*) Dipublikasikan pada Progress News SMCC Edisi September 2011
Hampir semua peradaban di dunia memiliki ritual khusus bagi seorang anak laki-laki yang mulai menginjak dewasa. Orang Yahudi memiliki tradisi Bar Mitzvah, banyak suku memiliki tradisi mentatoo tubuh (seperti Indian atau Mentawai yang memiliki budaya tattoo tertua di dunia), sedangkan suku Dayak Ngaju memiliki tradisi untuk melukai tubuh menyerupai sisik buaya. Uniknya semua tradisi tersebut disertai dengan adanya wejangan dari orang tua (atau yang dianggap tua) kepada anak-anak tersebut. Wejangan tersebut berisi tentang bagaimana untuk menjadi seorang pria dewasa yang kuat, baik dalam karakter, sikap dan sebagainya. Pada saat Bar Mitzvah bahkan dilakukan pembacaan kitab taurat oleh anak tersebut.
Bagaimana dengan saat ini? Penelitian-penelitian di berbagai bagian di bumi menyatakan bahwa ritual-ritual tersebut hampir punah. Dengan kata lain, proses kedewasaan secara biologis tidak disertai dengan proses pendewasaan secara pola pikir dan karakter. Hal ini terkait dengan kemajuan teknologi, globalisasi dan dinamika kehidupan yang sangat cepat. Artinya orang tua merasa tidak sempat untuk memberikan wejangan-wejangan tersebut sedangkan anak merasa tidak butuh karena merasa sudah tahu bagaimana bersikap.
Hasilnya adalah hilangnya ciri-ciri kepriaan yang seharusnya dimiliki oleh seorang pria. Hal ini disertai dengan gerakan feminisme yang jika diterima secara tidak proporsional mengatakan bahwa pria dan wanita adalah sama. Semua hal tersebut menyebabkan pria setidaknya kehilangan 4 hal yang seharusnya merasuk dalam jiwa mereka.
- Manhood, yaitu sifat atau karakter seorang pria. Pria (seperti dijelaskan pada Progress News sebelumnya), memiliki ihwal yang berbeda dengan wanita. Seluruh perubahan fisik dan karunia lain diberikan untuk membuatnya berkuasa atas lingkungannya.
- Fatherhood, adalah tanggung jawab seorang pria. Seorang pria yang sudah dewasa memiliki tanggung jawab untuk mewariskan seluruh jati dirinya kepada anaknya. Bahkan seorang anak, terutama anak laki-laki akan mewarisi nama ayahnya.
- Brotherhood, berbicara tentang kesetiaan. Di sekolah-sekolah di Amerika, terutama yang berbentuk asrama, terdapat persaudaraan (brotherhood) yang biasanya diwakili dengan huruf-huruf Yunani (misalnya Theta Nu Theta dalam film Stomp The Yard yang dirilis tahun 2007). Persasudaraan tersebut berbicara tentang kesetiaan yang bahkan dibawa sampai mereka lulus. Alumni dari persaudaraan tersebut memiliki tanggung jawab untuk membantu ‘adik-adik’ mereka mulai dari pendanaan sampai jika terjaid suatu masalah.
- Priesthood, berbicara tentang hubungan dengan Tuhan. Dalam konsep imamat di bangsa Israel, seorang imam pasti berbicara tentang pria. Imam adalah pihak yang menjadi perantara antara manusia dengan Tuhan. Tugas utamanya adalah mengadakan perdamaian dan melayakkan umat Israel untuk bertemu dengan Tuhan. Seorang pria harus menjadi perantara bagi sekelilingnya.
Beberapa kata kunci tersebut mulai hilang dari pria-pria modern yang mulai mengandalkan penampilan fisiknya. Mereka lebih memilih berdandan yang rapi, enak dipandang serta memiliki aroma yang harum. Namun percayalah bahwa bukan hal itu yang diinginkan oleh Tuhan dan para wanita. Ada ungkapan yang berkata, “Kesempurnaan seorang pria dan keserupaan dengan Kristus adalah hal yang sama.” Untuk memiliki kepenuhan hidup, seorang pria harus memenuhi panggilan-panggilannya. Tuhan Yesus sendiri dikenal memiliki dua sifat yang menyatu dalam satu kepribadian. Ia dikenal sebagai ‘Lamb of God’ dan ‘Heart of Lion’. Progress news selanjutnya akan membahas hal ini.
“Hampir semua pria dapat bertahan dalam kesengsaraan. Tapi, jika ingin menguji karakternya, beri dia KEKUASAAN“ — Abraham Lincoln







