”Conversation of Redeemer and Redeemed”
Bapa : “Nak, apa yang sedang kamu lakukan?”
Anak : “Aku lagi nonton film. Ini film kesukaanku.”
B : “Oh, ya? Tentang apa?”
A : “Film ini bercerita tentang seorang anak muda yang sedang jatuh cinta, namun dia tidak berani untuk menyatakan perasaannya.”
B : “Lalu, apa yang terjadi di akhir cerita?”
A : “Akhirnya mereka menjadi pasangan yang bahagia. Sebuah akhir yang aku harapkan juga terjadi padaku, karena saat ini aku juga sedang menyukai seseorang.”
B : “Kenapa kamu buru-buru untuk jatuh cinta? Bukankah Aku telah berjanji bahwa nanti kamu akan bertemu dengan pasangan hidupmu?”
A : “Duh, Bapa, Engkau mengganggu konsentrasiku. Biarkanlah aku tenang untuk sejenak. Ini lagi seru-serunya. Lihat, dia sedang menangis, karena melihat orang yang disukainya ternyata jalan dengan orang lain.”
B : “Baiklah, tapi bukankah kamu harus mengerjakan tugas presentasimu?”
A : “Iya, nanti. Tanggung, nih!” (Dengan nada ketus)
…, …, …
Jarumnya yang panjang telah menyentuh puncaknya
Suaranya yang nyaring memangunkan sang anak dari kantuknya
Di dalam kesadarannya, sang anak kembali
Mengumpulkan segala kekuatan, menyelesaikan pekerjaannya
Saat tangan mulai mengetik, sang Bapa memanggil…
B : “Nak, apa yang sedang kamu lakukan?”
A : (Dengan nada mengantuk) “Aku sedang mengerjakan tugasku.
Kan
tadi Bapa sendiri yang bilang.”
B : “Tapi apakah ini tidak terlalu larut?”
A : “Iya, aku tahu, tapi aku harus menyelesaikannya hari ini, karena besok sudah harus aku presentasikan.”
B : “Namun, anakku, aku rindu untuk berbincang denganmu hari ini.”
A : “Tunggulah sampai aku menyelesaikan pekerjaanku ini.”
B : “Baiklah, Aku akan menunggu…”
Sesaat kemudian…
B : “Nak, apa yang sedang kamu lakukan?”
A : “Bapa, tidakkah Kau lihat, aku sedang sibuk.” (Dengan nada tidak sabar, tapi tetap menghormati)
B : “Apakah tidak ada waktu untukKu?”
A : “Tunggu aku menyelesaikan yang satu ini.”
B : “Apakah tidak bisa ditunda?”
A : “Ini sangat penting bagiku.”
B : “Sebentaar, saja…”
A : “Maaf, Bapa, tapi presentasi kali ini sangat menentukan kelulusanku di mata kuliah yang paling kutakuti, aku harus membuatnya dengan sebaik mungkin. Kalau aku sampai gagal pada presentasi kali ini, aku harus mengulang seluruh mata kuliah pada semester mendatang.”
B : “Baiklah…”
Bapa menunggu…
Bagi Dia yang menguasai waktu, rasanya ingin untuk mempercepatnya…
Jelas, bukan pekerjaan yang sulit bagi sang penguasa semesta…
Tapi itu menjadi sulit bagiNya, bagi diriNya yang begitu mengasihi sang anak
A : “Ah, akhirnya, selesai juga.” (Berbicara kepada dirinya sendiri)
A : (Berdoa) “Bapa, aku sudah tidak kuat lagi, besok saja kita ngobrol lagi. Tolong aku supaya besok aku mendapat nilai yang bagus dalam presentasiku. Engkau tahu, bahwa presentasi besok adalah hal yang sangat penting bagi aku. Aku percaya, Tuhan, bahwa Engkau akan menolong aku, karena Engkau mengasihi aku dan akan memberikan yang terbaik bagiku. Karena itu, aku minta agar besok aku dapat melaksanakan presentasiku sebaik mungkin. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa, Amen!”
(Inti doa di atas adalah sang anak hanya berfokus kepada dirinya dan kepentingannya sendiri)
B : “…”
Sang anak pun tertidur…
Di dalam mimpinya, indah angan berada dalam pikirannya
Dia berpikir, dengan segenap kekuatannya
Untuk melakukan tugasnya, dia akan mendapatkan hasil yang setimpal
Nilai yang baik, untuk kerja yang keras
Juga untuk kreativitas, akal budi, kecerdikan,
Kepandaiannya untuk berbicara di depan umum
Dia pikir, sebuah nilai A adalah hal yang wajar bagi orang sekualitas dirinya
B : (Diucapkan dengan nada puitis) “Nak, tidak tahukah kamu… Aku… Aku… Begitu rindu untuk menjumpaimu. Tiap detik Kuciptakan, untuk masa bersamamu. Sebab aku hendak memberkatimu. Melihatmu senang memberi sukacita bagi hatiku. Aku hendak memberi tahumu akan tiap rencanaKu dalam hidupmu. Aku hendak menginstruksikan Mikhael untuk mengawalmu kemanapun Engkau pergi. Aku hendak memberimu kekuatan, sebab Ku tahu engkau lemah. Aku hendak menggapai tanganmu, dan tak sabar diriKu menggendong engkau. Sebab di dalam naunganKu, Ku tahu engkau aman. Hanya dalam rencanaKu engkau akan berhasil. Sebab aku telah merancang segala sesuatunya, seperti tidak pernah dan tidak akan pernah bisa engkau pikirkan, tiap jalanmu adalah keajaiban bagimu dan engkau akan takjub, sehingga tidak satupun kata keluar dari mulutmu.”
