Apakah kita termasuk orang yang pernah bertanya-tanya, “Mengapa manusia tidak boleh memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat?” Memang dengan memakan buah tersebut akhirnya manusia jatuh dalam dosa. Tapi pertanyaan lebih lanjutnya adalah “Ada apa dengan buah itu sehingga manusia tidak boleh memakannya?” Atau mungkin kita pernah bertanya, “Jikalau buah itu dilarang dimakan, mengapa Tuhan buat pohon itu tumbuh di taman Eden?”
Pertanyaan itu sudah lama muncul di benak saya, dan sempat saya simpan sebagai suatu rahasia alam atau kewenangan Allah yang tidak perlu dipertanyakan. Namun beberapa saat lalu, saat saya merenungkannya lagi, saya kira-kira menemukan jawaban mengenai pertanyaan yang cukup besar ini. Bukan mutlak memang, namun hal ini cukup menjawab dan memuaskan dahaga akan kebenaran tersebut. Berikut adalah beberapa ayat yang terkait dengan kejadian tersebut.
Kejadian 2:9 Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.
Kejadian 2:17 Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”
Kejadian 3:4-5 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”
Tentu saja kita tahu bahwa kematian di sini bukan berbicara tentang kematian tubuh, karena Adam dan Hawa memang tidak mati. Namun mari kita lihat arti dari buah pengetahuan yang baik dan jahat. Kata baik dalam bahasa Ibraninya adalah tob yang berarti hal yang baik, berkenan, indah, menyenangkan, membawa kebahagiaan, kenikmatan, dan kemakmuran. Sedangkan kata jahat dalam bahasa Ibraninya adalah rah, yang berarti kejahatan, bencana, ketidaknyamanan, tekanan, kesedihan, penderitaan, kesakitan dan kesalahan.
Pengertian pertama yang saya dapatkan adalah justru dengan tidak mengetahui apa yang baik dan yang jahat sebenarnya manusia hanya mengetahui apa yang baik saja. Pengetahuan akan yang baik itu tidak didapatkan dari akal budinya sendiri (berasal dari manusia), tetapi berasal dari Tuhan. Semua yang dilakukan manusia bukan karena inisiatif sendiri, tetapi melalui Firman dan perintah Allah. Maka kita tahu bahwa memang perintah Allah untuk tidak memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat ini adalah demi kebaikan manusia. Karena sebenarnya manusia tidak hanya tidak mengetahui apa yang baik, ia juga tidak mengetahui apa yang jahat. Dalam versi Amplified Bible dijelaskan bahwa pohon pengetahuan yang baik dan jahat adalah tree of the knowledge of [the difference between] good and evil and blessing and calamity. Bayangkan, kejahatan pertama dilakukan oleh keturunan langsung dari Adam, yaitu Kain dengan membunuh adiknya. Artinya, manusia juga bisa memberkati, tetapi juga bisa mengutuk atau membawa bencana. Tak heran dunia saat ini dipenuhi kesedihan, sakit penyakit dan segala apa yang jahat.
Kerinduan Allah adalah agar suasana surgawi terjadi dalam kehidupan manusia. Itulah mengapa di Kitab Wahyu 21, Ia akan memperbaharui segalanya, akan ada langit baru, bumi baru, Yerusalem baru dan tujuanNya agar manusia berkuasa terjadi. Bahkan Ia memberikan kepada kita tubuh sorgawi yang penuh kemuliaan (1 Korintus 15:40). Tetapi waktu manusia mengetahui apa yang jahat, maka semua kejahatan, bencana, ketidaknyamanan, tekanan, kesedihan, penderitaan, kesakitan dan kemampuan untuk berbuat salah itu terjadi dalam hidupnya. Dengan kata lain, ketidaksempurnaan ada dalam hidup manusia. Tetapi sebenarnya, jika manusia tidak mengetahui apa yang baik pun, ia tetap dapat melakukan apa yang baik, karena itulah yang Allah perintahkan.
