Hari ini, Indonesia pantas berduka. Sejarah akan mencatat momen kelabu ini, dimana ada seseorang yang telah berbuat kebaikan begitu luar biasa, bukan hanya dikalahkan, tetapi juga dipersalahkan atas sesuatu yang tidak setimpal dengan apa yang dia telah perbuat. Apakah beliau melakukan kesalahan? Itu bisa diperdebatkan. Tergantung dilihat dari sudut pandang yang mana. Tergantung sang pengamat berasal dari golongan apa. Tetapi apakah beliau melakukan hal-hal besar? Apakah beliau telah bekerja dengan luar biasa. Saya rasa, semua orang dengan otak sehat pasti mengakuinya.
Namun, tahukah kita? Bhinneka Tunggal Ika sedang diserang. Ini bukan hanya ujian bagi seorang Basuki Tjahaja Purnama, tetapi Indonesia. Dalam sebuah buku strategi militer kuno, dijelaskan bagaimana mengalahkan musuh yang lebih kuat dari kita. Caranya adalah dengan memecah belah. Ini telah terjadi di Indonesia ratusan tahun lampau.
Donald Trump berhasil memenangkan pemilu dengan cara ini. Ia sebenarnya kalah dalam jumlah suara, tetapi ia menang dalam pemilu. Tentunya ini bisa terjadi karena sistem pemilihan yang berbeda dengan Indonesia. Tetapi di balik itu, Donald Trump benar-benar tahu bagaimana melakukan strategi adu domba.
Ia membuat orang-orang yang memilih lawannya untuk saling tidak percaya satu dengan yang lain. Ia mampu memanfaatkan kelengahan lawannya untuk menimbulkan isu ketidakpercayaan itu menjadi sesuatu yang besar. Saya bukan pemerhati politik, apalagi politik Amerika. Tetapi ini menarik untuk diketahui, karena strategi ini sudah ada sejak sangat lama, dan masih sangat efektif sampai saat ini.
Bagaimana dengan Indonesia? Isunya adalah, untuk mengalahkan Indonesia maka harus terjadi perpecahan. Ataupun kalau tidak terpecah, minimal terjadi pemisahan. Kita boleh sama-sama percaya dengan ideologi Pancasila, tetapi kita juga harus percaya bahwa aku dan kamu berbeda. Saat seseorang mulai merasa suku A dan suku B berbeda, yang satu merasa lebih berhak mendiami Indonesia, saat seseorang merasa bahwa agama A lebih cocok untuk Indonesia, saat itulah strategi tersebut berhasil.
Intinya adalah membuat supaya masing-masing golongan tidak peduli satu dengan yang lain. Apalagi kalau bisa membuatnya saling bermusuhan. Saat A sudah tidak peduli dengan B, maka jika A diserang, maka B tidak akan membantu. Maka dengan itu, tidak perlu mengalahkan negara itu dengan kekuatan besar.
Begitulah dengan Indonesia. Jika mayoritas mulai menyombongkan kekuatannya, massa yang dimilikinya, kemudian minoritas mulai berkata, “Lebih baik urusi urusan masing-masing dan perut masing-masing”, saat itulah maka kebenaran sangat mudah dikalahkan, dan sekali lagi, korupsi mendapat jalan tol untuk bisa terus terjadi dan bernafas.
Pilkada DKI hanyalah sarana untuk mencapai hal yang lebih besar, yaitu Pilpres 2019. Saat golongan minoritas mulai tidak percaya dengan sistem hukum yang ada di Indonesia dan mulai terjadi apatisme di mana-mana, maka kembali yang terjadi adalah Golput merajalela. Saya masih teringat masa-masa dimana jika Golput adalah sebuah Partai, maka sebenarnya partai tersebut yang memenangkan pemilu. Karena angkanya begitu masif.
Sejak munculnya orang-orang yang berani membela kebenaran, tidak peduli suku, agama, ras dan golongannya, tingkat kepercayaan meningkat. Makin lama prosentase golput makin menurun (sekalipun masih banyak). Tingkat kepercayaan juga meningkat dan dapat terlihat jelas dalam bidang ekonomi. Di Ekonomi Makro, salah satu faktor penting adalah kepercayaan. Terbukti, setelah pembacaan vonis hari ini, IHSG merosot.
Apatisme adalah pembunuh bangsa nomor satu. Saat kita apatis, maka sekali lagi mereka akan menang. Mereka yang memanfaatkan hukum yang timpang, mereka yang mengeruk kekayaan bangsa ini, mereka yang berlaku semena-mena demi kepentingan pribadi.
