Ternyata aku tidak pernah secara spesifik membahas tentang hal ini. Meskipun post-post sebelumnya kadang menyinggung tentang hal ini, tapi ternyata aku belum pernah berpikir dan merenungkannya. Sampai Budi Utomo, penatua gerejaku berbicara pada kotbahnya.
Kebenarannya adalah, tidak pernah ada orang atau perusahaan yang bertahan hanya karena tujuannya adalah mencari uang. Jika ada, maka perlu dipertanyakan apakah caranya benar-benar bersih? Terkesan naif dan pencuriga sekali, memang, tapi benar adanya. Tiap hal dan tiap orang pasti diuji. Orang yang hanya bertujuan untuk mencari uang akan cenderung mencari cara termudah untuk menggapainya, terutama saat terjadi masalah.
Padahal, kenyataannya, setiap perusahaan yang dibangun, setiap organisasi yang berdiri, selalu bertujuan untuk membentuk orang-orang di dalamnya menjadi lebih baik. Kata memaksimalkan adalah hal yang paling tepat. Artinya, jika dulu bawahan hanya bisa mengerjakan 5 maka sekarang bisa mengerjakan 10. Jika dulu ruang lingkup pekerjaannya hanya 2, sekarang 5. Namun, kata kuncinya berada pada kata “orang lain”.
Ya, sudah terlalu sering aku katakan bahwa kita hidup untuk orang lain. Begitulah mandat Sang Pencipta kita. Namun berapa kali kita mengerti hal ini namun masih terlalu sulit untuk melakukannya? Mengapa? Ego yang besar, itulah jawabannya. Kita masih hidup untuk diri kita sendiri. Begitulah pesan sistem pemikiran kita yang mengakar begitu kuat dalam alam bawah sadar kita.
Namun kebenaran akanlah tetap menjadi kebenaran. Akupun mengalaminya. Kuakui, selama ini aku sudah menjadi melenceng dari jalur yang seharusnya. Aku tidak lagi menjadi orang yang bahkan berpikir untuk orang lain, apalagi mau melakukan sesuatu untuknya. Dan hanya ada 1 jawaban mengapa hal itu bisa terjadi. Pengabdian! Ya, selama seperempat abad hidupku, tidak sekalipun aku pernah belajar tentang pengabdian. Dari dulu aku selalu percaya bahwa hidupku adalah milikku, masa depannya bergantung kepada diriku dan keputusanku. Namun, aku begitu merasa lelah dan lemah mencarinya. Serasa semuanya sia-sia dan tak kunjung mendapatkan titik temu. Sampai aku menyadari hal ini.
Sejak awalnya kita diciptakan oleh Tuhan, dan kita diberi mandat. Hanya saja, aku tidak pernah mengerti arti pengabdian. Konsep dimana Tuhan adalah Penguasa Tunggal (Tuhan – Yun, Kurios yang artinya Penguasa Tunggal) selalu menjadi konsep semata dalam hidupku. Dulu kupikir masalahnya terletak pada jarangnya aku mengalami intervensi-intervensi dan karya-karyaNya dalam hidupku. Tapi ternyata bukan. Tiap hari aku selalu mendapatkannya. Orang yang tidak pernah belajar berjalan tidak akan pernah bisa berlari. Orang yang tidak pernah mengerti arti mengabdi tidak akan mampu untuk konsisten.
Aku menyadari hal ini. Dan aku percaya ini adalah jawaban dan kunci dari apa yang selama ini aku cari. Kita tidak perlu mempelajari dan membahas dalam-dalam arti pengabdian. Pengabdian adalah pengabdian. Artinya, menaruh hidup kita di tangan orang lain dan mempercayainya. Dan kita diciptakan untuk mengabdi kepada Tuhan. Titik! Dan aku memutuskan untuk mulai mempelajarinya dan mempraktekkannya. Kembali kepada dasar akan selalu membuat kita menjadi lebih sejati. Terlalu banyak teori hanya akan membuat kita memiliki terlalu banyak alasan.
(Gambar dari romokoko.com dan rlv.zcache.com)