Tuhan Yesus pernah memberikan perumpamaan tentang benih di Lukas 8. Dari cerita tersebut kita mengetahui bahwa ada empat jenis tanah, yang merupakan perumpamaan hati kita. Tiga kondisi membuat benih tersebut tidak tumbuh atau tumbuh sebentar lalu mati. Pertanyaannya, jika secara sederhana dibagi dalam prosentase, maka peluang agar benih firman dapat tumbuh hanya 25% atau seperempat. Apakah memang sesusah itu? Kedua, bagaimana memiliki kondisi hati yang benar, sehingga firman tersebut tumbuh di tanah yang subur?
Kita semua setuju bahwa apapun kondisinya, tanah tersebut berbicara tentang kondisi hati kita, atau dengan kata lain bagaimana cara kita menerima firman tersebut. Tetapi satu hal yang unik adalah ternyata faktornya tidak hanya berbicara masalah hati kita saja. Mari kita baca ayat tersebut.
Lukas 8:5-15 Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.” Setelah berkata demikian Yesus berseru: “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu. Lalu Ia menjawab: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti. Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.
Tidak semua orang diberikan benih yang sama. Ada yang diberikan benih yang sempurna, berupa rahasia Kerajaan Allah, dan ada yang diberikan dalam bentuk perumpamaan. Rahasia Kerajaan Allah hanya diberikan kepada murid-muridNya, orang-oranag yang menerima warisan kasih karunia Allah. Amsal 25:2 berkata, “Kemuliaan Allah ialah merahasiakan sesuatu, tetapi kemuliaan raja-raja ialah menyelidiki sesuatu.” Jika kepada murid-muridNya diberikan rahasia Kerajaan Allah, tentulah mereka setara dengan raja-raja. Kita percaya bahwa kita adalah murid-murid Kristus berdasarkan kasih karuniaNya. Sedangkan dalam bahasa aslinya, perumpamaan juga diartikan sebagai proverbs, yang kita kenal dalam bahasa Inggris juga berarti Amsal. Dan tentunya kita juga sudah tahu bahwa Amsal termasuk dalam produk Perjanjian Lama yang tidak ada seorangpun yang berhasil melakukannya (Kisah Para Rasul 15:10).
Namun, kita beroleh kasih karunia dalam suatu perjanjian baru untuk dapat mengenalNya dalam keintiman, sesuatu yang tidak pernah dimiliki oleh manusia yang hidup dalam perjanjian yang lama itu. Ibrani 8:11 berkata, “Dan mereka tidak akan mengajar lagi sesama warganya, atau sesama saudaranya dengan mengatakan: Kenallah Tuhan! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku.” Kata ‘akan mengenal aku’ di sini berasal dari kata eido yang berarti pengenalan secara penuh (tanpa ditutup-tutupi) dan intuitif. Jika dahulu bangsa Israel harus mengajarkan Taurat secara turun temurun, tidak dengan Perjanjian Baru, karena Allah sendiri ada dalam hati mereka (ay 10). Kita adalah produk perjanjian baru tersebut.
Jika demikian, bagaimana kita sebagai raja dapat mengerti rahasia-rahasia Kerajaan Allah? Kondisi pertama adalah yang jatuh di jalan raya. Kondisi hati tersebut dalam bahasa aslinya dijelaskan bukan hanya sebagai suatu kata benda yaitu ‘jalanan’, tetapi juga berbicara tentang orang-orang yang sedang melakukan sesuatu atau sedang dalam perjalanan. Artinya, jika kita waktu menerima firman tetapi masih memiliki kesibukan tertentu, akan sangat mudah bagi Iblis untuk mencurinya. Bangsa Yahudi sendiri merenungkan firman dalam bahasa aslinya, higgayown, yang berarti menyanyikan berulang-ulang dalam suatu meditasi yang khusyuk. Mereka mengerti benar harga sebuah firman. Padahal mereka adalah bangsa yang hanya diberikan firman dalam bentuk perumpamaan.
