Semua orang yang membaca judul ini pasti merasakan kontradiksi kondisi antar keduanya. Bagaimana kita hidup dalam kesederhanaan tapi dapat merasakan kelimpahan? Jika anda disuruh memilih antara hidup sederhana atau berkelimpahaan, mana yang anda pilih? Tanpa perlu sungkan kita pasti menjawab ingin untuk hidup berkelimpahan. Apakah pemikiran ini salah?
Penelitian mengatakan bahwa manusia didesain sebagai makhluk yang sulit untuk berubah. Contoh, jika kita memasuki suhu suatu ruangan yang panas atau jika kita berolahraga, maka tubuh kita akan mengeluarkan keringat. Keringat tersebut adalah sebuah mekanisme bagi tubuh kita untuk mempertahankan suhu normalnya yang berkisar antara 36.1–37.8 °C. Bayangkan jika karena suhu di dalam tubuh tidak dipertahankan ideal, maka resiko terburuknya adalah kematian (akibat terlalu panas atau hipotermia akibat terlalu dingin).
Dari penelitian ini, kita dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya manusia memiliki mekanisme untuk mempertahankan desain ideal dari kehidupannya. Begitu juga sebenarnya dalam hal rohani. Sebagai contoh, mengenai keinginan kita untuk hidup berkelimpahan (kaya). Saya percaya bahwa manusia didesain untuk hidup kaya, karena Sang Pencipta mereka adalah Allah yang kaya. Sejak awal, manusia diberi perintah untuk menguasai bumi (Kejadian 1:26-28). Tidak mungkin seorang penguasa tidak beraada dalam keadaan yang kaya. Namun, kekayaan seperti apa yang sebenarnya didesain oleh Allah. Kita perlu mencari hal ini di dalam Alkitab. 1 Timotius 6:5b-6 berkata,
…yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan. Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.
(versi Message) They think religion is a way to make a fast buck. A devout life does bring wealth, but it’s the rich simplicity of being yourself before God.
Ternyata konsep kekayaan (keuntungan) bagi Tuhan adalah waktu kita beribadah dengan benar, yaitu saat kita mendedikasikan hidup kita kepada Tuhan dengan cara yang sangat mudah. Cukup dengan menjadi diri kita sendiri di hadapan Tuhan. Sebuah frase yang sangat unik terdapat di sana, yaitu rich simplicity. Keunikannya terletak pada kontradiksinya. Ternyata yang Tuhan inginkan adalah bahwa kita justru kaya dengan hal-hal yang sederhana dalam diri kita.
Wikipedia mengartikan simplicity sebagai keadaan atau kualitas untuk menjadi sederhana. Jadi kita juga harus mahir untuk menjadi sederhana di hadapan Tuhan. Cukup dengan menjadi diri kita sendiri. Di hadapan Tuhan tidak ada topeng apapun yang dapat menutupi wajah kita dan menjadi kamuflase. Yeremia 20:12 berkata bahwa Tuhan melihat dan menguji batin dan hati kita. Jadi seperti yang kita tahu, kita harus kaya dengan kesederhanaan di hadapanNya.
Matius 5 yang berisi kotbah di bukit diawali dengan sembilan ucapan tentang berbahagia. Dalam bahasa aslinya (makarios), bahagia di sini adalah kondisi dimana kita sangat diberkati, hidup kita berkualitas, sebuah kondisi yang sangat dinantikan oleh seluruh manusia. Sembilan kondisi yang ada tersebut sebenarnya adalah syarat agar hidup kita dapat sangat diberkati. Makin banyak yang dapat kita lakukan maka makin diberkatilah kita. Namun dari kesembilan kondisi tersebut, kondisi ‘miskin di hadapan Allah‘ disebutkan pertama. Saya menemukan bahwa ternyata ia diucapkan pertama oleh Yesus bukan karena kebetulan, namun ada alasan di dalamnya. Matius 5:3 berkata,
Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
(versi MSG) You’re blessed when you’re at the end of your rope. With less of you there is more of God and his rule.
