Kepemimpinan selalu menjadi isu hangat dari masa ke masa. Tanpa pemimpin handal, sebuah organisasi (negara, perusahaan, gereja, keluarga, dll) tidak akan pernah sampai pada tujuan, bahkan cenderung akan berhenti di tengah jalan. Masalahnya, kepemimpinan memiliki batas-masa. Tidak ada pemimpin yang selamanya, bahkan diktator-diktator hebat pun terus berguguran. Di sinilah, suksesi kepemimpinan menjadi krusial dan tidak terelakkan.
Kepemimpinan seseorang baru akan lengkap, saat ia berhasil melahirkan penerus yang melebihi dirinya. Mengapa? Karena pemimpin baru ini akan menghadapi hal-hal yang belum pernah ditemui sebelumnya. Saat Yosua menggantikan Musa, bangsa Israel belum masuk ke tanah Kanaan. Tantangan yang dihadapi di luar dan di dalam Kanaan tentunya berbeda satu dengan yang lain, baik dalam sisi dimensi, tingkat kesulitan, figur musuh, dan lainnya. Itulah mengapa, pemimpin baru tidak bisa seseorang yang merupakan copy-paste dari yang sebelumnya.
Saat ini, kemajuan zaman telah sampai kepada masa dimana tingkat lajunya sudah tak terbendung. Teknologi telah meningkatkan taraf kehidupan manusia sampai tahap yang sulit dibayangkan. Itulah tantangan kepemimpinan ke depan. Apa tuntutan bagi para pemimpin di masa depan? Steve Jobs, seorang visioner kelas dunia berkata, “Innovation distinguishes between a leader and a follower.” Mengapa?
Inovasi adalah kemampuan untuk menciptakan solusi yang relevan dengan zaman. Inovasi memastikan umat manusia untuk dapat menari dengan kehidupan. Inovasi menuntut seseorang untuk memiliki visi dan ide kreatif yang melayang tinggi dan jauh ke depan, tetapi sekaligus tetap membumi untuk dapat diterapkan dalam kehidupan di masa kini. Hanya pemimpin yang mampu berinovasi yang akan menjaga perahu yang dinahkodainya tahan terhadap badai.
1 Petrus 2:9 berkata, “But you are a chosen race, a royal priesthood, a holy nation, a people for his own possession, that you may proclaim the excellencies of him who called you out of darkness into his marvelous light.” Imamat yang Rajani adalah sebuah panggilan untuk menaklukkan bumi (menjadi raja) dalam koridor melekat pada Tuhan (menjadi imam). Hanya dengan tinggal dan melekat pada Sang Pokok Anggurlah (Yohanes 15:4) kita mampu menghasilkan inovasi yang berkualitas (excellent) dan memuliakan Dia. Inovasi yang dilahirkan lewat proses tinggal-melekat denganNya akan tinggal tetap dan terbukti dalam masa dimana segala sesuatunya akan terus diuji.
*) Tulisan dimuat dalam Progress News SMCC, November 2017.








