Dalam seluruh sejarah kehidupan, manusia selalu berjuang melawan ketidakberdayaan. Hari-hari ini, perjuangan melawan segala bentuk belenggu atas hidup manusia terus dipatahkan. Dengan alasan hak untuk mempertahankan hidup, hak untuk berpendapat, hak untuk hidup layak, dan hak-hak lainnya manusia terus melawan. Manusia memang selalu ingin merasa berdaya. Ia selalu ingin merasa berguna.
Saya teringat momen setelah menyelesaikan wisuda sarjana, saya berkata pada orang tua saya untuk ingin rehat selama 3 bulan. Namun yang terjadi, hanya sekitar 15 hari saya sudah bosan dan memutuskan untuk mencari pekerjaan. Hanya satu alasan dan itu cukup untuk mengawali pengalaman baru saya dalam mengarungi dunia baru yang bernama ‘Dunia Pekerjaan’, yaitu BOSAN!
Waktu mengalaminya, saya tahu dengan jelas bahwa saya merasa sedang tidak berguna dalam hidup ini dan mungkin sedang menyia-nyiakan waktu saya. Salah satu pelajaran utama yang saya dapatkan adalah bahwa manusia memang ditakdirkan untuk bekerja. Kutukan atas Adam bukanlah bahwa dia harus bekerja, karena sebelumnya dia telah bekerja menjadi ‘manajer’ bagi Taman Eden. Kutukannya adalah bahwa ia akan bekerja dengan bersusah payah.
Dengan bekerja saya merasa berdaya. Saya merasa hidup saya berguna. Tidak semata-mata karena uang jika akhirnya sekarang saya menggeluti usaha yang di masa remaja saya bahkan tidak pernah saya bayangkan. Saya pikir saya bukan orang yang suka zona nyaman, namun jika saya tetap berada di bidang ini sampai sekarang, itu karena saya merasa sampai sekarang saya masih merasa berguna di sini. Pekerjaan dari klien selalu saya anggap sebagai ‘Kepercayaan dari Tuhan’.
Namun ada satu hal yang akhir-akhir ini saya pelajari kembali, yaitu tentang kebergantungan kepada Tuhan. Tentu saja orang hanya akan berpikir tentang hal ini jika ia mengalami suatu hal yang akhirnya membuatnya merasa tidak berdaya. Sebenarnya apa yang saya alami bukan masalah yang berat, atau mungkin sebenarnya berat tetapi saya pribadi tidak merasa berat, yang mungkin diakibatkan oleh latihan-latiha kehidupan saya.
Tetapi di awal bagian baru dari kehidupan saya (karena sekarang sudah berkeluarga), saya menghadapi babak-babak baru yang sebelumnya tidak pernah saya alami. Meskipun masih menjalaninya dengan semangat dan perjuangan, tetapi momen-momen yang ada telah membuat saya berpikir dan menyimpulkan dengan jelas tentang suatu hal, yaitu betapa tidak berdayanya saya dan betapa kecilnya saya di hadapan pencipta saya.
Jika dulu manusia ditindas oleh orang lain, maka sekarang ia ditindas oleh ego pribadinya. Itulah yang terus kita alami bukan? Beberapa tulisan saya sebelumnya tentang kejatuhan manusia (1, 2) sudah cukup menjelaskan tentang hal ini. Dengan alasan idealisme orang muda, saya menggebu-gebu mengejar karir dan semua pencapaian-pencapaian yang saya anggap baik. Namun sekarang semuanya menjadi tidak terlalu penting karena makin banyak saya berjuang, makin saya tahu sakitnya benturan akibat salah mengambil jalan, salah bereaksi atau salah timing dalam pengambilan keputusan-keputusan hidup.
Sekarang saya beruntung karena saya merasakan ketidakberdayaan ini di waktu yang relatif lebih muda dari orang lain. Ada banyak orang baru menyadari ketika usianya menjelang akhir. Tentu saya tidak tahu apakah nanti penyakit ‘Egosentris’ ini akan kembali mencuat sehingga saya tidak berani bilang bahwa saya telah menang. Tetapi setidaknya sebuah pola pikir baru telah terbentuk.
Ketidakberdayaan di hadapan Tuhan memang selalu terjadi karena kegagalan. Makin banyak kegagalan, maka makin kita merasa tidak berdaya. Tetapi, tidak banyak yang sadar bahwa mentalitas tidak berdaya ini selalu menjadi awal dari munculnya anugerah yang akhirnya bertindak sebagai pahlawan bagi kehidupan kita. Ayat-ayat di bawah secara jelas mengungkapkan tentang hal ini.
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” ~ Roma 8:28
“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” ~ Filipi 4:13
“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” ~ Yohanes 15:5
Saat ini buku-buku yang bertemakan self-help serta motivator-motivator telah menjadi incaran dari semua orang. Dengan keinginan untuk menjadi makin produktif, makin sukses, makin maksimal dan sebagainya mereka menyerbu. Memang manusia memiliki benih kesuksesan, karena ia memang diciptakan demikian. Namun satu hal yang pasti bahwa manusia hanya bisa sukses saat ia berada dalam tuntunan Illahi.
Semua Pahlawan Iman yang tercatat pada Ibrani 11 memiliki 1 kesamaan. Yaitu mereka taat karena percaya. Ketaatan adalah kunci mujizat dan semua hal besar terjadi dalam hidup kita. Dan semua ketaatan selalu dimulai dari kondisi berserah kepada Tuhan. Berserah berarti percaya, jauh berbeda dari menyerah. Dalam berserah ada pengharapan besar dan tak henti-hentinya. Dan sesungguhnya hanya orang yang berserah yang bisa benar-benar berdoa. Tanpa unsur ini, maka doa kita akan menjadi doa yang arogan di hadapan Tuhan, karena kita hanya akan menuntut dan menyuruh Tuhan untuk melakukan segala hal. Jelas bukan konsep doa yang benar.





