Apakah anda termasuk orang yang pernah berpikir atau bertanya tentang fungsi dan panggilan anda di bumi ini? Atau justru sebuah pertanyaan dasar tentang mengapa kita hidup dan apa tujuannya? Ada beberapa pola pikir bahwa tempat kita berfungsi adalah di gereja. Di sisi yang lain, ada orang-orang yang merasa bahwa ia tidak dapat melakukan apapun di gereja dan oleh karena itu mereka mengubah fungsi mereka untuk hanya menjadi supporter alias pendukung kegiatan gereja saja, biasanya bersifat dana. Namun, apakah benar bahwa apa yang kita anggap benar ternyata benar? Benarkah bahwa gereja berbeda dengan dunia pekerjaan? Benarkah bahwa apa yang kelihatan ‘sekuler’ tidak bisa disatukan dengan apa yang kelihatan ‘rohani’.
Ternyata semuanya adalah pembedaan yang hanya membuat kita makin tidak dapat berfungsi dengan baik di dalam gereja. Dengan menelusuri akar kata masing-masing, kita akan menemukan kebenaran yang Allah inginkan. Gereja berasal dari kata Ekklesia yang berarti ‘kumpulan orang yang dipanggil dari kegelapan menuju terang’, yang artinya bahwa gereja memiliki makna dasar sebagai kumpulan, bukan gedung, juga bukan kegiatan. Dan yang istimewa dari kumpulan orang-orang ini adalah mereka memiliki perjalanan yang sama, yaitu menuju terang. Tuhan Yesus berkata dalam Matius 5:14, “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.” Artinya kita memiliki tugas untuk menjadi terang, dan ternyata terang yang benar akan selalu menarik orang lain untuk melihatnya.
Apakah waktu Tuhan Yesus mengatakannya Ia sedang berbicara di dalam gedung gereja? Tidak! Ia sedang berbicara di atas bukit, kepada ribuan orang yang berasal dari berbagai latar belakang yang sangat berbeda. Artinya, tugas kita untuk menjadi terang bukan hanya di dalam gereja. Bahkan, bayangkan jika seandainya sebuah terang (misalnya: korek api) menerangi tempat yang sudah terang? Apakah ada bedanya? Bandingkan jika ia menerangi tempat yang gelap. Kita semua dipanggil dalam ladang dan pekerjaan kita. Seperti apa fungsi dan panggilan kita?
Rasul Petrus dengan sangat jelas mengungkapkannya. Petrus yang berarti Petra atau batu karang dikatakan Tuhan Yesus bahwa Ia akan membangun jemaatNya (baca: gerejaNya) di atas batu karang tersebut. Matius 16:18, “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Melalui mandat tersebut, Rasul Petrus dengan sangat kuat berbicara dalam suratnya.
1Petrus 2:9-10, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.”
Kata ekklesia diterjemahkannya pada ayat 10 yang berkata bahwa sekarang kita adalah umat Allah. Apa yang dilakukan oleh umat Allah? Pertama, kita dikukuhkan sebagai ‘imamat yang rajani’. Dalam bahasa Inggris, digunakan kata ‘royal priesthood’ yang artinya agak berbeda dari apa yang mungkin kita pahami tentang imamat yang rajani. Imamat yang rajani tidak berbicara tentang ada dua fungsi yaitu imam dan raja yang kemudian berarti ada orang yang bertugas sebagai imam (biasanya di gereja) dan ada orang yang bertugas sebagai raja (biasanya di lapangan pekerjaan). Tapi, ‘royal priesthood’ berarti ‘imam kerajaan’. Kita memiliki panggilan yang sangat terhormat sebagai imam kerajaan Allah. Imam selalu bertugas sebagai perantara. Jika kita meneliti tentang tugas imam pada Perjanjian Lama, kita akan mengetahui bahwa imam memiliki tugas sebagai perantara antara Tuhan dan bangsa Israel. Bahkan dalam prakteknya, imam akan mengelilingi tabut Allah dan bertugas untuk mengubah kutuk menjadi berkat kepada bangsa. Itulah mengapa imam harus menguduskan diri. Hal ini berarti di manapun kita berada, kita punya tugas untuk membawa setiap orang kembali kepada Allah.
Pages: 1 2






Imamat Rajani Yang Sejati – The Leipzic Way
[…] antara Allah dengan manusia. Lebih jelas dapat dibaca di blog sebelumnya mengenai ‘Menjawab Panggilan Hidup yang Sejati‘. Artinya, setiap usaha dan seluruh hal yang kita lakukan harus terhubung dan mengenai […]