Pengertian kedua yang saya dapatkan adalah mengenai apa yang baik tersebut. Kata tob yang digunakan untuk mendefinisikan kata baik tersebut juga digunakan untuk mendefinisikan hasil ciptaan Allah pada Kejadian 1. Semua hasil ciptaanNya Ia nilai sebagai tob (baik). Maka, sebenarnya kata-kata Iblis waktu membujuk Hawa (Kejadian 3:4-5) tidak benar-benar salah. Kita akan memiliki kemampuan untuk ‘menyaingi’ Allah, karena kita memiliki kemampuan untuk menciptakan apa yang baik. Masalahnya, kita juga jadi memiliki kemampuan untuk menciptakan apa yang jahat.
Namun, ada perbedaan antara apa yang baik dalam versi Allah dan versi manusia. Ya! Sebenarnya dengan mengetahui apa yang baik, manusia memiliki kemampuan untuk menciptakan visi, tujuan hidupnya. Itulah mengapa, sebenarnya iblis tidak berbohong sewaktu mengatakan kepada Hawa bahwa saat ia memakan buah tersebut ia dapat menjadi seperti Allah. Tetapi bukan itu yang Allah hendaki. Bagi kita manusia yang mengenal siapa Allah kita, tentu kita tahu bahwa pencapaian terbaik adalah jika kita mencapai tujuan yang Allah berikan dalam hidup kita. Bukan mencapai tujuan yang kita ciptakan sendiri. Jadi dengan mengetahui hal ini, apakah kita masih berpikir bahwa mengetahui apa yang baik itu adalah hal yang baik?
Dan yang terakhir, dengan memakan buah itu, manusia resmi diusir dari taman eden. Dan itu juga berarti mereka tidak memiliki kesempatan untuk memakan buah dari pohon kehidupan (the tree of life). Kata kehidupan di sini menggunakan kata chay, yang berarti kehidupan, kesegaran, kekuatan, kumpulan, kemampuan untuk menghasilkan keturunan. Bukankah itu juga yang seringkali manusia alami sekarang? Sering kita merasa lemah, putus asa, dan cenderung merasa sendiri.
Yang Allah rindukan adalah agar manusia memperoleh hidup yang sejati. Yohanes 3:16 berkata bahwa Yesus datang ke dunia agar manusia yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal. Kata hidup di sini berasal dari kata zoe, yang tidak hanya berarti hidup, tetapi hidup yang berasal dari roh (pseuche), yaitu hidup yang sukses, berkualitas, berkemenangan sesuai definisi Allah.
Tidak ada yang baik dengan memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat. Saat kita mengetahui yang jahat, kita akan menjadi pribadi yang merusak. Saat mengetahui apa yang baik, kita akan secara otomatis, lambat laun terpisah dari Allah. Karena dengan mengetahui apa yang baik, kesuksesan yang ingin kita capai bukanlah kesuksesan versi Allah, tetapi versi kita. Jelas bukan itu yang Allah inginkan. Kata penyembahan memiliki akar kata ‘untuk menyerahkan diri (bergantung) kepada‘. Saat kita memiliki kesuksesan versi sendiri, maka tidak ada penyembahan kepada Allah dalam hidup kita. Karena itu, hanya ada satu cara untuk mengembalikan seluruh kondisi kita dalam kesuksesan versi Allah, yaitu menghilangkan semua visi dan tujuan ciptaan sendiri dan mulai bertanya dan mencapai apa yang Allah inginkan dalam hidup kita.







10 Ciri Visi – The Leipzic Way
[…] Bahkan seluruh Alkitab sebenarnya merupakan penjabaran visi hidup kita. Dalam blog saya sebelumnya, Buah PengetahuanYang Baik dan Jahat dijelaskan mengapa Allah tidak ingin agar manusia memakan buah tersebut, yaitu karena begitu manusia […]
Gambar Diri Manusia: Disia-siakan, Hilang, Kembali – The Leipzic Way
[…] Misalnya, untung dan rugi diukur berdasarkan tentang apa yang mengenakkan dirinya sendiri. Sejak manusia jatuh dalam dosa, manusia memiliki sifat egois, segala pencapaian akan kesuksesannya diukur dari cara pandangnya […]
Shalom Bro… 🙂
menarik sekali bahasannya. saya diberkatin bgt… dan ternyata baru nyadar juga tentang ayat ini:
Kejadian 2:17
Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon PENGETAHUAN tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau MATI.”
