Ada sebuah perumpamaan tentang percakapan antara seekor sapi dan seekor babi. Pada suatu hari si sapi mengeluh kepada babi karena dia tiap hari harus bekerja membajak sawah, sedangkan si babi enak-enakan saja terus tidur dan sang petani tidak pernah menyuruhnya bekerja, bahkan makanan yang dihidangkan pun terus tersedia. Belum lagi susunya yang diambil oleh sang petani sehingga jatah susu untuk anak sapi tersebut berkurang.
Namun ternyata suatu hari, si sapi tidak dapat lagi menjumpai babi sahabatnya itu, dan ia tidak pernah lagi dapat melihatnya. Setelah ia bertanya kepada seekor ayam, maka ia mengetahui bahwa si babi sebenarnya telah disembelih untuk diambil dagingnya.
Dari cerita singkat yang kebetulan aku dengarkan dari sebuah radio waktu persiapan ke kantor ini kita dapat mengetahui, bahwa kita sebagai manusia pun memiliki tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Tapi apakah kita mau untuk selalu melakukannya dengan setia, tanpa lelah dan melakukannya untuk Tuhan?
Karena mungkin kita tidak pernah tahu bahwa ada orang lain yang memiliki tugas dan tanggung jawab yang sebenarnya jauh lebih berat dari pada kita dan dia pun tidak pernah mendapatkan balasan yang “sepantasnya”? Sama seperti sapi, mungkin dia berharga saat dia hidup, dan babi baru berharga kalau dia dibunuh dan disembelih. Tapi mungkin mereka tidak pernah mengetahui bahwa ayam jauh lebih sengsara, karena saat hidup, dia harus selalu bekerja, menghasilkan telur dan telurnya pun diambil, bahkan pada saat dia mati pun, dagingnya masih diambil sebagai bahan makanan.
Dari cerita ini, aku sadar bahwa kadang dalam melakukan sebuah pekerjaan, kita masih pilih-pilih, manakah yang menyenangkan kita dan sesuai dengan kehendak kita. Tapi sebenarnya, jika kita mau benar-benar berhasil dalam kehidupan kita ini, satu hal yang harus kita lakukan adalah untuk selalu melakukan kehendak Tuhan dalam kehidupan kita, sehingga bukan hanya kita “terpaksa” mengikuti kehendak Tuhan, tapi justru kita ingin tahu kehendak Tuhan dalam kehidupan kita sehingga kita melakukannya dan menyenangkan hati Tuhan!
Karena satu hal yang aku pahami dan percaya dengan sungguh-sungguh adalah bahwa Tuhan selalu merencanakan hal yang paling baik buat kita, bukan cuma yang baik, justru sering kali kita menganggap apa yang ada di depan mata kita itu adalah hal baik dan kita tidak mau mengikuti jalan Tuhan, dan memilih apa yang baik bagi mata kita. Bukankah apa yang menghalangi kita untuk mendapatkan yang terbaik itu bukan apa yang buruk, tapi justru apa yang kelihatannya baik bagi mata kita?
(taken from my primitive blog at friendster, 03-28-2007 at 11:00 PM)