B : (Diucapkan seperti percakapan sehari-hari) ”Nak, begitu sayang, engkau tidak mendengarkanku. Engkau telah membuangnya. Pada hari ini juga, Aku hendak mengatakan kepadamu, apa yang harus kau lakukan pada waktu presentasi. Tiap kata telah kurancang, sehingga bukan dengan kekuatanmu kamu akan melakukannya, namun dengan kekuatanKu. Bahkan engkau akan heran dengan setiap kata yang kau ucapkan. Nak, kamu harus bisa percaya kepadaku. Apakah tidak cukup, segala perbuatanKu yang kamu lihat dengan matamu sendiri, apakah hal-hal itu tidak membuatmu percaya bahwa Aku, dan hanya Akulah yang sanggup untuk menolong dirimu? (Tiap adegan yang disebutkan diucapkan dengan sangat pelan dan sangat lirih) Saat engkau berdoa kepadaku minta hikmat untuk mengerjakan soal nomor 4 kemarin lusa? Saat kemarin Aku meloloskan engkau dari racun maut yang terdapat pada makanan yang atasnya, engkau berdoa memintaku menguduskannya? Saat aku memberimu wibawa sehingga kamu dapat memimpin tiap anak HIMAmu? Saat tadi siang aku memperingatkanmu untuk berhenti sehingga kau terhindar dari kecelakaan? (Ini yang paling penting) Saat engkau tidak tahu bagaimana harus menjelaskan pada para MABA mengenai materi tutorial? Engkau telah melewatkan semuanya tanpa arti apa-apa bagimu. (Berhenti sejenak) Selamat tidur, nak…”
(Dengan nada narasi)
Esoknya, sang anak pun presentasi tugas yang telah dipersiapkannya. Namun ternyata karena terlalu lelah, sang anak tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan dengan baik. Apa yang telah dipersiapkan dengan baik, ternyata tidak cukup baik bagi dosen dan mahasiswa lainnya. Banyak celah dalam proyek presentasinya. Sang anak dibuat untuk tidak dapat lagi menangkis setiap pertanyaan yang menyudutkannya.
(Dengan nada puisi)
Kecewa tentunya, segala pengharapan dalam mimpi
Segala keinginan dan asa yang telah dirajutnya
Di pikiran, dirinya bertanya, “Apakah ini mimpi?”
Namun, di dalam kenyataan yang terjadi, dirinya mengetahui
Semua skenario tentang akhir ternyata gagal
Dia pikir segala kemungkinan telah dapat diatasi
Tapi, kenapa yang tidak mungkin yang terjadi?
Dia berjalan dengan lunglai
Kekecewaannya merenggut kekuatan dan keceriaannya
Dan kebanggaan mengenai dirinya sendiri
Telah menempelak dirinya
Bertanya kepada siapa, dirinya tidak tahu
Menyalahkan siapa, dirinya juga tidak tahu
Dalam kesesakannya, sang anak bertanya kepada Bapa
A : (Dengan nada cukup tinggi) “Bapa, kenapa aku gagal? Bukankah aku telah bekerja dengan segenap hatiku. Aku telah mencurahkan segala tenaga yang aku miliki dan aku telah memperhitungkan segala kemungkinan yang ada. (Nada turun) Bukankah aku telah meminta kepadaMu untuk menolong aku? Bukankah Engkau adalah Allah Yang Maha Kuasa? Engkau pasti sanggup untuk membuat pertanyaan-pertanyaan itu tidak ditanyakan. Tapi, kenapa Engkau tidak menolongku? Bukankah Engkau telah menolongku tiap hari? Engkau menolongku waktu aku menjalankan tugasku sebagai astor, Engkau menolongku pada ujianku, Engkau menolongku waktu aku hampir tertabrak, tapi kenapa kali ini Engkau tidak menolong aku? Padahal, bagiku hal ini lebih penting dari hal-hal itu. Apakah Engkau tidak mengasihiku lagi?”
(Sunyi, tidak ada jawaban)
A : “ Bapa, aku hendak percaya kepadaMu dengan segenap hatiku. Namun kenapa Engkau tidak menolongku? Jika Engkau tidak menolongku, bagaimana aku bisa percaya kepadaMu?”