Luar biasa Tuhan kita, disini DIA simpulkan makna IMAN yang sejati bagi semua orang percaya;
“ketika manusia mengandalkan “pengetahuannya” dan tidak mengandalkan Tuhan, sebenarnya manusia tersebut telah “mati”… alias, sebenarnya ia tidak beriman dengan benar.
hal ini sejalan dengan Yeremia 17:5
(5) Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! (TB)
(5) TUHAN berkata, “Apabila orang meninggalkan Aku, Tuhannya, dan berharap kepada manusia serta bersandar pada kekuatannya, maka Aku akan menghukum dia. (BISH)
Wow… Tuhan Yesus Luar biasa!. konsep Iman yang benar ternyata telah ada semenjak penciptaan.
oiya saya ijin copy gambar buah diatasya Bro…
Thx, God Bless U’… (^___^)
Shallom bro. Thanks buat commentnya. Iya, setuju banget karena Tuhan kita adalah pribadi yang tidak pernah berubah. RencanaNya sudah ada sejak awal dan tidak pernah berubah.
Thanks juga buat tambahannya. Saya setuju banget.
Silakan diambil bro, saya juga ambil dari tempat lain.
God bless you!
Gambar Diri Manusia: Disia-siakan, Hilang, Kembali « The Leipzic Way
[…] Misalnya, untung dan rugi diukur berdasarkan tentang apa yang mengenakkan dirinya sendiri. Sejak manusia jatuh dalam dosa, manusia memiliki sifat egois, segala pencapaian akan kesuksesannya diukur dari cara pandangnya […]
Tak Ada Noda Tak Belajar
[…] memiliki kehidupan yang sempurna (Matius 5:48)? Masalahnya adalah kesempurnaan versi siapa dahulu. Artikel ini mungkin akan membantu pemahaman […]
‘Tidak ada yang baik dengan memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat. Saat kita mengetahui yang jahat, kita akan menjadi pribadi yang merusak. Saat mengetahui apa yang baik, kita akan secara otomatis, lambat laun terpisah dari Allah. Karena dengan mengetahui apa yang baik, kesuksesan yang ingin kita capai bukanlah kesuksesan versi Allah, tetapi versi kita.’
Yang ingin saya tanyakan kalau begitu bagaimana dengan orang2 yang mengetahui kebaikan didunia ini?? dengan begitu lambat laun ia akan jauh dari Allah??. lalu sama juga dengan orang yang mengetahui kejahatan kita akan mejadi pribadi yang merusak. jadi untuk apalagi kita hidup didunia ini?
jika yang kita lakukan maupun baik dan jahat kita tidak akan dekat dengan Allah?
Dosa tetaplah dosa, Allah menciptakan pohon itu menurut saya adalah untuk manusia, ketika manusia sudah siap dan mau dituntun dengan cara Allah menuju kepada kebenaran, dan sayangnya oleh krn keinginan manusia ingin menjadi seperti Allah, akhirnya manusia memutuskan kebenaran itu dengan caranya sendiri. Sebenarnya kalau manusia itu mengakui kesalahannya kepada Tuhan dan memohon kasih karunia Allah, saya percaya Tuhan yg setia dan adil akan mengampuni pelanggaran akan dosa manusia, sebab Dia tau apa kita dan Dialah yg menciptakan kita dengan dasar kehendakNya yg sempurna, namun kesalahan manusia yg membuatnya jatuh adalah ketika tidak mau mengakui dosa dihadapan Allah dan mencari kambing hitam atas pelanggarannya, manusia merasa tau tentang apa yg baik dan yang jahat sehingga memutuskan segala sesuatu dengan caranya sendiri dan merasa tidak membutuhkan cara Allah. Itulah roh antikris, di mana 666 adalah bilangan manusia yg menggambarkan kesombongan manusia, krn manusia diciptakan pada hari yang ke-6, ketika manusia menganggap bahwa bapaNya adalah dirinya, dan penebusnya adalah dirinya dan penolongnya adalah dirinya, maka manusia telah memiliki roh antikris.
Ini adalah sudut pandang saya dan pemahaman saya saat saya membaca kitab kejadian dan Wahyu.