(Guest post by Gheeto T.W. / arahbola.org)
Jika perjalanan hidup kita semakin tinggi, besar dan melebar, tetapi tidak menerobos menuju visi yang Allah kehendaki, kita sedang gagal di tengah kesuksesan semu.
Kita sibuk dan bergiat, bahkan memeroleh banyak keuntungan tetapi tak mencapai sasaran.
Seseorang yang menerobos berpikir lebih jauh dan bertindak lebih berani. Dianggap gila di era hidupnya, kesepian di dalam kemajuan. Ditantang dan ditentang, namun malah tertantang. Namun itulah cara kerja iman. Sebut saja, Nuh, Abraham, Musa, Petrus, dan tentu Yesus itu sendiri.
Dalam sejarah ada nama Leonardo da Vinci. Ia memikirkan pesawat terbang, 500 tahun sebelum penerbangan pesawat benar-benar terjadi. Hidup yang digerakkan visi terlalu sering membuat kita merasa sepi. Tidak ada bukti, karena buktinya masih di dalam hati dan menjadi rahasia ilahi.
Well, tidak ada pilihan selain menjalaninya sendirian, walau disingkirkan sanak dan teman. Satu keluarga bisa “beda keyakinan”. Diremehkan dan dianggap ganjalan. Menjalani kekinian dengan pandangan masa depan. Tidak realistis, berbau mistis, dicerca sikap pesimis. Cuma seorangan saja yang optimis.
Judi dan beriman bisa sangat mirip. Sama-sama nampak optimis. Namun judi adalah sebuah pertaruhan. Sedangkan iman selalu diawali dengan panggilan. Judi fokusnya pada keuntungan. Iman menuju pada kemuliaan Tuhan. Judi membuat kita berjalan di tempat, sedangkan iman selalu melakukan terobosan. Tentu saja, iman sedemikian adalah anugerah Tuhan.
Jika Anda punya panggilan yang kuat, saya haturkan:”Selamat Kesepian!” Tapi jika visi sudah mulai berjalan, carilah teman, pupuklah kepercayaan dan bersama-sama menerobos waktu untuk menggapai tujuan.
Kita ada di dunia bukan kebetulan Dalam arus waktu kita ditempatkan. Jika kita tak melakukan terobosan, waktu akan menjadi pusara, hidup tapi ada dalam kuburan, dan sejarah akan mencatat betapa kuatnya kejahatan, karena kita kalah rajin dibanding setan.
Sejarah bukanlah mengenai masa lalu, namun catatan mengenai masa lalu. Lengkapnya catatan ada di kitab kehidupan milik Tuhan. Namun sejarah telah dijarah dengan serakah. ‘History’ telah berubah menjadi ‘mystory’. Sejarah tidak lagi mencatat tentang Tuhan yang berkarya.
Bukan karna Ia lemah tiada daya, tetapi karena kita anak-anak-Nya tak pernah memiliki iman yang berani untuk menerobos sejarah. Berkarya seadanya, menghitung Senin sampai Minggu semata sebagai rentetan hari yang semu. Lalu jenuh, lalu melampiaskan hasrat mulut, mata, dan kata, lalu lelah. Bangkit dari pembaringan tanpa tahu mau apa.
Mungkin kita hanya sibuk kerja dan bergiat namun tiada melayani. Jangankan melayani Tuhan, manusiapun tidak. Kita takut melayani, karena mengoyak kenyamanan diri. Menikmati diri sendiri lalu menganggapnya sebagai persembahan diri dengan basa basi megah itu,”semua untuk kemuliaan Tuhan” dan ‘tuhan’ itu jangan-jangan si ‘aku’.





