Setiap orang pernah mengalami penderitaan. Rasa sakit yang dialami mungkin akan menjadi sebuah trauma yang membuat orang tidak ingin untuk mengalaminya lagi. Secara natural kita takut untuk menderita. Alasan banyak orang takut akan akhir zaman jika direnungkan secara mendalam, sebenarnya adalah karena takut untuk mengalami penderitaan. Ketakutan ini makin bertambah karena pemberitaan yang tidak seimbang oleh Gereja tentang mengikut Yesus. Banyak orang menjanjikan bahwa jika mengikut Yesus akan mendapat banyak berkat dan tidak perlu menderita. Padahal Yesus sendiri mengisyaratkan bahwa untuk mengikut Dia harus menyangkal diri dan memikul salib.
Ada hubungan yang sangat erat antara faktor psikologis terhadap apa yang dialami secara fisik. Penderitaan berasal dari bahasa Sansekerta ‘dhra‘ (bahasa Indonesia: dera) yang berarti “menahan/menanggung / merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan baik lahir maupun batin, contoh keluh kesah, kesengsaraan, kelaparan, kekenyangan, kepanasan dll”. Adanya kosa kata dalam bahasa Sansekerta yang merupakan salah satu bahasa tertua di dunia membuktikan penderitaan bukanlah hal yang baru. Sedangkan dalam bahasa Inggris, siksaan menggunakan kata ‘torture‘ yang digunakan untuk merujuk pada penciptaan rasa sakit untuk menghancurkan kekerasan hati korban. Nyatanya, makin besar ketakutan sebenarnya makin besar penderitaan yang seseorang akan alami.
Jika kita membaca Ibrani 11 yang menceritakan tentang ‘Pahlawan Iman’, kita akan menemukan satu kesamaan yang mereka alami, Penderitaan! Iman hanya dapat teruji dalam penderitaan. Ada dua tipe reaksi orang yang bertemu dengan penderitaan. Pertama, ia akan panik dan justru tidak pernah bisa menemukan Tuhan. Kedua, ia mungkin akan sedikit goncang di awal tetapi kemudian ia akan mengerti mengapa ia harus mengalami dan dengan itu makin dekat dan kuat di dalam Tuhan.
Ini berarti, ada penderitaan yang berguna dan ada yang tidak. 1 Petrus 2:19 berkata tentang penderitaan yang tidak harus ditanggung. Jika kita mau menarik semua garis lurus, penderitaan yang merupakan bagian kita pasti akan mendewasakan kita. Penderitaan jenis ini seringkali berasal dari faktor eksternal yang bukan merupakan kesalahan kita. Tapi tidak menutup kemungkinan kita belajar lewat kesalahan kita. Ada dua alasan mengapa penderitaan merupakan hal terbaik yang harus kita alami.
- Penderitaan memproses semua orang.
- Setiap manusia memiliki natur dosa. Dosa pasti menghasilkan penderitaan. Nyatanya hampir semua orang tidak terbiasa untuk hidup menderita. Alkitab selalu mengajarkan bahwa sebelum kemuliaan datang, seseorang harus menderita terlebih dahulu. Yesus dimuliakan setelah dicobai di padang gurun. Rasa sakit yang dialami otot dari seseorang yang tidak terbiasa mengangkat beban 50 kilogram pasti lebih daripada seorang atlit angkat berat yang latihan setiap hari.
- Salah satu sifat dan prinsip kasih adalah panjang sabar (longsuffering, 1 Korintus 13:4). Tanpa penderitaan, tidak mungkin seseorang mempraktekkan kasih.
- Agama Timur mengajarkan bahwa penderitaan adalah bentuk dari penyucian. Itulah mengapa beberapa mengajarkan untuk menyiksa diri. Arti kata ‘torture‘ juga mengajarkan bahwa dengan menderita membuat kita dapat lebih rendah hati.
- Roma 5:3-4 berkata bahwa pencobaan menghasilkan tahan uji. Allah selalu mencari orang yang tahan uji.
- Penderitaan membuat kemuliaan Allah dinyatakan.
- Allah mengerti batas kekuatan kita. Saat seseorang tidak mampu, Allah akan menolong dan di situ mujizat terjadi. Sesuatu yang terjadi karena usaha kita tidak layak disebut mujizat. Orang yang menghindari penderitaan (masalah) adalah orang yang menghindari mujizat.
- 2 Korintus 1:3-4 berkata bahwa setelah kita mengalami penderitaan kita akan mampu menghibur orang lain yang mengalami penderitaan.
Itulah mengapa kita harus punya pola pikir yang benar dalam menyikapi penderitaan.
-
Penderitaan (yang benar) menghasilkan kemuliaan (2 Korintus 4:16-17).
-
Penderitaan menunjukkan siapa diri kita (2 Korintus 6:4).
-
Penderitaan membuat kita dekat dengan Yesus (Filipi 3:10, Markus 8:31).
-
Penderitaan membuat berhenti dari dosa (1 Petrus 4:1).
Kita harus belajar menanamkan dalam pola pikir kita untuk terus bertahan dalam menghadapi penderitaan. Karena sampai pada titik tertentu, penderitaan pasti berakhir dan di sana kita akan tahu mengapa kita harus mengalaminya. Mengakrabi penderitaan adalah sebuah hal yang penting karena itu membuat kita tidak ‘alergi’ terhadap penderitaan. Sedangkan orang yang alergi terhadap penderitaan berarti alergi terhadap peningkatan hidup.
Kita harus belajar percaya terhadap semua proses yang kita alami, karena Allah adalah pribadi yang sangat mempercayai sebuah proses. Sebenarnya penderitaan adalah satu-satunya kurikulum yang dimiliki oleh Allah untuk membuat hidup kita makin dewasa, bertumbuh besar dan kuat. Itulah mengapa kita harus mempercayai dan mampu mengakrabi penderitaan demi penderitaan. Lepas dari sebuah penderitaan, jika kita mengasihi Dia, kita akan mengalami penderitaan baru yang pasti lebih berat (Roma 8:28).
(Gambar dari berbagai sumber)





