Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna, ia memiliki sebuah kecenderungan untuk terus berkembang. Itulah sebabnya muncul peradaban, yang merupakan kumpulan dari perkembangan kehidupan manusia. Awalnya manusia hidup nomaden dan berburu binatang, kemudian setelah manusia mengenal pertanian, ia mulai hidup menetap. Setelah itu muncul kota-kota. Dan seterusnya, dan seterusnya.
Namun, di balik kecenderungannya untuk terus berkembang, manusia sering melupakan apa yang telah didapatkan sebelumnya. Jika ada sebuah teknologi baru maka apa yang lama biasanya dibuang. Itulah yang menyebabkan, saat terjadi sebuah masalah, manusia cenderung untuk mencari sebuah resolusi yang mantap, tok-cer, terpercaya, mak-nyus, yang ampuh secara langsung untuk mengatasi masalah tersebut.
Saat ia bertanya kepada pemimpinnya, atau orang yang terpandang, mungkin ia akan diberitahu bahwa solusi dari masalah tersebut sebenarnya adalah sebuah hal yang mudah, simple dan sederhana. Namun, karena kecenderungan manusia tadi, ia menjadi tidak percaya dan menganggap solusi tersebut sebagai sebuah angin lalu.
Akhirnya, ia mencari solusi-solusi yang lain. Muncullah ponari sebagai sebuah jawaban yang begitu dipuja bahkan oleh puluhan ribu orang tiap harinya. Bahkan kaum intelektual pun mencarinya. Ini adalah kutub ekstrim yang satu. Kutub ekstrim yang lain adalah, ia akan mencari suatu cara atau alternatif lain yang kelihatannya sangat canggih atau begitu rumit, yang untuk mengertinya pun mungkin tidak mampu untuk dilakukan.
Padahal, back to the basic adalah jawaban yang sangat ampuh, meskipun itu adalah sebuah hal yang basic. Sakit contohnya. Kita seringkali mencari obat untuk menjadi solusi, padahal pola hidup yang teratur dan olah raga yang cukup adalah sebuah solusi yang sangat basic, namun ampuh. Begitu juga dalam hal kedisiplinan hidup. Kita akan mencari bagaimana cara yang canggih untuk menjadi solusinya, padahal kedisiplinan hidup adalah masalah keputusan tiap waktu, yaitu bagaimana kita bisa mengatakan tidak pada tiap keinginan kita yang tidak pada tempatnya.
Pengalaman pribadiku pun demikian. Akhir-akhir ini aku cukup bermasalah dengan jati diri dan tujuan hidup yang menyebabkan aku jadi kurang bersemangat dalam menghadapi hidup dan seringkali ingin untuk bermain dan mencari hiburan terus menerus. Jiwa yang kekanak-kanakan. Ternyata jawabannya pun cukup mudah. Sebuah jawaban yang tidak ingin aku tulis di sini (kalau mau tahu, Private Message aja ya!!)
Itulah, mungkin “Back to the Basic” bisa jadi solusi yang tepat dan pas bagi kita yang memiliki masalah. Selamat mencoba!!!
(Gambar dari photoshopessentials.com)






mau tau… gimana caranya?