Tentunya kita sudah sangat sering mendengar kata-kata,
“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” (Matius 5:13)
Kita bukan sedang belajar menjadi garam. Tetapi kita memang sudah menjadi garam. Namun pertanyaannya, atas dasar apa Tuhan Yesus menyatakan hal itu? Apakah menjadi garam memang begitu mudahnya? Agaknya yang Yesus ingin tekankan di sini ialah, terlepas dari apapun yang kita lakukan, maka hidup kita akan selalu ‘mengasini’ kehidupan orang lain, entah dengan benar atau salah. Itulah mengapa Ia juga berkata, “Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?”.
Jika mempelajari tentang fungsi garam, maka setidaknya terdapat dua fungsi terpenting garam, yaitu untuk memberi rasa dan mengawetkan. Dengan adanya garam, sesuatu tidak menjadi hambar, tetapi memiliki suatu rasa yang khas, yaitu asin. Dengan adanya kadar ‘asin’ yang tinggi menyebabkan ketidakmampuan mikroba pengurai untuk hidup, sehingga barang yang diasinkan pasti lebih awet. Maka kedua hal yang unik tersebut harus terpancar dalam kehidupan kita. Yang unik adalah, Tuhan Yesus ternyata membahas tentang kehidupan kita yang dikaitkan dengan garam pula di Markus 9:49,
“Karena setiap orang akan digarami dengan api. Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.” (Terjemahan Baru)
“Everyone’s going through a refining fire sooner or later, but you’ll be well preserved, protected from the eternal flames. Be preservatives yourselves. Preserve the peace.” (The Message, Eugene H. Peterson)
“For everyone will be salted with fire, and every sacrifice will be seasoned with salt. Salt is good, but if the salt has lost its saltiness, with what will you season it? Have salt in yourselves, and be at peace with one another.” (World English Bible)
Mengapa Tuhan Yesus tiba-tiba berbicara tentang hal ini? Rupanya hanya versi WEB yang mencatat bahwa ternyata Yesus sedang berbicara tentang bahwa hidup kita sama seperti korban bakaran yang harus digarami. Hal yang unik lainnya ialah bahwa saat Tuhan Yesus membicarakan tentang garam, Ia selalu juga mengatakan bahwa garam tidak boleh menjadi tawar, karena tidak ada suatu hal pun yang dapat mengasinkan garam. Artinya, jika kita adalah garam, maka tidak ada suatu hal apapun yang sebenarnya dapat menggerakan kita untuk ‘mengasini’ (baca: menjadi dampak) bagi orang lain.
Garam yang menjadi tawar berarti tidak lagi memberikan rasa yang benar (tidak ada rasa asin yang dikeluarkan). Saat kita tidak lagi memberikan dampak yang seharusnya (baca: yang telah didefinisikan/dirancang oleh Tuhan) maka kita sudah menjadi tawar. Menjadi tawar tidak berarti kehilangan dampak. Mungkin kita tetap mempengaruhi hidup orang lain. Tetapi bukan dengan cara yang seharusnya.
Maka kata-kata “dengan apakah kamu diasinkan” berarti tidak ada suatu hal lain yang mampu membuat kita kembali memberikan dampak yang benar. Tapi kemudian Tuhan Yesus menjelaskan sebuah cara yang sangat unik bahwa tiap orang akan ‘digarami dengan api’. Jika kita ‘menggarami’ berarti kita sedang memberikan ‘rasa kita’ (baca: dampak/pengaruh kita) kepada orang lain. Nah, ternyata kita bisa kembali memiliki ‘rasa asin’ (baca: dampak/pengaruh yang benar) dengan cara ‘digarami dengan api’.
Pages: 1 2






Nyanyian Malaikat Saat Natal – The Leipzic Way
[…] telah menyimpan kunci untuk membuat diri kita berkenan kepada Allah. Yaitu dengan hidup berdamai. Blog sebelumnya pun telah membahas hal ini. Jika hal ini diulang-ulang terus oleh Allah, tentunya ini adalah hal yang sangat penting. […]