Saat kita berhenti bersuara, maka usaha Pak Ahok akan sia-sia. Jika anda terinspirasi oleh beliau, apalagi mencintainya, hanya ada satu cara. BERTINDAK!
Apa yang dapat dilakukan?
- Terus bersuara dan bersuara. Lawanlah isu-isu yang tidak benar, yang hendak memecah belah bangsa ini. Tahukah Anda, semua berita Hoax yang anda sebarkan merupakan pundi-pundi uang bagi pemasangnya?
- Jangan golput! Serta ajaklah semua orang yang anda kenal untuk memilih orang yang benar.
- Jadilah orang yang membela kebenaran di bidang Anda masing-masing. Seorang Ahok tidak akan cukup mengubah bangsa ini. Bangsa ini butuh hakim yang jujur, yang dapat memberikan vonis dengan waras. Bangsa ini butuh polisi, pengacara, ekonom, politisi, pemimpin, pendidik, dokter, ahli-ahli, yang tidak mementingkan kepentingannya sendiri.
Jika Anda merasa bahwa bangsa ini adalah bangsa yang bodoh, maka Anda termasuk golongan tersebut saat Anda memilih apatis. Kita semua masih numpang makan, tinggal, tidur, hidup di negara ini. Kesejahteraan bangsa ini MEMPENGARUHI kesejahteraan Anda. Masih ingat zaman dimana ngurus apa-apa susah? Slogannya, “Kalau bisa dibuat ribet, kenapa harus dibuat mudah?” Masih ingat zaman dimana kebebasan minoritas terbelenggu? Hak minoritas dilecehkan? Nggak usah berjuang untuk Negara ini. Berjuanglah untuk diri Anda.
Tetapi jika Anda masih memilih apatis, silakan. Itu pilihan Anda. Tapi hanya ada satu jalan keluar. Mulailah mengurus kewarganegaraan lain dan mulailah pindah dari Indonesia. Karena makin banyak orang yang apatis, hidup Anda akan makin tidak baik. Karena ketidakadilan akan makin menggerogoti seluruh sendi-sendi bangsa.
Contoh sederhana, siapa bilang bidang ekonomi dikuasai oleh orang Tionghoa? Tidak juga. Bahkan ada orang Tionghoa sendiri tidak membela orang Tionghoa kok. Yang ia bela adalah orang yang bisa memuluskan jalannya untuk meraup lebih banyak keuntungan. Zaman dahulu, orang kaya menitipkan tangan kanannya untuk masuk dalam pemerintahan. Zaman sekarang, mereka tahu bahwa mereka sendirilah yang harus masuk dalam pemerintahan. Itulah mengapa makin banyak pengusaha yang terjun di bidang politik.
Politik, sekalipun kurang menarik, tetapi kekuatan dan kepentingannya begitu besar. Karena politik menentukan segala-galanya. Keadilan sosial, pendidikan, kesejahteraan, pemerataan, semua diawali dari politik. Kita bisa berkata, politik bukan bidang saya. Tetapi satu hal yang kita butuh sadari. Setiap kita punya urusan dalam bidang ini. Kita punya hak berpolitik. Dan keputusan terbodoh adalah waktu kita menyia-nyiakannya dengan tidak memilih pemimpin kita.
Jika kita berdalih, “Kan tidak ada yang bisa dipilih.” Maka itulah alasannya untuk mulai berdoa bersama saya, supaya Tuhan mengirimkan, mulai menumbuhkan keberanian di hati orang-orang pilihanNya untuk maju. Ahok adalah martir. Sejarah mencatat bahwa martir selalu melahirkan martir baru. Jika Anda bukan orang terpilih itu, minimal berdoalah bagi munculnya orang-orang itu.
Didiklah anak Anda dan ceritakanlah tentang Ahok, sehingga mereka dapat terinspirasi dan memiliki cita-cita untuk berbuat sepertinya di bidang masing-masing. Satu Ahok cukup untuk mengubah Jakarta. Apa yang terjadi jika ada ribuan Ahok? Saatnya bekerja, bukan berdiam!
NB:
Bagi Anda yang merasa kisah ini sudah selesai, Anda salah. Ahok masih mengajukan banding. Di situ, akan dikaji bagaimana keterkaitan sidang dan vonis ini dengan aspek-aspek lain, termasuk kekuatan politik yang mungkin bermain dibaliknya. Bukan tidak mungkin, sutradara-sutradara yang selama ini mengarahkan sandiwara ini dari belakang akan ikut terkuak. Mari terus berdoa!
*) Gambar dari berbagai sumber






