
Kedua, dalam versi Amplified Bible dijelaskan bahwa ‘memberitakan perbuatan’ berarti ‘to show perfections and virtue’. Artinya kita memiliki tugas untuk menunjukkan kesempurnaan, kemahakuasaan, kedahsyatan, kasih Allah beserta segala sifat IllahiNya dalam kehidupan kita. ‘Virtue’ yang berarti kebaikan namun juga berarti perbuatan menunjukkan bahwa kita harus mencerminkan segala perbuatan Allah yang tentunya bersifat maha baik dalam perbuatan kita sehari-hari. Artinya, kita harus melakukan tugas-tugas imam kita bukan di dalam gereja, tetapi justru di dalam kehidupan kita sehari-hari.
Itulah mengapa Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang ‘Orang Samaria Yang Baik Hati’ dalam Lukas 10:25-37. Perikop tersebut diawali dengan pertanyaan tentang bagaimana mendapatkan hidup yang kekal. Tuhan menjawab bahwa syaratnya adalah kasih. Dalam perumpamaan tersebut Ia berkata bahwa justru orang Samaria yang ‘tidak rohani’ justru yang paling bisa menjadi ‘sesama’ untuk orang yang dirampok tersebut. Mengapa? Imam tidak menolong karena ia tidak boleh terkena luka-luka, dan sebagainya karena ia hendak melaksanakan tugas keimamannya. Begitu juga orang lewi terlalu ‘terkekang’ dengan tugas rohaninya. Justru orang Samaria yang justru dipandang dengan sebelah mata, memiliki derajat yang sangat rendahlah yang dapat dengan leluasa menolong. Justru kita dapat menunjukkan kasih dengan sangat bebas pada kehidupan sehari-hari kita, termasuk dalam pekerjaan kita.
Bahkan jika kita melihat bagaimana perjalanan Rasul Paulus dalam memberitakan Injil, kita akan menemukan sesuatu yang sama. Tiap kali ia masuk ke dalam sebuah kota, ia akan menuju sebuah tempat yang bernama Agora. Pada masa itu, Agora adalah pusat dari segalanya. Di sana terjadi transaksi jual beli, tetapi juga ada panggung untuk mengungkapkan sebuah penemuan-penemuan atau keyakinan baru. Dan Rasul Petrus berkotbah di sana. Mengapa tidak di sinagoge?
Karena jelas sekali bahwa Allah berkata dalam Kejadian 1:26 bahwa kita harus berkuasa dan menaklukkan bumi. Kata ‘taklukkan’ mengandung arti ‘dominion’ yang artinya ‘menjadikannya sebagai daerah kekuasaan’. Artinya kita harus menjadikan seluruh bumi sebagai daerah kekuasaan, bukan hanya sekedar di gereja saja. Dengan berada di ‘agora-agora’ kita sedang menjadikan bumi sebagai daerah kekuasaan Allah. Bagaimana caranya? Dengan menjadi ‘royal priesthood’ yang menunjukkan kemahakuasaan Allah dan perbuatanNya dalam kehidupan kita sehari-hari. Itulah artinya menjadi ‘Duta Besar Kerajaan Allah’.
(Gambar dari gstatic.com dan ferdian.web.id)
Pages: 1 2









Imamat Rajani Yang Sejati – The Leipzic Way
[…] antara Allah dengan manusia. Lebih jelas dapat dibaca di blog sebelumnya mengenai ‘Menjawab Panggilan Hidup yang Sejati‘. Artinya, setiap usaha dan seluruh hal yang kita lakukan harus terhubung dan mengenai […]