Pengenalan yang salah akan mengakibatkan tindakan yang salah. Ada berapa banyak orang yang salah mengenal Tuhan sehingga mengakibatkan kesalahan pola pikir dan selanjutnya mengakibatkan kesalahan pengambilan keputusan. Cara memandang yang salah akan membuat seseorang mengambil asumsi (yang biasanya salah). Begitu juga dengan Tuhan.
Ada banyak sebutan yang dialamatkan kepada Tuhan. Ia dikenal sebagai Sang Maha Kuasa, Maha Adil, Sang Penyembuh, Penasihat Ajaib, dan lain-lainnya. Sebutan-sebutan itu secara tidak sadar membangun asumsi dalam hidup kita tentang siapa Tuhan.
Bagi bangsa Israel, Ia menyatakan dirinya sebagai, “Aku adalah Aku”, sebuah pribadi yang begitu absolut, tidak terbantahkan. Namun sebenarnya dibalik kata itu, Ia ingin berkata bahwa Ia adalah pribadi yang unik. Ia berbeda dari semua hal yang dapat kita kenali di dunia. Itulah sebabnya Ia tidak suka ada benda apapun yang menggambarkan tentang Dia (patung, lukisan, atau apapun; Sepuluh Perintah Allah).
‘Tuhan’ sendiri dalam bahasa Inggris menggunakan kata ‘Lord’, sesuai dengan kata Yunaninya, yaitu ‘Kurios’ yang kira-kira berarti ‘Penguasa Tunggal’. Arti yang kira-kira sama diberikan oleh kata ‘Yahweh’ yang merupakan kata yang begitu sakral bagi bangsa Ibrani, bahkan (tidak boleh) untuk diucapkan. Hal ini rupanya tidak dapat disangkal telah menjangkar dalam pemahaman sebagian besar orang Kristen yang jika tidak diseimbangkan akan selamanya menjadi penghambat dalam kehidupannya.
Betapa pentingnya pengenalan yang benar ini sehingga setidaknya ada 3 hal utama, seperti yang disebutkan oleh Rasul Petrus (2 Petrus 1:2-3) dalam kehidupan kerohanian yang akan terganggu,
- Tidak dapat menikmati kasih karunia dan damai sejahtera yang Tuhan anugerahkan.
- Tidak dapat hidup saleh.
- Tidak mampu memiliki gaya hidup illahi.
Bukankah hal-hal tersebut adalah medan pergumulan kita dari hari ke hari? Dengan jelas Rasul Petrus menjelaskan bahwa kita akan mendapatkan ketiga hal tersebut jika kita mengenal Allah dan Yesus yang merupakan Tuhan kita. Lalu bagaimana seharusnya kita mengenal Tuhan?
Jika kita pelajari kembali Alkitab dengan lebih seksama, maka ada sebuah kesimpulan bahwa memang benar Allah memiliki banyak julukan, semuanya mulia dan layak Ia sandang. Namun, jika kita bertanya kepadaNya, julukan apa yang Ia pilih sebagai julukan utama atau bagaimana seharusnya seseorang mengenal hal yang paling utama dari diriNya, maka Ia akan memilih satu kata, yaitu ‘Bapa’.
Yesus menyatakan Allah sebagai BapaNya, yang memang dengan jelas ternyata tidak dikenal oleh orang Israel (Yohanes 8). Dan jalan untuk mengenal Bapa adalah melalui pengenalan akan Yesus. Seluruh pekerjaan Yesus adalah melakukan kehendak BapaNya (Yohanes 4:34).
Mengapa ‘bapa’? Mungkin berikut adalah beberapa hal utama mengenai bapa sehingga Allah memilihnya untuk mewakili diriNya.
- Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8), dan Ia ingin melimpahi kita dengan kasihNya (1 Yohanes 3:1). Dan hanya satu figur yang mampu mewakili kasih, yaitu figur bapa. Kasih sejatinya telah menjadi teladan utama yang Allah ingin kita kenal sebagai umatNya, bahkan dapat dikatakan bahwa Ia lebih ingin dikenal sebagai kasih daripada ‘adil’, ‘kuasa’, dan sebagainya.
- Kata bapa dalam bahasa aslinya berarti ‘sumber’. Konsep sumber berarti apa yang keluar semuanya berasal dari sumber tersebut. Ia ingin agar hidup kita bersumber kepadaNya dan mencerminkan sifat-sifatNya. Itulah mengapa Yesus dengan sangat tegas memerintahkan murid-muridNya untuk mengasihi (Yohanes 15).
- Hubungan bapa dan anak adalah hubungan yang menghasilkan kehidupan. Kejadian 1:26 berkata bahwa cara agar manusia dapat berkuasa adalah dengan ‘beranakcucu’. Maleakhi 4:5-6 juga berkata bahwa jika hati bapa tidak berbalik kepada anak (dan sebaliknya) maka bumi akan musnah (dengan kutuk dan tulah), artinya kelangsungan bumi ini tergantung dari hubungan bapa dan anak. Fokus pekerjaan Yesus sendiri adalah ‘menjadi bapa’ bagi murid-muridNya.
Seharusnya kita tidak sungkan lagi untuk memanggil dan memperkenalkanNya sebagai Bapa kita. Karena dengan atributNya sebagai Bapa kita, seluruh atribut lain akan secara otomatis juga melekat dan terjadi dalam kehidupan kita dimana Ia akan menjadi Pembela kita, Penasihat kita, Gembala yang baik, dan sebagainya.






