Mungkin setiap kita sudah terlalu sering mendengarkan, membaca, mengetahui hal ini. Tapi benarkah? Aku sendiri berpikir demikian, sampai aku mengalami banyak hal yang membuat aku berkata tentang diriku, “Ah ternyata aku masih anak bawang, terlalu banyak hal yang masih harus aku pelajari”. Semua orang menginginkan kesuksesan. Tetapi apakah semuanya menghargai proses yang membawanya menuju sukses?
Yehezkiel 47 menjelaskan sesuatu yang cukup lengkap buatku. Ayat ini menceritakan, dari bait suci mengalir sebuah sungai. Di mana semakin jauh air itu mengalir, semakin dalam pula kedalaman sungai itu. Pada alkitab LAI kita, ayat ini dihubungkan dengan Zakharia 14:8, Wahyu 22 dan Yohanes 7:38. Namun, buatku, pasal ini juga mengingatkanku tentang Mazmur 1 dan Wahyu 22 mengingatkanku tentang Kejadian 2:9.
Aku akan coba membuat blog ini menjadi singkat, oleh karena itu, silakan baca dahulu ayat-ayat di atas. Yohanes 7:38-39 menjelaskan bahwa sungai yang dimaksud adalah Roh Kudus, yaitu Roh yang dijanjikan setelah Yesus dimuliakan (Baca Kis 1). Dan di Yehezkiel 47, dikatakan bahwa pada jarak tertentu dari bait suci, ia berada pada keadaan dimana kedalaman air sudah melebihi tinggi tubuhnya, sehingga ia tenggelam. Dan setelah ia keluar dari keadaan seperti itu, ia menjumpai banyak pohon yang tumbuh di samping sungai tersebut. Keadaan ini sama seperti yang dijelaskan pada Zakharia 14:8, dan terutama Wahyu 22, yang secara lebih jelas menggambarkannya (Wahyu 22 adalah pasal terakhir di Alkitab, yang berarti kesudahan dari segalanya, namun juga bisa berarti kekekalan, sebuah kondisi yang sebenarnya Tuhan rencanakan buat manusia).
Bahkan di Wahyu 22, dikatakan bahwa pohon-pohon yang tumbuh di samping sungai itu ialah pohon kehidupan (KJV: Tree of Life). Membingungkan memang, karena di KJV pohon-pohon tersebut dituliskan dengan bentuk tunggal, tidak jamak (bukan Trees of Life). Itulah mengapa aku teringat tentang kisah penciptaan pada Kejadian 2, khususnya ayat 9, dikatakan bahwa Tuhan menciptakan taman di Eden dan ia menumbuhkan segala jenis pohon. Dan di antaranya (aku lebih cenderung menggunakan antara, bukan tengah-tengah seperti ditulis di Alkitab versi Indonesia, karena versi KJV menggunakan kata ‘midst’). Aku mencatat bahwa hanya ada dua kali pohon Kehidupan disebut, yaitu pada kisah penciptaan dan di Wahyu 22 tersebut, di awal Alkitab dan di akhir.
Bukan ingin berlama-lama dengan fakta-fakta yang unik dan membingungkan di Alkitab, tetapi segalanya seperti tersambung. Bahkan pohon yang tertanam di tepi aliran sungai mengingatkanku kepada Mazmur 1. Bahwa orang yang kesukaannya ialah taurat Tuhan dan merenungkannya siang dan malam akan menjadi seperti itu. Jadi jika mengkaitkan Wahyu 22, Kejadian 2 dan Mazmur 1, sekarang kita tahu bahwa pohon yang dimaksud adalah manusia. Bahwa sejak dahulu sampai seterusnya, manusia diciptakan untuk membawa kehidupan untuk orang lain dan bangsa-bangsa (baca Wahyu 22:2). Dan di Mazmur 1, ada 3 kegiatan dalam hidup yang dilakukan, berjalan, berdiri dan duduk, yang memiliki arti tentang keseluruhan hidup manusia.
Orang yang tertanam dekat dengan Roh Kudus dan merenungkan Firman Tuhan, ia akan menjadi Pohon Kehidupan. Namun, satu hal yang harus kita ingat, bahwa pohon ini baru muncul waktu ia tenggelam di dalam sungai, dimana sungai ini berarti Roh Kudus. Kita terlampau sering puas diri saat kita memulai sebuah kehidupan saat teduh, atau mulai mendapatkan sesuatu dari Firman Tuhan. Padahal, mungkin kedalaman kita berpijak barulah semata kaki atau selutut. Kondisi tenggelam adalah kondisi dimana kita tidak bisa lagi berontak terhadap arus air. Artinya, kita tidak lagi memiliki kuasa untuk melawan kehendak Roh Kudus.
Dan aku bisa pastikan bahwa hal ini butuh proses dan ketekunan yang sangat lama. Bagaimana Alkitab mencatat tentang perkara setia ini membuat aku berpikir cukup lama (sebelum akhirnya menuliskannya di blog ini) tentang hal ini. Dan memang setia dalam hal kecil bukanlah hal mudah. Menjadi setia untuk tetap rendah hati, menjadi setia untuk konsisten, menjadi setia terhadap pekerjaan-pekerjaan yang saat ini dipercayakan kepada kita dan melakukan yang terbaik, menjadi setia untuk taat, menjadi setia untuk berintegritas, dan lainnya. Sungguh, aku rasa tidak banyak orang bisa melakukannya. Namun, Tuhan berkata bahwa kesetiaan adalah kunci dari segalanya, terutama bagi orang muda.
2Timotius 2:22 Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.
Bahasa Inggris sangat tepat untuk menggambarkan tentang kesetiaan. Preserverence. Dan ada satu ayat yang bagus untuk menggambarkannya.
Hebrews 10:35-36. Do not throw away your confidence; it will be richly rewarded. You need to persevere so that when you have done the will of God, you will receive what he has promised.
Kesetiaan selalu menghasilkan buah, bahkan secara berkelimpahan. Bukankah itu yang selalu kita cari?








Thanks for shared 🙂 sangat memberkatiku…lagi nyari pengertian tentang Yehezkiel 47 dan ternyata blog ini membahasnya. Gbu
sama-samaa… senang banget bisa memberkati… GBU too…