Banyak orang memiliki masalah untuk mengampuni. Untuk mengucapkan sebuah kata ‘maaf’ terasa begitu berat. Padahal ia mungkin sudah tahu kebenarannya. Matius 6:14 berkata, “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”
Tiap agama mengajarkan pengampunan. Itu adalah perbuatan baik. Tapi mengapa itu begitu susah dijalankan? Apa yang saya renungkan tentang hal ini berawal dari pengalaman dan pengamatan terhadap sekeliling. Ada beberapa rahasia dan kebenaran yang terletak dalam sebuah pengampunan. Setidaknya ada 7 hal yang sering kali orang luput untuk sadari berkaitan dengan pengampunan:
- Orang susah untuk mengampuni karena ia tidak pernah merasa diampuni. Salah satu kebutuhan batin yang akan selalu ada dalam hidup manusia adalah merasa diterima. Pengampunan berarti penerimaan. Mengasihi musuh (Mat 5:44) hanya dapat dilakukan dengan mengampuni, karena orang yang kita anggap musuh pasti adalah orang yang pernah menyakiti kita. Masalahnya, apakah kita tahu bahwa orang yang menyakiti kita juga adalah orang yang tersakiti? Mereka juga adalah orang yang haus dan membutuhkan penerimaan. Jika Tuhan mengijinkan kita untuk disakiti oleh orang tersebut, berarti Dia menitipkan kasihNya untuk orang itu kepada kita. Dia adalah tanggung jawab kita.
- Orang yang tidak pernah diampuni akan susah untuk mengampuni. Jika kita disakiti, kita akan cenderung menyakiti. Seekor singa yang terluka akan berlaku beringas terhadap siapa saja yang ada di dekatnya. Ini adalah hukum alam. Kelihatannya prinsip ini hanya seperti permainan bolak-balik perkataan dari prinsip pertama. Namun pada kenyataannya, membenci berarti membuka pintu kutuk dalam hidup kita. Karena waktu kita membenci orang lain, secara tidak sadar kita akan merasa dibenci orang lain (bayangkan singa yang terluka itu). Membenci berarti menaruh curiga terhadap apapun di sekeliling kita. Menaruh curiga berarti merasa bahwa diri kita tidak aman. Itu berarti kita merasa sekeliling kita ingin menyerang atau menyakiti kita. Akhirnya, itu akan menjadi siklus yang akan terus membesar. Dan itu harus dipatahkan dengan pengampunan, karena pengampunan berarti kita menaruh pagar batas keamanan kita di tangan Tuhan.
- Mengampuni berarti adalah reaksi yang benar dalam menghadapi suatu masalah. Reaksi yang benar berarti awal dari bertambahnya kedewasaan kita. Makin dewasa kita berarti makin dekat diri kita untuk layak menjadi mempelaiNya. Gereja adalah mempelai Kristus (2 Korintus 11:2). Tetapi tidak ada seorangpun yang ingin menikah dengan anak kecil.
- Pengampunan melepaskan berkat dalam hidup anda. Jika anda mengampuni, setidaknya anda telah mengalami berdukacita, menjadi lemah lembut, murah hati dan membawa damai. Yesus menyebut orang-orang yang demikian sebagai orang yang berbahagia (Kotbah di Bukit, Matius 5, dalam bahasa Inggris digunakan kata Blessed). Masalahnya kalau kita masih berfokus pada berkatnya, kita akan susah untuk mengampuni, karena mengampuni adalah tindakan yang tidak egois, sedangkan pengejaran akan berkat adalah tindakan yang egois.
Orang yang mengampuni berarti adalah orang yang mampu menanggapi kasih karunia dengan baik. Yesus datang ke dunia untuk mematahkan kutuk kebencian dalam diri manusia. Pada poin pertama dan kedua sudah dibahas tentang hal ini. Dengan pengorbananNya, Ia menawarkan pengampunan dan penerimaan yang sudah menjadi natur kebutuhan kita. PengorbananNya adalah kasih karunia, karena kita tidak layak menerimanya. Dengan kita merasa diterima dan diampuni berarti membuka kemungkinan kita untuk juga mengampuni orang lain. Lalu mengapa ada orang yang sudah menerima Yesus sebagai Juruselamatnya tapi masih susah mengampuni? Mungkin ia tidak benar-benar menerima pengampunan Yesus, karena penebusanNya selalu berarti kelahiran baru yang berarti perubahan kehidupannya (Yoh 3:3, Rom 12:1-2).- Ada kebenaran di balik kebenaran dalam Matius 6:14 tersebut. Kalimat itu diucapkan dalam rangkaian kotbah di bukit. Yang orang tidak sadari, Yesus selalu mengajar pengikut non-murid menggunakan perumpamaan. Kotbah di bukit adalah gambaran bahwa kita tidak mungkin dapat mencapai kesempurnaan Allah dengan usaha kita sendiri (Mat 5:48). Itulah mengapa Yesus harus turun ke dunia. Ayat tersebut bukanlah sebuah ancaman (bahwa kalau kita tidak mengampuni kita juga tidak akan diampuni) seperti yang selama ini kita kira dan ajarkan pada orang lain. Tetapi ayat itu berarti bahwa jika kita tidak mengampuni, kita akan susah untuk merasa diampuni oleh Tuhan (renungkan kembali poin pertama dan kedua). Pengampunan Allah telah terjadi dengan pengorbanan Yesus di atas kayu salib. Jadi kita tidak mengampuni pun, Yesus sudah mengampuni kita. Tapi apa maksud ayat tersebut? Poin berikut akan menjelaskannya.
- Yesus sebenarnya menyuruh kita mengampuni demi kepenuhan hidup kita karena kepenuhan hidup hanya bisa dicapai dengan damai sejahtera. Roma 14:17 berkata, “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” Berdasarkan ayat tersebut, coba beri saya alasan orang yang tidak mengampuni untuk dapat masuk dalam kerajaan Allah?
Seperti yang sudah sering saya ungkapkan, hidup kekal yang Allah berikan (Yohanes 3:16) bukan hanya berbicara tentang kehidupan setelah kematian. Akar katanya adalah zoe yang juga berarti hidup dalam kepenuhan Allah. Jika kita ingin merasakan kemaksimalan hidup, hidup yang bergairah, penuh semangat, maka kita perlu melakukan perintah Allah. Itulah poin seluruh perbuatan baik kita, bukan untuk keselamatan kita. Untuk lebih jelasnya silakan baca blog saya sebelumnya.
Satu hal yang pasti, pengampunan yang kita berikan adalah untuk kebaikan kita sendiri. Segalah perintah Allah adalah demi kemaksimalan hidup kita. Orang yang susah mengampuni adalah orang yang tidak menanggapi kasih karunia Allah dengan baik. Melepaskan pengampunan berarti melepaskan diri kita dari beban yang tidak perlu kita pikul. Ibrani 12:1b berkata, “… marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.”
(Gambar dari berbagai sumber)