Kondisi kedua adalah yang jatuh di tanah berbatu, dimana benih tidak dapat berakar. Kita semua tahu bahwa akar adalah landasan utama bagi tumbuhan, sama seperti pondasi bagi sebuah bangunan. Pondasi yang kuat dibutuhkan dalam masa pencobaan. Kita sering menyebut masa ini sebagai proses. Tiap manusia akan diproses, terlepas dari apapun yang dia miliki. Dan proses inilah yang akan membuktikan kekuatan bahan pembentuk dari sebuah bangunan. Sebuah proses hanya akan menghasilkan dua hal, antara terbukti kuat atau hancur dan harus dirombak total. Yesus sendiri mengajar kita untuk berdoa supaya kita diluputkan dari pencobaan.
Kondisi ketiga adalah yang jatuh di semak duri. Jika kita cermati, kondisi-kondisi ini melambangkan tingkatan kekristenan. Awalnya adalah firman yang jatuh di hati orang yang masih mencari-cari dasar kebenaran yaitu orang yang belum bertobat. Kemudian ada yang jatuh di hati orang yang sudah menemukan dasar tersebut tetapi tidak kuat. Kemudian yang ketiga adalah kondisi yang kebanyakan orang Kristen miliki. Yaitu firman yang terhimpit oleh kekuatiran, kekayaan dan kenikmatan hidup. Mereka adalah orang-orang yang masih memilih untuk mengutamakan kepentingan pribadinya dan menjadikan Tuhan sebagai alat pemuas kebutuhannya, bukan tujuan utama. Orang Kristen model ini bukannya tidak bertumbuh, tetapi tidak menghasilkan buah yang matang. Buah tidak pernah dinikmati oleh pohon tersebut. Buah pasti dinikmati pihak lain. Tetapi jika buah tersebut tidak matang, maka entah jika dimakan oleh orang lain maka akan terasa kecut atau jika jatuh ke tanah tidak akan menghasilkan pohon yang baru.
Namun yang dapat berbuah adalah orang yang menyimpan firman tersebut dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan. Ada dua hal yang dilakukan yaitu menyimpan dan mengeluarkan buah dalam ketekunan. Menyimpan dalam bahasa aslinya katecho berarti memiliki, memegang secara erat, mengingat-ingat, mempertahankan. Buah dapat dihasilkan dari pohon yang menyimpan sari-sari makanannya. Selanjutnya, ternyata tidak cukup hanya menghasilkan buah, tetapi harus dalam ketekunan yang dalam bahasa aslinya berarti melakukan sesuatu secara konstan.
Selanjutnya Tuhan Yesus berkata pada ayat ke-18, “Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya”. Seberapa banyak kita diberi tergantung dari penerimaan kita. Jika kita mengaku sebagai umat yang sudah ditebus, seharusnya benih yang kita terima adalah benih yang terbaik. Jangan sampai kita tidak dapat menerima firman Allah dan menghidupkannya dalam kehidupan kita.
Yang saya bicarakan bukanlah bahwa kita harus sudah mampu melakukannya secara sempurna. Namun, kita harus memiliki hati untuk terus ingin diproses. Sama seperti keinginan Tuhan untuk kita terus bertumbuh. Dari seluruh perintah Allah yang tercantum dalam Perjanjian Baru sebagian besar ditujukan kepada orang dengan tingkat kerohanian yang sudah dewasa, terutama kepada orang-orang yang sudah memiliki kualitas sebagai bapa rohani.
Yesus sangat serius dengan hal ini. Ppada ayat ke-21, Yesus berkata bahwa ibu dan saudaraNya adalah orang yang mendengar dan melakukan firman Allah. Karena Allah tidak pernah menginginkan kita berhenti hanya menerima firman tersebut untuk kita manfaatkan bagi diri kita sendiri. Firman tersebut harus menjadi sesuatu yang berguna bagi orang lain. Sama seperti pohon yang berbuah hanya demi keuntungan orang lain. Jika kita ingin menghidupkan firman Allah, kita harus mampu melakukannya demi kepentingan orang lain.
(Gambar dari berbagai sumber)