(Sunyi, tidak ada jawaban)
A : (Dengan nada merengek) ”Bapa…”
Akhirnya, Bapa pun menjawab…
B : “Nak, tidak tahukah kamu, Aku sudah mencoba untuk memperingatkanmu. Namun kamu terlalu sibuk dengan dirimu sendiri.”
A : “Tapi bukankah aku memang harus mengerjakan presentasi itu?”
B : ”Yang Kuminta bukanlah satu jam atau dua jam. Aku cuma minta sekedar lima menit dari waktumu. Karena Aku hendak membantumu mengerjakan presentasimu. (Sela) Nak, kamu berkata bahwa kamu hendak percaya kepadaKu? Tapi, kamu mengerjakan tugasmu dengan kekuatanmu sendiri. Bukankah kamu tahu bahwa Aku adalah Allah Yang Maha Kuasa? Apakah arti percaya buatmu? Percaya yang aku inginkan adalah percaya dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”
A : ”Tapi, Bapa. Tetap saja… Kenapa harus mengorbankan kuliahku. Aku harus mengulang mata kuliah ini semester depan. Seharusnya Engkau bisa menegurku dengan cara yang lain…”
B : ”Akulah Allah. Aku bekerja dengan caraKu sendiri yang tidak akan pernah bisa engkau mengerti atau tebak. Aku telah merancang semuanya. Aku tahu bahwa engkau tidak dapat dengan mudah untuk berubah hanya dengan teguran berupa kata-kata. Jika kamu mau untuk mendengarkanku barang sejenak, tentu saja Aku dengan senang hati akan membantumu, memberi hikmat dan pengertian mengenai apa yang harus kamu katakan. Tapi, kamu sendiri kan yang tidak mau untuk mendengarkanku. Nak, kamu harus percaya bahwa Aku mengasihi kamu dan segala yang Aku rencanakan adalah yang terbaik bagimu.”
A : ”Bapa, aku tidak dapat mengerti apa yang hendak Engkau rencanakan. Aku tidak dapat mengerti, sebuah kasih yang dilakukan dengan hukuman, dengan membiarkan orang yang dikasihinya untuk mengalami kegagalan.”
B : ”Akulah Allah yang mengasihi anakNya. Aku mengasihimu dan menentukan setiap jalan yang kamu harus tempuh. Sebab aku telah melihat, jalan itu adalah jalan yang terbaik untuk mencapai tujuan hidupmu.”
A : ”Bapa… Aku telah gagal. Rasanya aku tidak sanggup jika aku harus mengulang… Mata kuliah itu terlalu sulit bagiku…”
B : ”Nah, inilah yang Aku mau. Jika kamu tidak menyerah, Aku tidak akan turun tangan. Namun, jika kamu tidak sanggup, kamu akan belajar untuk melihat keajaibanKu. Kamu akan melihat segala perbuatanKu adalah nyata. Saat ini yang aku minta, percayalah kepadaKu, bukan dengan perkataan saja, namun percayalah kepadaKu dengan segenap apa yang kamu miliki. Percayakan hidupmu kepadaKu…”
A : ”Apa yang aku harus lakukan?”
B : ”Nantikan… Maka kamu akan mendapati, bahwa Aku memberkatimu dengan hal yang tidak pernah kamu pikirkan atau minta. Aku hanya memintamu untuk percaya kepadaKu…”
A : ”Mmmm… Baiklah… Lagipula, tidak ada lagi yang bisa aku lakukan. Aku akan belajar, Bapa… Aku mau belajar untuk mempercayakan segenap kehidupanku. Aku mau belajar untuk berjalan di jalanMu.”
A : (Berdoa) ”Bapa… aku berdoa kepadaMu. Aku menyadari, bahwa aku telah berbuat bodoh. Dari segala firman yang tinggal padaku, aku tidak pernah menyadari sifat-sifatMu. Aku pikir aku telah mengenal Engkau. Dan dengan segala yang aku lakukan untuk melayani Engkau, aku pikir aku telah melakukan kehendakMu. Bapa, tolong aku. Aku tidak sanggup, aku hanya manusia biasa, yang tidak dapat melakukan apapun untuk berjalan menuju keberhasilan. Ajari aku untuk mengerti setiap kehendakMu. Ajari aku untuk tidak bertindak sesuai dengan apa yang aku mau, ajari aku untuk bertindak sesuai dengan apa yang Engkau inginkan. Aku adalah manusia yang lemah, Tuhan. Mulai saat ini, aku berjanji bahwa aku akan menaati apa yang Engkau inginkan. Di dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa, Amin…”
B : ”Nak, itulah yang Aku inginkan. Saat engkau berkata bahwa engkau mampu, maka engkau sedang berjalan dengan kekuatanmu sendiri, namun saat engkau mengaku bahwa engkau tidak mampu, maka Aku akan bekerja di dalam hidupmu dan menjadi Tuhan secara seutuhnya bagimu…
Aku mengasihimu, anakku…”
Made to be presented at CAMP ASTOR 2007. Really, doesn’t it reflects our relationship with God?





