Yesus berkata bahwa Ia adalah gembala yang baik (Yoh 10:11). Dan kita juga diminta untuk menjadi gembala, jika kita memang mengasihi Dia (Yoh 21:15). Sikap ini adalah bukti dari bahwa kasih kepada Allah selalu tercermin dalam kasih terhadap sesama. Namun bagaimana seorang gembala bersikap? Jika kita memiliki peran sebagai mentor bagi kehidupan seseorang, kita pasti akan menghadapi dilema. Yaitu bagaimana menerapkan kasih dalam hidup mereka. Namun, ada sebuah tuntunan yang cukup baik yang dapat kita gunakan sebagai cerminan.
Daud adalah seorang gembala sebelum ia menjadi raja. Ia tahu benar bagaimana sifat dan hati seorang gembala. Karena itulah ia memiliki sikap hati yang sangat unik kepada Allah yang tidak banyak dimiliki oleh karakter-karakter di Perjanjian Lama. Daud adalah pribadi yang sangat melekat kepada Allah. Meskipun ia memiliki kekurangan-kekurangan, serta ia adalah orang yang cukup tempramental sebenarnya. Terbukti dari mazmur-mazmurnya dimana ia sering mengadu tentang musuh-musuhnya kepada Tuhan.
Tetapi ia adalah pribadi yang selalu mengandalkan Tuhan. Dan itulah yang Tuhan sukai dari kehidupannya. Meskipun ia raja, ia tidak menggunakan segala atribut yang ia miliki untuk melakukan kehendaknya. Terlebih ia mengadu kepada Tuhan dan mencari jawaban kepadaNya. Ia tidak seperti Saul yang tidak bersabar menunggu jawaban Tuhan (sebuah kejadian yang akhirnya dibayar dengan berpindahnya tahta raja dari tangannya). Daud benar-benar tahu bagaimana bersikap kepada Tuhan.
Dalam Mazmur 23, sebuah mazmur yang cukup terkenal, Daud berkata bahwa Tuhan adalah gembalanya. Hal ini membuatnya mendapatkan segala yang terbaik yang ia mampu dapatkan. Ia berkata, “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku”. Ia mendapatkan ‘padang rumput yang hijau’, ‘air yang tenang’, kesegaran, perlindungan, dan seterusnya. Ini adalah hal-hal mendasar yang dibutuhkan seekor domba.
Namun ada satu hal yang unik yang juga ia katakan, yaitu “gadaMu dan tongkatMu itulah yang menghibur aku”. Gada dan tongkat (rod and staff) adalah benda yang tidak pernah lepas dari tangan seorang gembala. Ia berfungsi sebagai alat untuk melawan pemangsa juga untuk mengarahkan domba-dombanya. Benda ini digunakan untuk mendisiplin seekor domba.
Jika kita pernah melihat gambar Yesus sedang menggendong domba, demikianlah sikap seorang gembala. Kita perlu tahu bahwa untuk domba-domba yang nakal, bahkan seorang gembala sampai mematahkan kakinya, dan kemudian ia gendong sampai domba tersebut pulih kembali.
Dalam bersikap sebagai gembala, kita perlu mampu memiliki hati yang kuat. Kasih selalu datang sepaket dengan disiplin. Kasih tidak pernah memanjakan. Tetapi terlalu banyak disiplin akan membuat seseorang menjadi pahit dan berbalik keluar dari otoritas kita. Jika kita adalah orang tua dari seorang anak, kita pasti mengerti maksud dari hal ini.
Allah adalah gembala yang baik, karena Ia adalah kasih. Ia tahu bagaimana menerapkan sifat Maha KasihNya dan Maha AdilNya secara benar dan seimbang. Kematian Yesus di kayu salib adalah buktinya. Kita sebagai cerminanNya juga memiliki potensi untuk seperti itu. Tetapi kita perlu berubah dalam pembaharuan budi (Rom 12:2) dari hari ke hari untuk mencapainya.








