untuk diterapkan kepada siapapun karena memang benar adanya. Ketidaksempurnaan manusia membuatnya rentan dalam melakukan kesalahan. Namun tidak banyak yang sadar bahwa kedewasaan seseorang dapat diukur dari bagaimana ia bereaksi terhadap kesalahan yang terjadi.
Uniknya, hal ini berlaku dua arah. Yaitu pada waktu ia melakukan kesalahan dan bagaimana jika seseorang bersalah kepadanya.
Pertama, pada waktu seseorang melakukan kesalahan. Hal yang sering terjadi setelah itu adalah bisa saja ia seperti tidak sadar atau juga tidak menyesal dan justru meminta orang untuk memahami kondisinya seraya berkata “Tiada manusia yang sempurna”. Padahal waktu itu terjadi, sebenarnya ia sedang menunjukkan bahwa sebenarnya ia bukan orang yang dewasa dengan bereaksi secara salah terhadap kesalahan yang ia perbuat.
Seharusnya jika kita melakukan kesalahan, sekecil apapun atau bahkan mungkin jika kita memiliki alibi (alasan), kita perlu berbuat sesuatu untuk memperbaikinya. Kesalahan kita sebenarnya adalah hutang yang harus kita bayar. Karena dari kesalahan tersebut, mungkin kita sedang menyakiti hati seseorang atau membuatnya merasa rugi.
Ada dua tindakan yang perlu kita lakukan. Pertama adalah meminta maaf, sekali lagi sekalipun kita mungkin memiliki alasan kuat sehingga kita melakukan hal tersebut. Kedua kita perlu membayar dengan tindakan untuk memperbaiki kondisi yang terjadi terkait kesalahan kita tersebut. Ingat bahwa Mazmur 15:4 berkata bahwa orang yang takut akan Tuhan memiliki ciri bahwa ia berpegang pada sumpah walaupun rugi.
Jadi jika kita telah salah dalam bersikap terhadap sebuah tanggung jawab, maka kita perlu melakukan segala cara untuk memperbaikinya sekalipun rugi. Selain itu kita perlu memiliki prinsip bahwa hubungan yang dibangun dengan orang lain memiliki derajat dan tingkat kepentingan lebih tinggi daripada harga diri kita.
Kemudian yang kedua, yaitu pada waktu seseorang melakukan kesalahan pada kita. Orang yang tidak dewasa akan sangat mudah untuk bersikap terus mengingat-ingat kesalahan tersebut dan mungkin berniat untuk membalas dengan perbuatan yang lebih menyakitkan.
Satu hal yang kita perlu ingat bahwa semakin kita membenci orang lain, semakin kita menyakiti diri kita karena kita sedang membiarkan diri kita dikelilingi oleh sampah-sampah perasaan. Karena belum tentu orang yang menyakiti hati kita tersebut merasa dirugikan akibat dari tindakan kita membencinya.
Memaafkan adalah sikap seseorang yang dewasa. Orang dewasa tahu berfokus pada apa yang penting dan mampu untuk menyingkirkan hal-hal yang tidak penting. Memaafkan berarti melepaskan dan membuang beban yang sebenarnya akan membuat kehidupan kita semakin berat.
Jika kita ingin menjadi dewasa kita perlu terus belajar dalam proses memaafkan dan dimaafkan ini. Untuk dapat dimaafkan, seseorang perlu melakukan hal-hal secara tulus, karena kita berada dalam posisi ingin mengetuk hati orang lain. Dan hati hanya dapat berhubungan dengan hati. Hati tidak dapat disentuh dengan ego pribadi kita.
(Gambar dari berbagai sumber)