Artinya, kita diberkati saat kita sudah tidak punya pengharapan lain selain Allah, karena di situlah Ia akan bergerak dan berkuasa. Sangat penting untuk membiarkan Tuhan yang berkuasa dengan hidup kita. Karena Ialah yang paling tahu yang terbaik bagi kita. Ia adalah Sang Desainer. Kehidupan yang diberkati merupakan kondisi yang sama dengan kehidupan kekal yang dijanjikan dalam Yohanes 3:16. Yesus disalib demi kualitas kehidupan yang demikian dapat terjadi bagi kita.
Namun kita tahu bahwa selama kita masih memiliki kehendak sendiri mengenai bagaimana kita seharusnya hidup, kita tidak akan memiliki kondisi kehidupan yang demikian. Mengapa? Karena kita tidak didesain untuk hidup seperti itu. Kita didesain untuk menjalani hidup seperti kehendak Tuhan. Itulah mengapa saat kita hidup tidak benar, kita tidak berbahagia. Jadi, untuk hidup miskin di hadapan Allah adalah suatu modal penting untuk mengerti syarat-syarat hidup lainnya.
Karena waktu kita miskin di hadapan Allah, berarti kita sudah tidak mempunyai model atau bayangan apapun mengenai bagaimana kehidupan kita seharusnya dijalani dalam versi kita. Karena manusia didesain sebagai makhluk yang sebenarnya sulit untuk berubah, maka ia hampir tidak mungkin untuk mengingkari kodratnya sendiri sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah. Kodrat manusia ialah untuk memenuhi tujuan hidupnya sesuai dengan rencana Allah. Lalu bagaimana untuk dapat hidup sederhana sesuai kehendak Allah yang membuat kita merasa hidup berkelimpahan? Rasul Paulus menjelaskan kepada Timotius dalam 1 Timotius 6:17-19 sebagai berikut.
Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi (versi Message: to do good, to be rich in helping others, to be extravagantly generous) dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya (~ zoe, hidup kekal).
Ternyata hanya dengan memberi dan membagi secara boros (extravagant) seseorang dapat merasakan hidup yang berkelimpahan. Itulah mengapa Yesus berkata bahwa orang kaya susah masuk surga (Lukas 18:25). Karena biasanya, semakin kaya seseorang ia semakin susah melepaskan hartanya. Inilah hal paling penting yang harus kita waspadai. Bahkan Yesus sendiri memerintahkan kita untuk mewaspadai Mamon dan memperhitungkan Mamon sebagai pribadi yang mampu menandingiNya (karena kita disuruh memilih, Matius 6:24, Lukas 16:9-13).
Dengan memberi dan berbagi dengan orang lain, kita mengumpulkan harta di surga. Uniknya, di 1 Timotius 6:20, Rasul Paulus mewanti-wanti Timotius untuk menjaga harta tersebut (versi Message berkata: “And oh, my dear Timothy, guard the treasure you were given! Guard it with your life”). Ternyata harta yang kita kumpulkan itu dapat hilang karena omongan kosong dan tidak suci dan pertentangan-pertentangan yang berasal dari pengetahuan (versi Message berkata: “Avoid the talk-show religion and the practiced confusion of the so-called experts. 21 People caught up in a lot of talk can miss the whole point of faith“).
Artinya kita juga dilarang untuk sebenarnya memaksakan apa yang kita mengerti meskipun mungkin itu adalah sebuah kebenaran. Kebenaran akan selalu menemukan jalan keluarnya dan tampil sebagai kebenaran kalau itu adalah kebenaran yang sejati. Kebenaaran tidak perlu kita bela. Sebenarnya yang kita bela adalah kebenaran kita, dengan kata lain adalah ego kita sendiri. Dengan membela ego kita, maka kita kehilangan makna awal dimana kita sukses karena Tuhan, bukan diri kita sendiri.






