Dalam artikel “Why Google doesn’t care about hiring top college graduates“, Penulis Max Niesen menjabarkan tentang bagaimana sistem penerimaan karyawan baru yang dilakukan oleh Google. Rupanya perusahaan-perusahaan besar berskala Internasional mulai meninggalkan cara-cara lama dalam proses wawancara penerimaan karyawan baru yang berbasis kecerdasan intelektual atau pemetaan karakter dan mulai menggunakan pertanyaan-pertanyaan di luar perkiraan untuk memantik reaksi mereka.
Glassdoor, sebuah website tentang karir yang cukup disegani telah mewawancarai ribuan orang yang baru-baru saja menjalani proses wawancara di perusahaan-perusahaan besar. Dan 10 pertanyaan aneh berikut muncul dalam proses tersebut:
- “Jika anda dapat membuat sebuah parade berbentuk apa saja di kantor Zappos, parade apa yang akan anda buat?” ~ Zappos
- “Seberapa beruntung diri anda dan mengapa?” ~ Airbnb, pertanyaan ditujukan untuk posisi pilot pesawat. (Apakah anda mempunyai pemikiran yang sama dengan saya tentang hal ini?)
- “Jika anda adalah pengantar pizza, bagaimana anda dapat menggunakan gunting untuk membantu pekerjaan anda?” ~ Apple, pertanyaan ditujukan untuk posisi ‘Specialist‘.
- “Apakah anda lebih kepada seorang pemburu (hunter) atau pengumpul (gatherer)?”
- “Jika anda berada pada sebuah pulau dan hanya dapat membawa 3 benda, apa saja yang akan anda bawa?” ~ Yahoo; pertanyaan ditujukan untuk posisi ‘Search Quality Analyst‘.
- “Mengapa bola tenis berbulu?” ~ Xerox; pertanyaan ditujukan untuk posisi ‘Client Manager‘.
- “Hal apa yang paling tidak anda sukai tentang kemanusiaan?” ~ Zoc Doc, sebuah website yang membantu penggunanya untuk menemukan dan mereview dokter.
- “Bagaimana anda menggunakan Yelp untuk menghitung jumlah usaha di Amerika Serikat?” ~ Yelp; pertanyaan ditujukan untuk posisi ‘Software Engineer‘.
- “Apakah anda dapat menginstruksikan seseorang cara membuat origami ‘cootie catcher‘ hanya dengan sebuah kata?” ~ Living Social; pertanyaan ditujukan untuk posisi ‘Consumer Advocate‘.
- “Bagaimana internet bekerja?” ~ Akamai, sebuah perusahaan penyedia cloud computing; pertanyaan ditujukan untuk posisi ‘Director‘.
Cukup gila dan aneh? Kembali kepada Niesen, rupanya perusahaan-perusahaan mulai beralih daripada menanyakan tentang kompetensi bakat dan kemampuan, mereka menanyakan sesuatu yang lebih mendasar dalam diri manusia. Yaitu yang disebut sebagai kemampuan kognitif atau kemampuan belajar, bukan dari hasil belajar.
Perusahaan seperti Google sudah tidak lagi mempedulikan berapa Indeks Prestasi Kumulatif yang seseorang dapatkan waktu kuliah, bahkan mereka tidak mempedulikan lagi apakah seseorang berkuliah atau tidak. Hal ini didasari pada fakta bahwa kebanyakan orang sukses justru tidak berkuliah atau drop out dari kuliah. Sebut saja Bill Gates dan Mark Zuckerberg yang sempat mengenyam pendidikan di universitas nomor wahid di dunia, Harvard. Saya berharap hal ini tidak dijadikan alasan oleh para mahasiswa pemalas, karena faktanya mereka tidak berkuliah atau drop out bukan karena mereka malas.
