Ada banyak lagu yang kita nyanyikan berkata bahwa kita ingin menjadi seperti Yesus. Atau banyak di antara kita yang mengaku mengasihi Yesus. Namun, apa kata Yesus bagi orang yang ingin menjadi seperti diriNya dan mengasihiNya? Yohanes 14:15 berkata, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Bagi Yesus, kasih harus ditunjukkan melalui tindakan. Ia telah memberikan contoh akan hal tersebut selama pelayananNya di muka bumi. Bahkan Yohanes 14:12 berkata, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;” Perkataan ini diucapkan beberapa saat sebelum Yesus menjalankan tugas utamaNya, yaitu untuk menebus dosa manusia. Artinya, ini adalah salah satu pesan terakhirNya kepada murid-muridNya. Ia seperti ingin berkata bahwa “Aku telah menunjukkan kepadamu, bagaimana seharusnya engkau hidup. Lakukanlah segala yang telah Kuperbuat kepadamu kepada orang lain”.
Di seluruh Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB), seringkali Allah memberitahu umatNya untuk melakukan perintahNya. Hal ini bukan untuk kepentingan Allah, namun sebenarnya justru untuk kepentingan manusia. Bacalah Ulangan 28. Di sana terpampang suatu perjanjian antara Allah dan manusia. Ada berkat yang Tuhan janjikan saat manusia melakukan perintahNya.
“Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu: ” (Ulangan 28:1-2)
Intinya tetap sama. Melakukan perintahNya adalah syarat kesuksesan manusia di muka bumi. Sebab kesuksesan adalah mengenai menggenapi rencana Allah atas kehidupan kita. Untuk itulah kita harus melakukan perintahNya. Karena sebenarnya Ia yang mengetahui arah hidup kita, dan Iapun telah memberikan cara untuk menuju ke sana. Itulah FirmanNya. Namun, ada perbedaan mendasar antara melakukan perintahNya pada PL dan PB. Di PL, orang (baca: Bangsa Israel — perjanjian hanya secara khusus milik bangsa Israel) akan melakukan perintahNya karena hanya dua alasan saja. Yang pertama karena mereka takut, yang kedua karena mereka ingin diberkati. Namun, tidak dengan PB. Seharusnya, jika kita melakukan perintahNya, kita melakukannya karena kasih. Perbedaannya terletak pada bahwa kita mengenal siapa Allah kita. Hanya sedikit ‘aktor’ pada PL yang seperti itu (contohnya Daud). Jika kita mengenal Allah kita, dengan senang hati kita akan melakukan apa yang dikatakanNya.
Matius 5:48 berkata “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Mungkinkah kita menjadi sempurna? Jawabannya adalah harus mungkin. Sebab Allah yang memberikan perintah adalah Allah yang Maha Tahu, dan Ia tidak mungkin memberikan suatu perintah yang tidak dapat dilakukan umatNya. Namun pertanyaannya adalah “Menjadi sempurna dalam hal apa?” Jawabannya adalah KASIH! Matius 5:48 diawali dengan kata ‘karena itu’ yang merupakan kata akibat. Jadi pasti ada hal yang menyebabkan perintah itu diberikan. Dua ayat sebelumnya (Matius 5:46-47) menjadi kalimat sebab yang menjelaskan mengapa perintah tersebut diberikan, sekaligus bukti bahwa yang Yesus maksudkan pertama kali tentang kesempurnaan ialah kasih.
Tentulah Ia tidak sembarangan melakukannya. Karena tidak ada identitas yang lebih kuat yang melekat kepada Allah selain ‘Allah adalah Kasih’. Ia bukan memiliki kasih, Ia sendiri adalah kasih. Dan suat kebenaran harus dilakukan selaras dengan kebenaran lain. Jika kita hanya melakukan perintahNya hanya untuk mencari berkat, maka sebenarnya kita tidak sedang melakukan perintahNya dengan benar. Ada ketimpangan yang terjadi. Tuhan Yesus dengan jelas merangkum seluruh hukum dalam kitab Taurat sebagai ‘kasihilah Tuhan Allahmu’ dan ‘kasihilah sesamamu manusia’. Artinya, jika kita mempraktekkan kasih dengan benar dan utuh, maka sebenarnya kita telah secara tidak sadar melakukan segala perintahNya.
Pages: 1 2





