Selamat Natal 2011 dan Tahun Baru 2012! Momen natal selalu menjadi sesuatu yang indah, menarik, agung dan khidmat. Sama seperti waktu Natal pertama kali datang ke dunia. Waktu itu, di padang Efrata malaikat menyanyikan suatu lagu,
“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”
Suatu bait yang dicatat dalam Lukas 2:14. Mungkin kita jarang memperhatikan hal ini. Namun, buat saya, jika para malaikat menyanyikan hal itu, maka setidaknya itu pastilah hal yang penting, atau bahkan itu adalah suatu kebiasaan di Sorga dan suatu kebenaran yang hendak Allah nyatakan.
Pada lagu tersebut, ada 2 pihak yang disebut, yaitu Allah dan manusia. Bagi Allah kemuliaan di tempat yang mahatinggi adalah suatu ganjaran. Suatu hal yang layak Ia dapatkan karena setiap keagungan dan kebesaranNya. Dia layak menerima kemuliaan. Kemuliaan dalam bahasa Yunani disebut ‘Doxa ‘sedangkan pada bahasa Ibrani ‘Kaboth’. Doxa sering dihubungkan dengan kepercayaan umum. Artinya, Ia layak untuk mendapatkan kepercayaan kita sepenuhnya.
Sedangkan untuk pihak kedua, yaitu manusia (yang berkenan kepadaNya) maka kata damai sejahtera lah yang dihubungkan. Jika kita berpikir lebih mendalam, maka hal tersebut adalah sesuatu yang menarik. Mengapa kata damai sejahtera yang muncul? Lagu tersebut setidaknya menjadi suatu panduan bagi kita bahwa “sama seperti kemuliaan adalah bagian Allah, maka damai sejahtera adalah bagian manusia”. Manusia diciptakan untuk menikmati dan menyebarkan damai sejahtera. Dalam bahasa Ibrani, damai sejahtera menggunakan kata ‘Shalom’ yang sering kita dengar tentunya.
Kata ini memiliki tiga arti yaitu peace, completeness dan welfare. Anehnya, Tuhan Yesus memerintahkan manusia untuk menjadi sempurna (Matius 5:48). Kata sempurna di situ menggunakan kata Yunani ‘Teleios’ yang juga berarti completeness. Maka tentulah kita tahu, bahwa sempurna yang diinginkan oleh Allah adalah kesempurnaan (lengkap) di dalam damai sejahtera. Hanya dengan hidup dalam damai sejahtera saja kesempurnaan itu akan muncul.
Kata welfare atau kelimpahan juga sebenarnya adalah kehendak Tuhan untuk manusia nikmati. Bahkan meskipun Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, Allah tidak menghapus tujuanNya untuk membuat manusia menjadi berkelimpahan. Ia hanya membiarkan manusia ‘lebih bersusah payah’ untuk mendapatkannya. Saat Allah menciptakan manusia, Ia ingin agar manusia berkuasa (Kejadian 1:28). Saat Yesus datang, Ia ingin agar damai sejahtera ada. Maka kita tahu bahwa Allah ingin menghadirkan damai sejahtera yang telah lama hilang dalam hidup manusia. Yesus ada untuk menyelesaikan pekerjaan Adam yang gagal ia kerjakan, yaitu menguasai dunia dengan damai sejahtera.
Kelimpahan, kesempurnaan, sama seperti damai sejahtera dan menjadi lengkap adalah hadiah yang manusia bisa dapatkan. Namun, ada satu hal yang harus kita ingat yang merupakan kata kunci. Damai sejahtera hanya diberikan bagi manusia yang berkenan kepadaNya. Tentunya berkenan membuat kita menjadi manusia yang dikhususkan Allah, menjadi milikNya yang berharga. Alkitab telah menyimpan kunci untuk membuat diri kita berkenan kepada Allah. Yaitu dengan hidup berdamai. Blog sebelumnya pun telah membahas hal ini. Jika hal ini diulang-ulang terus oleh Allah, tentunya ini adalah hal yang sangat penting. Pertanyaannya, maukah kita melakukannya?






Lika-liku Si Garam « The Leipzic Way
[…] Nyanyian Malaikat Saat Natal – The Leipzic Way 7 May 2012 at 12:47 […]