![]()
*) Dipublikasikan pada Progress News SMCC Edisi April 2012
Menikah merupakan salah satu hal terpenting dalam hidup manusia. Ada yang merencanakan untuk menikah setelah mapan. Namun tidak sedikit yang memutuskan di usia muda. Semua memiliki alasan yang kuat untuk bersatu dengan belahan jiwanya. Dengan menikah, seseorang berharap untuk menjadi utuh secara pribadi.
Kita tentu sudah mengerti bahwa pernikahan adalah rancangan Tuhan (Kej 2:18). Namun, di balik segala keindahan yang dibayangkan, ada beberapa hal yang harus kita mengerti tentang rancangan Tuhan di balik bersatunya laki-laki dan perempuan (Kej 2:24). Mari kita baca baik-baik kronologis bagaimana Tuhan merancangkan momen persatuan tersebut.
Pertama, sebelum semuanya terjadi, Allah telah mempersiapkan semuanya. Sebelum Ia membentuk Adam dan memberi nafas hidup, Ia menciptakan terlebih dahulu sistem pendukung kehidupan baginya (Kej 1:1-2a, Kej 2:4-7). Artinya, Allah tidak sedang main-main dengan manusia. BagiNya, manusia adalah proyek terbesar yang Ia yakini secara penuh. Buktinya, Ia tidak menyerah setelah manusia berdosa (Kej 3:6-7, Rom 3:23), tetapi Ia sendiri yang menjadi solusi atas dosa (Yoh 3:16).
Kedua, wanita diciptakan sebagai penolong yang sepadan. Bahasa aslinya adalah ezer yang berarti aid, helper yaitu penolong. Terjemahan Amplified Bible menggunakan kata suitable (cocok, pantas), adapted (sesuai), complementary (saling mengisi, saling mengimbangi, saling melengkapi) sebagai kata sifatnya. Ketiga sifat tersebut harus ada dalam diri sebuah pasangan. Hal ini berarti mereka berkedudukan sejajar, sama kuat, saling melengkapi.
Yang unik adalah, penggunaan kata companion di beberapa terjemahan seperti The Message. Seperti kita tahu, companion berarti rekan. Companion memiliki kata dasar yang sama dengan kata company yang berarti perusahaan. Artinya, rekanan akan muncul dan baru dibutuhkan jika ada suatu pekerjaan yang dilakukan. Itulah mengapa gambaran mempelai selalu digunakan untuk menggambarkan hubungan antara Kristus dengan jemaat. Sehingga jika seseorang ingin menikah, maka pertanyaan pertama yang harus ditanyakan adalah “Pekerjaan apa yang aku ingin lakukan dengan pasanganku?”.
Demikian juga bagaimana Allah bereaksi dan bekerja. Mari kita baca runtutan Kejadian 2:18-22. Awalnya Allah sendiri yang tahu dan merencanakan bahwa laki-laki harus memiliki penolong (ay 18). Kemudian, hal yang unik yang terjadi adalah ternyata Ia tidak langsung memberikan penolong tersebut. Tetapi Adam disuruh bekerja dengan menamai segala ciptaan Allah tersebut. Hal yang lebih unik lagi, ternyata Adam juga memiliki kerinduan dan kebutuhan yang sama dengan yang Allah rancangkan, dan Ia mencoba untuk mencari pemenuhan kebutuhan tersebut dari hasil pekerjaannya.
Hal ketiga yang harus kita sadari adalah, kadang Allah tidak langsung memberikan apa yang kita butuhkan, tetapi Ia tahu. Yang Ia lakukan adalah memberikan segala macam tanggung jawab bagi kita. Yang kita harus lakukan adalah bertanggung jawab dengan memberikan kinerja yang terbaik. Baru setelah kita berada pada puncak kinerja dan tidak dapat dikembangkan lagi kecuali jika ada penolong, maka Ia memberikan penolong tersebut.
Hal keempat yang kita harus tahu, kadang kita lupa dan terlalu berfokus kepada pekerjaan itu, padahal pekerjaan kita tidak dapat menjadi penolong bagi diri kita. Hanya dengan bersatu dengan penolongnya saja seseorang dapat merasa lengkap.
Hal keenam yang tidak boleh kita lupa, tulang rusuk dalam bahasa aslinya (tsalaw) dapat diartikan sebagai ruangan atau sisi. Dengan ini, Allah ingin agar kita tahu bahwa posisi wanita adalah di sisi kita, dan sebenarnya ia adalah salah satu ruangan dari pribadi kita.
Pria adalah pemegang mandat dari Allah. Mengerjakan tanggung jawab tersebut dengan segenap hati adalah sesuatu yang harus kita hidupi dengan konsisten. Tetapi Ia tidak pernah membiarkan kita sendiri. Pria dan wanita bukan hanya pemegang tampuk pemerintahan terkecil yang Tuhan percayai, tetapi juga adalah bentuk perusahaan terkecil yang ada. Saat kita dapat dipercaya terhadap hal-hal kecil, maka Ia akan mempercayakan kepada kita hal-hal yang lebih besar (Mat 25:21).
“Menjadi laki-laki adalah masalah kelahiran, tetapi menjadi pria sejati adalah masalah pilihan” — Edwin Louis Cole (Bapak Kegerakan Kepriaan)
(Gambar dari berbagai sumber)





