Tidak sengaja saya membaca artikel dari saudara sepupu kita tentang Yusuf dan Maria. Di sana disebutkan bahwa ada artikel dari website kita bahwa saat Yusuf memutuskan untuk menjadikan Maria sebagai istri, saat itu Yusuf berumur 90 tahun, dan Maria sendiri berumur 12-14 tahun. Sesuatu yang menggemparkan bagi saya. Saya tidak bilang mereka berbohong, tapi yang saya bingung adalah mengenai sumber dari artikel yang mereka jadikan acuan, saya mempertanyaan keabsahannya. Silakan baca di sini!
Karena memang benar, jika memang artikel itu benar,maka bisa dibilang Yusuf adalah seorang pedofilia, karena menikahi gadis di bawah umur. Tapi di sana mereka menjawab juga bahwa pada masa itu, tidak ada larangan untuk menikahi gadis di bawah umur, jadi mungkin hal ini bukan kegemparan yang utama, meskipun mungkin mereka menulisnya juga untuk membela nabi mereka karena menikahi Aisyah, seorang gadis di bawah umur.
Sebenarnya, bagi saya yang lebih menarik adalah ditemukannya artikel tentang mazhab Sanhedrin, yaitu Yahudi golongan keras yang mengajarkan untuk memperkosa wanita berumur 3 tahun! Ceritanya adalah, katanya, sebenarnya ajaran yang diajarkan Tuhan kepada Musa adalah kitab Taurat, yang berisi 5 kitab, yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan. Namun, selain pada kitab tersebut, terdapat ajaran yang tidak tertulis, yang diajarkan secara oral turun temurun, sehingga pada suatu saat, oleh para imam, mereka merangkum dan menuliskannya ke dalam suatu kitab yang bernama Talmud. Di dalam kitab inilah terdapat perintah, untuk memperkosa gadis berumur 3 tahun yang dilakukan oleh 210.000 pasukan Israel. Silakan baca di sini!
Selain itu di artikel tersebut, juga disebutkan kecaman, terhadap perintah Tuhan untuk membinasakan orang-orang yang mendiami tanah Kanaan, perintah yang terdapat di dalam kitab Bilangan. Kadang saya juga mempertanyakan hal ini. Karena di sana, Tuhan memerintahkan untuk memusnahkan semua orang yang tinggal dari berbagai suku, seperti suku Amalek, suku Hewi, dll. Silakan baca di artikel tersebut.
Disana mereka menyebutkan “sekarang siapa yang terroris?”, dan sebagainya. Hmm.. bagi saya, saya mengangkat tema ini sebagai sebuah keprihatinan kita bersama saja. Pada dasarnya, hal-hal seperti ini bisa terjadi karena kita yang memang saling membenci. Kata toleransi hanya menjadi sebuah kata yang melarang aksi brutal, tapi apakah toleransi itu benar-benar berada di dalam hati kita yang paling dalam?
Buat saya sih, nggak penting, artikel-artikel seperti ini, tidak akan menggoyahkan iman saya. Namun, saya menjadi teringat dengan firman Tuhan kepada Abraham yang kira-kira berbunyi seperti ini: “Keturunannya(Ishak) dan Ismael akan selalu berperang dan tidak akan pernah berdamai”. Jadi wajar saja jika kita mempertanyakan tentang ajaran mereka, dan mereka juga bereaksi tak kalah keras tentang kita. Masalahnya bukan pada siapa yang benar. Tapi kamu, hai orang-orang Kristen, apakah kamu sudah mempraktekkan kasih dalam kehidupanmu?
Hari ini pembacaan Alkitab saya sampai kepada 1 Korintus 12-13. Di sana digambarkan jemaat Korintus yang terpecah karena mempermasalahkan karunia-karunia Roh. Pada intinya, Rasul Paulus hanya menjawab yang kira-kira menurut terjemahan saya adalah, “boleh saja kamu memperdebatkan itu, tapi apakah kamu sudah mengerti hal yang terpenting. Ini lho, saya tunjukkan, bahwa yang lebih penting dari semua itu adalah kasih!”.
Bahkan, saat kita meninggal, saat kita menghadap di takhta Allah yang maha Kuasa, yang saat itu kita hadapi adalah pertanggungjawaban yang Tuhan tanyakan kepada kita. Apa yang telah kita perbuat bagi sesama kita, karena yang Tuhan tanyakan bukan bagaimana kita berbuat untuk diri kita, seberapa banyak kita telah mengembangkan diri kita, tapi apa yang telah kita perbuat bagi sesama kita!
(taken from my primitive blog at friendster, 09-17-2007 at 03:55 AM)





