Buku ke-2 karangan Malcolm Gladwell ini bercerita tentang bagaimana kesan pertama, atau pikiran pertama yang muncul dalam benak kita di segala hal ternyata sangat penting. Malcolm Gladwell sendiri merupakan salah satu penulis favorit saya. Yang membuat buku ini menarik adalah, sama seperti ‘Tipping Point‘, berisi tentang banyak penelitian yang berbau psikologis, bahkan yang merupakan hal baru di bidang ini. Namun bagi saya, dua hal yang menarik adalah penjabaran khas Malcolm Gladwell yang begitu teratur dan detil serta kesimpulan yang dapat diambil dari buku ini.
Buku ini bercerita tentang bagaimana kesan pertama seseorang dapat menentukan keseluruhan proses yang terjadi selanjutnya. Setiap manusia, disadari atau tidak akan selalu memiliki dan melakukan hal ini. Masalahnya, jika kita menyadari tentang pentingnya serta kekuatan kesan pertama ini, maka kita dapat menjadikannya senjata, namun jika sebaliknya bisa jadi hal ini justru akan balik menyerang dan merugikan kita.
Ada banyak kisah yang diberikan, misalnya tentang bagaimana para ahli pecinta karya seni dapat membedakan mana patung yang asli dan tidak hanya dari 2 detik kesan pertama, sedangkan bahkan patung yang palsu tersebut dapat mengecoh sebuah prosedur yang dibuat untuk mendeteksi umur suatu benda. Para ahli tersebut tidak dapat menyebutkan alasan mengapa mereka yakin, namun mereka cuma yakin saja. Contoh lain adalah kepahlawanan Jendral Van Allen yang merupakan purnawirawan perang Vietnam yang diajak untuk menguji sistem peperangan baru yang diciptakan Amerika. Sistem tersebut menganalisa seluruh kemungkinan yang dapat muncul berdasarkan informasi yang ada. Dan ternyata, pemenangnya ialah Van Allen yang merupakan tipe orang yang tidak terlalu banyak berpikir, namun cenderung langsung mengambil suatu tindakan berdasarkan ‘intuisi’ yang ada.
Mengapa kata intuisi diberi tanda petik? Karena Gladwell sendiripun tidak pernah menggunakan kata ini dalam bukunya. Ia sendiri memberikan perbedaan antara intuisi dan kemampuan berpikir blink ini. Blink merupakan kemampuan berpikir berdasarkan bank data yang tersimpan dalam alam bawah sadar kita. Jadi sebenarnya jika kita mampu untuk menggunakannya dengan baik, maka blink adalah suatu pemikiran yang sangat beralasan, sama seperti hasil pemikiran kita pada umumnya, hanya saja ini terjadi dalam waktu singkat.
Mengapa saya mengatakan ‘jika kita mampu untuk menggunakannya dengan baik’? Karena memang tidak semua orang dapat menggunakannya dengan baik. Ada banyak contoh kegagalan orang yang mengikuti intuisinya. Namun, ada banyak faedah yang bisa didapatkan waktu kita mengikuti sebuah blink. Contohnya adalah bagaimana para dokter di Cook County Hospital di Chicago mengembangkan sistem diagnosis serangan jantung sehingga dapat menyelamatkan pasien, karena serangan jantung harus ditangani secara cepat dan tepat.
Idenya muncul akibat sebuah ketidaksengajaan. Yaitu waktu masih remaja, Gladwell yang berdarah campuran Amerika-Latin, sengaja memanjangkan rambutnya. Dan setelah itu, ia langsung mengalami beberapa kasus salah tangkap oleh polisi. Ia berpikir bahwa tiap orang selalu memiliki pemikiran kognitif yang akan menghubungkan dua hal. Misalnya, dalam penelitian ditemukan bahwa kejahatan lebih terhubung dengan kulit hitam dibanding kulit putih dan sebaliknya, kesuksesan lebih disukai untuk orang kulit putih dibanding kulit hitam.
Kesimpulannya, blink adalah suatu alat yang sangat hebat yang jika kita mampu untuk menggunakannya akan sangat bermanfaat dalam kehidupan kita. Sebab sama seperti berperang, seseorang seringkali dituntut untuk mampu berpikir cepat atau akan terlambat. Bagi orang seperti saya yang memiliki kecenderungan untuk berpikir dari segala macam sisi terlebih dahulu baru memutuskan, hal ini bisa menjadi solusi. Namun, harus dilatih. Itulah yang dikatakan Gladwell. Filipi 4:8-9 berkata,
“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.”
Iblis adalah penipu dan pendakwa yang seringkali membuat pikiran kita menjadi tidak jernih. Jika kita tidak dapat berpikir jernih, maka kita akan terjebak pada jurang keambiguan yang membuat kita salah memutuskan. Rasul Paulus berkata, kia kita memikirkan apa yang dari Allah, maka Allah sumber damai sejahtera itu akan menyertai kita, artinya menguasai pikiran kita, sehingga kita dapat memutuskan segala sesuatu dengan baik.
(Gambar dari gladwell.com)






Definisi Baru Integritas « The Leipzic Way
[…] posting saya sebelumnya, dijelaskan bahwa manusia berpikir sebelum ia berpikir. Artinya, sebelum pikiran alam sadar kita […]