Apakah kita termasuk orang yang bertanya-tanya, bagaimana cara menguasai diri? Bahkan mungkin kita cukup frustrasi dengan bagaimana cara mengalahkan diri kita. Tiap orang memiliki pergumulan sendiri-sendiri. Ada yang susah menguasai diri dalam hal makanan, konyol mungkin tetapi ini fakta. Atau mungkin ada yang bermasalah dengan kemarahan, atau yang lainnya.
Namun sadar atau tidak sadar, makin kita mengetahui kebenaran maka semakin banyak godaan dalam diri kita. Rom 5:18 berkata,
Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah
Rasul Paulus berkata bahwa memang dengan kita mengetahui hukum, maka makin banyak pelanggaran kita. Bahkan ia sendiri berkata bahwa ia juga bergumul dalam hal ini (Rom 7:23). Namun ia juga berkata bahwa bukan berarti kita menyerah dan menyia-nyiakan kasih karunia Allah dengan terus berbuat dosa. Tetapi justru dengan kasih karunialah kita mampu mengalahkan godaan-godaan.
Satu hal yang saya sadari, kita sering susah mengalahkan diri kita karena kita masih sangat bergantung pada perasaan kita. Firman Allah selalu berupa perintah. Artinya adalah untuk dilakukan, bukan untuk dipertimbangkan, apalagi diperdebatkan. Namun, karena perasaan kita itu membuat kita enggan untuk melakukannya.
Masalahnya terletak pada kebiasaan. Tubuh kita akan mengikuti apa yang biasa kita lakukan. Kalau kita biasa hidup enak maka kita akan susah untuk diminta berkorban. Itulah yang mnyebabkan kita susah untuk menguasai diri. Sebenarnya tidak ada rahasia apapun dalam menguasai diri.
Masalah penguasaan diri adalah masalah keputusan. Seharusnya waktu kita sudah memutuskan untuk melakukan suatu hal, maka kita juga memaksa tubuh kita mentaatinya. Derek Prince dalam bukunya mengatakan sebenarnya puasa adalah waktu tubuh kita mengatakan lapar tapi kita mengatakan bahwa ini belum waktunya makan.
Begitu juga penguasaan diri. Saat kita mengetahui kebenaran seharusnya kita mengambil keputusan untuk melakukannya. Dan keputusan itu seharusnya mengalahkan keenganan perasaan kita. Seharusnya semudah itu. Artinya kalau kita sekarang masih bergumul dalam menguasai diri, sebenarnya itu hanyaa masalah latihan saja. Jika kita dalam proses latihan, gagal itu wajar. Jangan frustrasi dan menyerah karena saat kita menyerah, kita menutup kemungkinan untuk kita berhasil. Terus coba karena kita tidak tahu kapan waktunya tiba.
(Gambar dari wordpress.com)






