Semua kita juga tahu bahwa api selalu berbicara tentang pemurnian. Sering kali suatu proses/masalah yang terjadi dalam kehidupan kita diibaratkan sebagai api pemurnian (selain diibaratkan sebagai badai). Hal ini tidak salah. Buktinya dalam versi The Message, digunakan kata ‘refining fire’ yang artinya api pemurnian. Setiap proses yang terjadi dalam kehidupan kita memang bertujuan untuk makin memurnikan diri kita.
Dalam versi WEB dikatakan bahwa kita adalah korban bakaran (sacrifice). Karena kita korban bakaran, maka kita pasti juga asin dan juga dibakar. Dalam Perjanjian Lama kita sering mendengar tentang bau-bauan yang menyenangkan Tuhan. Hidup kita yang menjadi korban adalah sesuatu yang menyenangkan hati Tuhan. Maka, sebenarnya dengan kata lain, Tuhan rindu ‘menikmati’ kehidupan kita. Saat Ia menjumpai hati yang bersih, itu menyenangkan hatiNya.
Pertanyaannya, bagaimana menjadi korban sekaligus menjadi garam? (Bahkan seharusnya, korban pun pasti memiliki ‘rasa asin’ karena ia digarami sebelum dibakar) Maka jawabannya digambarkan dengan sangat baik oleh versi The Message yang mengatakan ‘be preservatives, preserve the peace’ (jadilah pengawet, awetkanlah perdamaian). Mengapa bisa demikian? Sadar atau tidak sadar, setiap kali kita berusaha untuk hidup berdamai dengan orang lain, maka selalu ada korban dari pihak diri kita yang dilakukan, seperti ego, keinginan pribadi, dan sebagainya.
Versi Amplified Bible dengan sangat indah menggambarkannya. “Have salt in yourselves, and be at peace and live in harmony with one another.” Hidup berharmoni dengan orang lain tidak berarti kita harus menjadi sama dengan orang lain. Orkestra adalah gambaran terbaik dari hal ini. Untuk saling berharmoni satu dengan yang lain, suara masing-masing alat musik tidak harus sama, bahkan nada yang dimainkan juga dapat berbeda. Tetapi semuanya dapat menghasilkan harmoni. Harmoni berbicara tentang kehidupan yang saling mendukung, saling melengkapi.
Tidak ada cara lain selain kita mengorbankan sisi kehidupan kita sehingga harmoni dapat tercapai. Misalnya, saat ada sebuah misi bersama, orang lain ingin A, kita ingin B. Maka, memaksakan kehendak bukanlah hal yang bijak. Kepala yang dingin, hati yang tetap lurus dan tidak dikuasai keadaan harus menjadi pegangan kita. Sebelum kita ingin agar kehendak kita dimengerti orang lain, mengertilah terlebih dahulu kehendaknya. Dan ternyata waktu hal itu kita lakukan, hal terbaiklah yang akan tercapai.
Dengan kita berdisiplin diri untuk melakukkannya, maka kita akan terhindar dari berbagai masalah yang tidak perlu. Pilihannya hanya ada dua, antara kita yang mendisiplin diri kita untuk melakukannya, atau keadaanlah yang akan melakukannya bagi kita.
Pages: 1 2






Nyanyian Malaikat Saat Natal – The Leipzic Way
[…] telah menyimpan kunci untuk membuat diri kita berkenan kepada Allah. Yaitu dengan hidup berdamai. Blog sebelumnya pun telah membahas hal ini. Jika hal ini diulang-ulang terus oleh Allah, tentunya ini adalah hal yang sangat penting. […]