*) Dipublikasikan pada Progress News SMCC Edisi Desember 2015
Jika kita memperhatikan Alkitab, kita akan melihat ada dua babak yang disajikan. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memuat beberapa perbedaan tentang bagaimana Allah membangun hubunganNya dengan manusia. Menarik pula untuk dilihat bahwa kedua perjanjian ini diawali oleh dua Adam, seperti yang ditulis Rasul Paulus di 1 Korintus 15:45.
Perlu diketahui bahwa kedua Adam ini ada dengan satu tujuan yang sama, yaitu berhubungan karib dengan Tuhan. Adam yang pertama ditaruh di Eden yang memiliki arti ‘the spot in God’s presence ’. Begitu juga Adam yang kedua yaitu Yesus, jauh lebih sempurna, Ia adalah Allah itu sendiri.
Terlepas dari sifat keillahianNya, adalah suatu hal yang sangat penting untuk dipelajari, mengapa Adam yang pertama gagal, sedangkan yang kedua berhasil? Rasul Paulus menyebutkan, Adam yang pertama bersifat jasmani sedangkan Yesus bersifat rohani.
Namun apakah Adam begitu duniawi sehingga ia gagal? Bukankah Adam sempat mengalami masa-masa dimana Ia juga bergaul karib dengan Tuhan? Buktinya ia mengenal suara langkah kakiNya (Kejadian 1:8). Para ahli Teologi memprediksi pada waktu ini Adam mengalami momen kekekalan, yaitu ia tidak menjadi tua. Karena umurnya baru dihitung setelah Adam diusir dari taman Eden.
Saat mempelajari perbedaan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, banyak orang merasa ada banyak kebenaran yang sepertinya bertentangan. Contohnya adalah pada waktu Yesus berkata “Kasihilah musuhmu dan berdoalah untuk mereka yang menganiaya kamu”. Padahal Taurat berkata, “Mata ganti mata, gigi ganti gigi”.
Namun satu hal yang saya sadari, Perjanjian Lama selalu menggambarkan bagaimana hidup di luar Tuhan. Sehingga sampai satu titik, seharusnya kita sadar bahwa di luar Tuhan, tidak ada kebebasan. Terdapat 613 perintah dalam Taurat dan ribuan perintah turunan yang membuat kita tidak mungkin luput dari kesalahan. Dari 613 tersebut, 248 merupakan perintah positif (misalnya: haruslah, lakukanlah, dan sebagainya) dan 365 perintah negatif (misalnya: jangan, dan sebagainya).
Jumlah 248 adalah jumlah seluruh tulang dan organ utama dalam tubuh manusia, sedangkan 365 merupakan jumlah hari dalam satu tahun. Artinya, aturan tersebut telah mencakup seluruh sendi kehidupan kita. Dari hal itu kita juga menjadi tahu bahwa tidak ada kedewasaan roh dalam Perjanjian Lama, karena semuanya hanya diukur dari benar atau salah, berdosa atau tidak. Namun di Perjanjian Baru yang ditandai dengan kematian Yesus, hubungan tersebut memiliki taraf yang berbeda. Sesuatu tidak lagi dinilai dari benar atau salahnya, tetapi berkenan atau tidak di hadapan Tuhan.
Kembali pada pertanyaan awal, apa beda Yesus dan Adam? Satu hal yang tidak dapat dipungkiri dari pribadi Yesus adalah fokusNya kepada BapaNya. Fakta bahwa Adam dan Hawa menerima tawaran iblis untuk memakan buah terlarang menandakan bahwa mereka tidak sepenuhnya berfokus pada Tuhan. Sedangkan Yesus, seluruh hidupNya bergantung pada BapaNya (Yohanes 4:34, 5:19). Ia menyembuhkan, mengadakan mujizat, berkeliling, semuanya atas petunjuk Bapa. Fakta bahwa murid-muridNya minta diajari berdoa bukti bahwa Yesus memang sering berdoa.
Banyak dari kita sering secara tidak sadar merasa jika kita sudah dekat dengan Tuhan, maka kita tidak perlu mengembangkan saat-saat hubungan pribadi dengan Tuhan. Atau kita sering mengeluh mengapa begitu susah berdisiplin rohani. Jika kita sering menjadikan kesibukan sebagai alasan untuk tidak berdoa, Yesus menjadikan kesibukan sebagai alasan untuk harus berdoa, karena Ia makin membutuhkan tuntunan BapaNya.
Hubungan dengan Tuhan bukanlah perkara aktifitas apa yang kita lakukan untuk mengekspresikannya, tetapi seberapa sadar kita akan pentingnya, serta seberapa kuat kebergantungan kita akan Dia. Saat kita merasa benar-benar bergantung, kita akan selalu sadar akan kehadiranNya 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Fakta ada 365 perintah negatif (‘jangan’) dalam hukum Taurat membuktikan ada begitu banyak ancaman yang siap menerkam kita jika kita keluar dari hadiratNya.
Pria yang kuat bukanlah pria yang mampu menghadapi segala tantangan dengan kekuatan sendiri, tetapi adalah pria yang dengan segala kerendahan hatinya mengakui bahwa ia tidak mampu dan mengarahkan pandangannya kepada Bapa dan mulai bekerja sesuai dengan petunjukNya sambil berkata, “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”






