Kitab Kisah Para Rasul adalah kitab yang menceritakan tentang kisah ‘kepahlawanan’ rasul-rasul abad pertama. Mereka awalnya adalah para pecundang, orang yang penakut, gagal, tidak dianggap oleh masyarakat. Namun sejak Kisah Para Rasul 2, Roh Kudus dicurahkan dan tiba-tiba semuanya berubah. Petrus yang 3 kali menyangkal Yesus demi menyelamatkan nyawanya menjadi bukti pertama dengan berkotbah di hadapan ribuan orang Yahudi yang fanatik. Resikonya tetap sama, tetapi perbedaannya kemenangan berada di tangan Petrus dengan 3000 orang bertobat. Mengapa dan bagaimana hal itu bisa terjadi?
Kisah Para Rasul 2 adalah peristiwa Baptisan Roh Kudus pertama, yaitu kondisi dimana pertama kalinya Roh Kudus menguasai hidup seorang manusia. Sejak awal, Roh Kudus bukan tidak ada dalam hidup manusia, tetapi Roh Kudus adalah pribadi yang lembut, yang tidak akan bertindak tanpa diijinkan. Namun, saat kita ijinkan Roh Kudus berkuasa, pekerjaanNya akan termanifestasi dalam hidup kita. 1 Korintus 2:8-11 berkata,
Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.
Syukurlah Roh Kudus yang sama juga ada dalam diri kita. Sehingga kita pun dapat dan sebenarnya memiliki karunia yang sama seperti rasul-rasul tersebut. Karunia tersebut adalah senjata bagi kita. Namun Rasul Paulus memperingatkan dalam 1 Timotius 3:14-16,
Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua. Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang. Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.
Rasul Paulus memperingatkan agar kita memiliki cara pandang yang benar terhadap karunia yang Allah berikan, sebab karunia tersebut tidak diberikan untuk kita nikmati saja. Saat kita mampu untuk memiliki cara pandang yang benar, kita akan mampu memiliki kehidupan yang berkualitas. Permasalahannya, ada banyak di antara kita yang memiliki permasalahan yang terasa berat dan lupa akan semua karunia tersebut. Padahal karunia yang Allah berikan adalah semua senjata bagi kita untuk mampu mengalahkan setiap situasi dan berdampak bagi orang di sekeliling kita.
Seharusnya saat seseorang bergumul, ia bukan bergumul dengan masalahnya sendiri. Dalam Kolose 1:28-29, Rasul Paulus berkata bahwa apa yang ia pergumulkan adalah untuk menuntun tiap-tiap orang kepada kesempurnaan di dalam Kristus. Setiap permasalahan kita telah ikut dikalahkan dalam penebusan Yesus di atas kayu salib. Oleh karena itu, yang seharusnya menjadi pergumulan kita bukanlah diri sendiri, tetapi orang lain. Dalam bahasa aslinya, bergumul selalu diibaratkan seperti berkompetisi, sedangkan memimpin diibaratkan seperti mengantarkan seseorang kepada Mempelai. Kita memiliki tugas (kompetisi) untuk membuat orang lain menjadi sempurna (dalam bahasa aslinya Teleios yang berarti kesempurnaan yang utuh dalam segala hal). Karena hanya dengan kesempurnaan (kedewasaan) maka seseorang layak menjadi mempelai Kristus. Efesus 4:11 berkata,
Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.
Sebuah bentuk karunia lain (Karunia Jawatan) juga diberikan kepada kita. Karunia adalah kemampuan (keunggulan) yang Allah berikan. Tujuannya adalah untuk membangun tubuh Kristus. Dan sekali lagi dijelaskan bahwa karunia tersebut untuk membuat semua orang mencapai kedewasaan (sempurna). Namun bedanya, pengejaran seseorang akan kesempurnaan tidak dicapai dengan ‘mencari ilmu’ (seperti murid perguruan silat yang mencari ilmu dengan berlatih dan bertapa untuk kepentingan/keahliannya sendiri), tetapi proses menuju kesempurnaan ini didapatkan dari apa yang ia lakukan terhadap orang lain.
Selama seseorang tidak keluar dari pemahamannya yang egois bahwa dirinya adalah yang terutama, orang tersebut tidak dapat menjadi sempurna (dewasa). Sebab kesempurnaan yang Allah inginkan justru akan terjadi saat seseorang memakai seluruh karunia yang diberikan kepadanya untuk kepentingan orang lain. Dan karunia yang diberikan oleh Allah tidak hanya berbicara tentang keahlian saja (seperti yang dijabarkan di atas), tetapi juga seluruh berkat Allah, mulai dari materi, keuangan, kesehatan, waktu, tenaga, dan lainnya.
Dan secara tidak sadar, saat seseorang terus berdampak bagi kehidupan orang lain sebenarnya ia sedang menggenapi perintah Allah yang pertama. Dalam Kejadian 1:26, Allah memerintahkan manusia untuk berkuasa. Berkuasa bukan berbicara tentang mendapatkan kekuasaan seperti yang selama ini kita bayangkan. Tetapi justru Tuhan Yesus berkata di Matius 20:25-26,
Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.
Kita berkuasa dengan melayani orang lain. Melayani berarti memberikan segala daya guna kehidupan kita (uang, kesehatan, waktu, tenaga, kepandaian, keterampilan, dan lainnya) untuk orang lain. Hanya dengan itu seseorang akan mendapatkan dan merasakan arti hidupnya (kepenuhan hidup / fullness of life). Namun permasalahannya saat ini justru banyak orang Kristen yang mendapatkan dan merasakan kasih karunia itu tidak melakukan apapun dan membuat sia-sia karunia yang Allah berikan.
Kasih karunia akan termanifestasi dalam hidup kita waktu kita percaya. Kepercayaan kita kepada Tuhan menjadi pemicu semuanya. Namun kita juga harus memiliki kepercayaan bahwa karunia itu telah ada dalam hidup kita. Seluruh karunia yang Allah berikan bertujuan untuk membuat kita berfungsi. Kita memiliki suatu fungsi yang spesifik bagi orang di sekeliling kita. Ada orang yang mahir menasehati, ada yang mahir mengajar, dan sebagainya. Temukanlah fungsimu karena itu yang Allah inginkan. Jangan menyia-nyiakan karunia yang Allah telah berikan (2 Korintus 6:1). Tapi pergunakanlah itu untuk kepentingan orang lain. Dengan itu kita sendiri menjadi dewasa (sempurna) dan layak menjadi mempelai Kristus. Menjadi pahlawan kasih karunia berarti tidak menyia-nyiakan karunia yang Allah berikan itu dan mempergunakannya sesuai apa yang Allah inginkan. Dan yang Allah inginkan adalah agar hidup kita memberkati orang lain, bukan digunakan untuk kepentingan diri kita sendiri.
(Gambar dari wordpress.com)









10 Ciri Visi – The Leipzic Way
[…] Menghidupkan Firman Para Pahlawan Kasih Karunia […]