Niesen berkata bahwa rupanya yang dicari oleh Google adalah yang disebut sebagai ‘intellectual humility‘, yaitu kerendahan hati secara intelektual. Ia mengatakan bahwa orang yang sering menduduki posisi atas di kelas atau yang terlalu sering mendapatkan nilai A adalah orang yang jarang gagal karena kemampuan / bakat intelektualnya. Hal ini membuat mereka jarang ditempa untuk mau belajar ulang. Akhirnya orang-orang seperti ini susah untuk mengikuti sistem perusahaan dan lebih memilih mengikuti prinsip-prinsip yang selama ini ia punya dan terutama ‘keangkuhan’ intelektualnya, bahwa ia pasti mampu mengerjakan sesuatu menurut caranya sendiri.
Sebaliknya, orang yang dianggap ‘bodoh’ karena tidak berkuliah atau jarang mendapat nilai A adalah orang yang lebih mampu belajar sesuatu yang baru karena pola pikirnya bahwa ia ‘bodoh’. Niesen mengatakan bahwa orang pintar jarang belajar bagaimana cara belajar dari kegagalan. Orang pintar akan berkata bahwa jika ia berhasil maka itu karena ia jenius, tetapi kalau gagal itu karena orang lain atau keadaan.
Dalam kesimpulannya, Niesen berkata bahwa yang paling dibutuhkan seseorang bukanlah kemampuannya saat ini, tetapi kemampuannya untuk belajar terus menerus. Dan hanya orang yang rendah hati yang mampu untuk terus belajar. Hal ini mengingatkan dan menjelaskan kepada saya maksud dari salah satu poin dalam Kotbah di Bukit yang Yesus ucapkan.
“Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” ~ Matius 5:5
Rupanya orang yang lemah lembut, yang mungkin merasa ‘bukan siapa-siapa’ adalah orang yang lebih mampu berkuasa di bumi secara natural. Ini memang adalah sebuah sistem yang Tuhan telah ciptakan di muka bumi. Tidak ada pemimpin yang arogan yang dicintai oleh orang lain. Kalaupun mereka mau mengikuti, itu karena mereka takut atau terpaksa. Ada banyak prajurit pada masa pemerintahan Hitler sebenarnya adalah orang Kristen yang tidak setuju dengan pandangannya, namun terpaksa karena posisinya sebagai prajurit.
Sedangkan sebaliknya, jika kita melihat pemimpin yang berjuang untuk rakyat (kita sekarang ‘punya’ Jokowi-Ahok dan Bu Risma), jika ada satu orang saja yang berani macam-macam dengan beliau, maka rakyat akan siap membela. Ini adalah hukum alam dan Yesus telah ajarkan dalam Matius 20:26-27. Bahwa cara memimpin kita harus berkebalikan dengan dunia. Kalau dunia memimpin dengan ‘tangan besi’, maka kita memimpin dengan melayani mereka.
Saya menyadari, saat-saat yang membuat saya paling bersyukur adalah setelah mengalami masalah cukup besar, seperti tembok yang menghalangi saya untuk terus berlari ke depan. Selesai ‘menikmati’ rasa sakitnya, saya selalu menyadari kesalahan dan kebodohan saya dan paling penting menyadari bahwa hanya Tuhan yang paling benar. Hal ini membuat saya belajar untuk belajar kembali dan untuk bangkit. Kerendahan hati bukan milik sekelompok orang, bukan dibedakan oleh peta karakter pribadi seperti koleris-sanguin-plegmatis-melankolis (tempramen) atau dominan-intim-stabil-cermat (DISC), tetapi milik orang yang mau terus belajar dan tidak menganggap dirinya sudah pintar atau hebat.
Saya teringat dengan iklan yang menampilkan tentang promosi. Wakil direktur akan dipromosikan menjadi direktur. Hal ini membuat kata wakil menunjukkan posisi yang selalu lebih rendah dari kata yang mengikutinya. Jika kata ‘wakil’ tersebut dihilangkan, maka ia akan promosi (naik tingkat). Namun, pada konsep wakil rakyat, jika kita hilangkan kata ‘wakil’ di sana, apa yang akan terjadi? Artinya, seorang wakil rakyat punya posisi lebih rendah daripada rakyatnya dan seharusnya sadar akan posisinya tersebut dan menggunakan amanah yang sudah ada dengan cara melayani.
(Gambar dari berbagai sumber)







