Seperti yang kita semua sudah ketahui, pada 27 Juni 2008, Bill Gates, mantan orang terkaya di dunia sekaligus penemu dan mantan pemilik Microsoft meninggalkan perusahaan yang dibangunnya tersebut. Berita dari detikINet ini cukup menggeggerkan buat aku. Beliau adalah orang yang sangat kukagumi. Banyak hal yang ingin kupelajari dari dirinya. Tapi ternyata ia sudah pensiun, dengan meninggalkan warisan yang telah mengubah dunia. MICROSOFT.
Sungguh hal yang disayangkan, saya kira, pensiun di puncak karirnya. Tapi saya kira, hal ini adalah sebuah hal yang patut dilakukan. Para pelatih tim sepakbola pun biasanya akan resign atau mengundurkan diri pada saat ia telah mencapai puncak karirnya. Terakhir, Marcello Lippi mengundurkan diri setelah membawa Piala Dunia 2008 ke Italia. Kita lihat apa keputusan dari Luis Aragones setelah memberi Piala Eropa ke 2 bagi Spanyol setelah 44 tahun. Ya, saya kira, berhenti di puncak karir adalah keputusan yang pas pada momentum yang pas.
Kenapa aku bilang bahwa Bill Gates berhenti pada puncak karirnya, padahal ia tidak lagi menjadi orang terkaya setelah dikalahkan Warren Buffet, investor dari Amerika Serikat dan seorang taipan asal Meksiko yang saya ingat-ingat lupa namanya? Karena XP yang sebentar lagi tutup usia juga, telah membukukan catatan sebagai OS yang paling laris di dunia dan sepanjang sejarah yang ada. Belum ditambah dengan catatan berapa XP bajakan yang digunakan. Belum lagi inovasi yang ditemukan oleh microsoft, apakah itu .net, silverlight dan yang lainnya. Mereka hanya akan menunggu waktu, saya kira, untuk bisa mengguncangkan dunia.
Namun, yang dapat kita pelajari dari kiprah Bill Gates ini adalah perjalanan karirnya. Seperti dikutip dari detikINet, ternyata Bill Gates adalah seorang idealis yang nekat. Karena merasa idenya tidak digubris oleh Harvard, ia memutuskan untuk drop-out dari kuliahnya dan membuka usaha sendiri. Bersama Paul Allen, konon, ia sampai tidak tidur dan kurang gizi untuk membuat bahasa pemrograman BASIC. Ternyata, seorang nerd — yaitu sebutan yang biasa diberikan kepada orang yang menghabiskan waktunya berkutat pada dunia pemrograman — bisa juga menjadi seorang yang berkemauan keras. Bahkan tidak cuma keras, tapi ia adalah seorang yang NGOTOT.
Sebuah hal yang harus direnungkan buat kita. Untuk mencapai tujuan kita, tidak cukup dengan bermimpi.
- Harus ada yang berani kita korbankan. Bill Gates percaya pada idealismenya (begitu saya sebut, karena pada waktu itu Windows belum ada, tapi ia tahu dan percaya dengan kemampuannya) sehingga ia berani untuk drop-out dari Harvard, universitas nomor satu di dunia. ia begi
- Ia begitu ngotot sehingga ia berhasil untuk meyakinkan IBM untuk ‘memasang’ sistem operasi MS-DOS yang ia buat pada setiap perangkat IBM yang ada.
- Yang terakhir, ternyata ia juga adalah orang yang mau untuk berubah. Ia bahkan mengubah gaya penampilannya menjadi lebih rapi setelah ia tahu bahwa ia akan bertemu dengan orang-orang penting yang akan membantunya untuk mewujudkan impiannya.
Ternyata, ia tidak hanya seorang pengusaha dan pencetak sejarah saja. Ia tahu untuk apa ia hidup, dan inilah yang paling saya kagumi. Melalui yayasan Bill and Mellinda Gates, ia telah menyalurkan bantuan kepada seluruh orang di dunia, sebuah yayasan biasanya hanya beroperasi secara lokal, namun yayasan ini menyalurkan bantuannya secara internasional. Bill Gates tahu bahwa ia tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, tidak hanya bertanggung jawab untuk keluarganya, tapi juga untuk orang lain. Dan memang ia telah mengubah hidup milyaran orang, bukan hanya lewat Microsoft yang telah mempermudah hidup manusia di muka planet ini, tapi juga membantu mereka secara langsung.
Sebuah kehidupan yang patut kita teladani, bukan?





