Apa jawaban yang muncul pertama kali di benak anda tentang pertanyaan ini? Kemungkinan jawaban pertama adalah… (“Bingung”) alias tidak ada jawaban. Mengapa? Sangat wajar orang tidak tahu sebenarnya apa isi Alkitab karena mungkin jarang sekali membacanya (hanya pada waktu kebaktian) atau mungkin juga karena tidak pernah berpikir tentang hal ini. Jawaban kedua mungkin berkata bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan. Benarkah?
Alkitab bukan Firman Tuhan! Jangan kaget dahulu, karena ada embel-embel kata, ‘sepenuhnya’. Ya, Alkitab bukan sepenuhnya Firman Tuhan. Karena di sana terdapat perkataan dari manusia-manusia, mulai dari yang ‘dipakai Tuhan’ sampai yang ‘tidak dipakai Tuhan’, sampai perkataan Iblis sendiri. Jadi Alkitab memang menceritakan tentang sesuatu, yang berisi Firman Tuhan, firman manusia dan firman Iblis. Saya yakin bagi yang pernah membaca seluruh isi Alkitab setuju dengan pernyataan ini.
Jika demikian, apakah Alkitab itu? Coba berhenti sejenak dan renungkan. Tidak ada jawaban yang lebih tepat yang mewakili hal ini selain bahwa Alkitab berisi perjanjian. Itulah mengapa Alkitab dipisahkan dalam tagline besar ‘Perjanjian Lama’ dan ‘Perjanjian Baru’. Mengapa pertanyaan ini menarik untuk dipikirkan? Kesalahan pola pikir terhadap Alkitab akan membawa kita terhadap malapetaka. Bayangkan jika kita menganggap perkataan Iblis sebagai Firman Allah!
Pertanyaan selanjutnya adalah “So What?”. Untuk menjawab pertanyaan ini, maka kita akan melihat gambaran besar tentang Allah dan manusia. Hanya ada satu hal yang menjembatani Allah dan manusia, dan itu bernama ‘HUBUNGAN‘. Begitu pentingnya kata ini (sehingga ditulis dengan huruf besar, cetak tebal dan diberi garis bawah) sehingga Tuhan menciptakan manusia (Kejadian 1), Yesus turun dan berkorban (Yohanes 3:16) dan turunnya pewahyuan yang ditulis dalam Alkitab sendiri.
Ya, Ia menciptakan kita karena ingin berhubungan dengan kita dan ia tidak menyerah dengan hubungan itu, meskipun telah dirusak oleh dosa. Merenungkan hal ini sekaligus akan menjawab pertanyaan mengapa harus ada dua perjanjian? Alkitab berisi seluruh perjanjian antara Tuhan dan manusia, bagaimana kegagalan manusia menjalaninya, serta bagaimana Tuhan sendiri memperbaikinya. Orang-orang yang membaca kitab Roma dan Ibrani dengan seksama pasti mengerti bahwa ada sebuah perjanjian baru dimana perjanjian ini merupakan perjanjian yang tak bercacat, karena diwakili oleh Yesus (yang merupakan Tuhan dan manusia sekaligus), menggantikan sebuah perjanjian lama yang penuh cacat dan memang terbukti bercacat.
Semoga anda mengerti apa yang saya maksudkan di sini karena bukan hal ini yang ingin saya bahas, namun pada konsep perjanjian itu sendiri. Memang benar bahwa untuk membangun sebuah hubungan, hal pertama yang harus dilakukan adalah membuat perjanjian, misalnya dalam bekerja. Tidak ada orang bekerja tanpa membuat perjanjian, baik secara tertulis maupun tidak tertulis, karena dalam perjanjian terkandung kesepakatan. Bahkan, dalam berkeluarga pun terjadi perjanjian, misalnya dalam hubungan suami-istri maupun orang tua-anak. Anak yang sudah tidak menemukan kata sepakat dengan orang tuanya akan pergi dari rumah bukan?
Begitu pula hubungan Tuhan dengan manusia dilandasi oleh perjanjian. Berikut adalah konsep dan unsur yang berlaku dalam sebuah kesepakatan.
- Kesepakatan terjadi pada minimal 2 pihak. Dalam Alkitab, kesepakatan terjadi antara Tuhan dengan manusia. Contohnya dapat dilihat pada Ulangan 28.
- Kesepakatan memiliki turunan berupa poin-poin kesepakatan. Poin-poin ini berisi hubungan sebab dan akibat. Ada janji-janji yang akan dilakukan oleh masing-masing pihak. Demikian pula dalam Alkitab terdapat janji-janji Allah.
- Tiga unsur dalam kesepakatan adalah mengikat, tanggung jawab dan resiko.
- Mengikat berarti bahwa kesepakatan itu sah atau resmi. Janji pernikahan merupakan janji yang sah, sehingga pasangan yang sudah menikah dan kena razia di hotel tentu akan dilepaskan karena mereka memang merupakan pasangan yang sah. Kesepakatan kita dengan Tuhan juga adalah kesepakatan sah yang berdampak pada hidup atau mati.
- Dalam kesepakatan, tiap pihak memiliki bagian berupa hak dan tanggung jawab. Itulah mengapa, janji Allah yang merupakan hak kita baru akan terjadi jika kita melakukan tanggung jawab kita. Hal ini menjelaskan betapa pentingnya kita untuk membaca, merenungkan dan mengerti isi Alkitab.
- Jika salah satu pihak tidak melakukan bagiannya, maka ada resiko yang akan terjadi. Kegagalan mengerti Alkitab akan menyebabkan kita gagal untuk mengerti perjanjian kita dengan Tuhan yang berakibat gagalnya janji Tuhan terjadi dalam hidup kita.
- Dalam sebuah kesepakatan, tidak terdapat unsur keadilan. Artinya, tidak peduli kondisi orang tersebut, jika ia gagal melaksanakan kesepakatan, resiko akan tetap menimpa. Jangan menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi dengan hidup kita. JanjiNya hanya akan berlaku jika kita melakukan tanggung jawab kita.
Kita punya perjanjian yang baru (Ibrani 8) untuk menjalankan maksud yang lama (Kejadian 1:26). Tuhan tidak pernah menyerah karena manusia jatuh dalam dosa, ia memberikan sebuah perjanjian yang sempurna untuk menjalankan maksud yang sempurna. Kita sudah berada dalam perjanjian yang baru, dimana kekuasaan mutlak ada di tangan kita, namun hanya jika kita melakukan bagian kita. Kenallah Tuhan, kenali Alkitab, maka kita akan menjalankan kekuasaan yang Tuhan janjikan itu.
Terinspirasi oleh: Jonathan Pattiasina dan Angga Prasetya
(Gambar dari berbagai sumber)






Gbr e langsung kusave.. wkwkwkwk.. menarik soale..
no problem… aku juga ngambil hahaha..