Judul ini awalnya merupakan salah satu kalimat yang muncul dalam percakapan sebuah iklan sabun cuci. Kebenaran yang terkandung di dalamnya membuatnya menjadi kalimat yang selalu diingat meskipun iklan tersebut sudah sangat lama tidak tayang lagi. Kebenaran ini sangat relevan dengan kehidupan kita.
Ada golongan orang yang memiliki sifat perfeksionis, termasuk dalam kehidupan. Sebelum memutuskan sesuatu, biasanya ia akan berpikir matang-matang, masak-masak. Alasannya jelas bahwa ia tidak ingin berbuat kesalahan yang jika ditelusuri, maka akarnya adalah sebenarnya ia tidak ingin terjadi kesalahan. Padahal, adalah suatu hal yang jelas bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna di dunia ini.
Tunggu dulu! Bukankah Tuhan ingin agar manusia memiliki kehidupan yang baik? Bahkan Ia menyuruh agar kita memiliki kehidupan yang sempurna (Matius 5:48)? Masalahnya adalah kesempurnaan versi siapa dahulu. Artikel ini mungkin akan membantu pemahaman anda.
Jika kita berkaca ke belakang, dalam kehidupan semua orang, justru masalah adalah hal yang paling sering menjadi faktor pengungkit dalam kehidupan seseorang sehingga ia mengalami pertumbuhan. Tidak jarang, waktu mengalami masalah tersebut ia akan mendapatkan luka batin yang menjadi noda kehidupan. Jika anda sedang berjuang dalam hal ini, mungkin pengertian-pengertian di bawah ini dapat menolong.
- Tidak ada luka yang tidak sembuh, kecuali kita ungkit terus. Semua masalah akan selesai seiring dengan berjalannya waktu. Gunakan pola pikir ini untuk menolong anda untuk terus bertahan, tidak peduli peliknya masalah anda. Tinggal masalahnya kapan itu akan selesai? Saya pikir, sebagian besar masalah akan selesai seiring dengan keputusan kita untuk berdamai dengan diri kita dan memutuskan untuk menerimanya serta mencari hikmah di baliknya.
- Mungkin meninggalkan bekas. Sama seperti noda atau luka di tubuh, masalah mungkin meninggalkan noda. Tidak semua hal dapat kita perbaiki sampai tak bersisa. Namun, ada banyak hal di dunia ini yang justru menjadi baik justru setelah terkena ‘musibah’. Badai yang terjadi di alam seringkali sebenarnya merupakan sebuah faktor ‘reset‘ sehingga lingkungan yang terdampak memulai segalanya dari awal dan justru akhirnya menjadi lebih indah.
- Awalnya sakit. Percayalah bahwa rasa sakit yang anda alami akan anda rasakan hanya di awal. Seiring dengan sembuhnya luka anda, rasa sakit itu juga akan hilang.
- Membutuhkan bantuan orang lain. Seringkali, saat kita mengalami kejatuhan, maka orang lain adalah pihak yang akan menolong anda. Kita bisa ambil contoh dalam sebuah pertandingan sepakbola. Saat seorang pemain cedera, maka bukan dirinya yang memberikan pertolongan.
- Membuat kita belajar dan jadi bijaksana. Bayangkan sebuah hutan hujan yang mengalami penebangan liar besar-besaran. Apa yang akan terjadi? Banjir! Hampir semua masalah terjadi sebenarnya adalah karena keteledoran kita. Tidak ada manusia yang diciptakan sejak awal sudah sempurna. Ia bertumbuh dan berproses untuk menjadi sempurna. Kebijaksanaan sebenarnya adalah sebuah sistem berpikir yang mampu memprediksi akibat dari hal yang kita (mungkin) akan lakukan. Sistem berpikir ini biasanya baru terbentuk setelah kita punya sebuah pengalaman terhadap hal serupa. Hanya orang bodoh yang jatuh di lubang yang sama berulang-ulang.
Untuk berpikir sebelum mengambil keputusan adalah hal yang baik. Bahkan sebenarnya itulah inti dari kebijaksanaan. Namun berpikir terlalu lama karena takut salah adalah sebuah blunder yang sebenarnya merusak ritme pertumbuhan anda. Selamat berjuang!
Learn the unforced rhythms of grace. I won’t lay anything heavy or ill-fitting on you. Keep company with me and you’ll learn to live freely and lightly. ~ Matius 11:29 versi The Message
(Gambar dari berbagai sumber)






