Ada banyak orang merasa lelah, capek dan terkadang putus asa saat menjalani kehidupan mereka. Bahkan kondisi ini juga tidak jarang dialami oleh orang-orang yang sedang melayani Tuhan dalam berbagai bidang, baik di pelayanan mimbar, pelayanan misi, maupun yang lain. Alasannya pun bermacam-macam. Ada yang tertekan dengan kondisi yang ada, atau bahkan ada yang mengatakan bahwa dirinya sudah kehilangan mood.
Rasul Paulus juga adalah orang yang mengalami tekanan yang luar biasa dalam pelayanannya. Dan ini tercermin dalam suratnya yang ke dua kepada jemaat Korintus. Ia mengatakan bahwa mereka ditindas, habis akal, dianiaya, dihempaskan dan sebagainya. Namun ia juga mengatakan bahwa mereka tidak terjepit, tidak putus asa, tidak ditinggalkan sendirian dan tidak binasa.
Sebuah pengertian yang saya dapatkan mengatakan bahwa hal ini sebenarnya masalah keputusan pribadi. Ini bukan masalah seberapa kuat tekanan yang kita alami. Dalam suratnya yang lain, Rasul Paulus juga ‘menantang’ jemaat untuk berhitung dan membandingkan tekanan yang ia alami dibanding mereka. Lalu bagaimana? Ternyata jawabannya adalah seberapa kuat roh kita. Karena jika roh kita lemah, maka sedikit goncangan saja sudah dapat meretakkan iman kita.
Lalu bagaimana supaya roh kita kuat? Saya mendapati bahwa kekuatan Rasul Paulus adalah akibat pengertiannya terhadap hidup dan pelayanannya. Ia mengerti bahwa apa yang ia miliki hanyalah merupakan harta di dalam bejana tanah liat (2 Korintus 4:7). Berikut adalah beberapa poin yang dapat kita mengerti tentang konsep ini.
- Harta yang ada dalam kehidupan kita pasti berasal dari Tuhan. Harta tersebut bisa berupa potensi, skill, karakter, kesehatan, sukacita, dan lain lain.
- Hidup kita adalah bejana yang digunakan untuk dirasakan oleh orang lain. Alkitab sering menggambarkan hidup kita sebagai bejana. Bejana adalah sebuah media sementara. Air yang ditaruh di dalam botol akan dituang ke dalam gelas. Dan dari gelas air tersebut akan diminum oleh seseorang. Botol dan gelas adalah bejana. Apa yang kelihatannya berada dalam diri kita sebenarnya memiliki tujuan untuk dimanfaatkan bagi orang lain.
- Jika kita sudah sadar akan tujuan Tuhan menempatkan harta tersebut dalam diri kita, maka kita akan mulai bertindak untuk menggunakannya bagi orang lain. Uniknya, meskipun harta tersebut bukan milik kita, Tuhan telah mempercayakan penggunaannya kepada kita. Itulah mengapa Tuhan memberikan hikmat kepada kita.
- Masalahnya, kalau kita tidak sadar bahwa harta tersebut bukan milik kita, hidup kita akan mengalami error dan malfungsi. Artinya bejana hidup kita pecah (bocor). Waktu itu terjadi maka harta yang berada di dalamnya juga akan meluber kemana-mana. Mungkin kita pernah mengalami bahwa tiba-tiba kita kehilangan kualitas atau kuantitas dalam area tertentu dalam hidup kita. Misalnya kesehatan, kekayaan, dan sebagainya.
- Untungnya Tuhan adalah pribadi yang begitu baik. Dengan sifatNya sebagai Pencipta, Ia memilih untuk membentuk kita ulang. Yeremia 18:4 berkata, “Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.” Maka jangan kaget kalau tiba-tiba kita mendapati bahwa sepertinya Tuhan membelokkan kehidupan kita ke arah yang berbeda. Karena Ia sedang mengerjakan hidup kita kembali menjadi bejana yang baru.
Semoga pengertian ini akan membuat kita menjadi kuat dan maksimal dalam hidup dan pelayanan kita. Dalam segala hal, kita perlu rendah hati untuk mengakui bahwa tidak ada satu hal apapun yang berasal dari kita, dan oleh karena itu tidak ada satu halpun yang kita boleh banggakan atau pegang terlalu kuat.






Semoga trus mendapat pencerahan firman Tuhan dan dipakai Tuhan lebih heran.