*) Dipublikasikan pada Progress News SMCC Edisi Desember 2011
Dalam edisi sebelumnya disebutkan tentang sebuah ungkapan yang berkata, “Kesempurnaan seorang pria dan kesempurnaan dengan Kristus adalah hal yang sama”. Saat kita merenungkan hal ini lagi, kita akan mencapai sebuah kesimpulan bahwa Kristus adalah seorang PRIA yang SEMPURNA. Ada dua kata kunci yang harus kita pahami, yaitu pria dan sempurna. Hal ini juga berarti bahwa jika pria-pria ingin menjadi sempurna (baca: dewasa secara keseluruhan) maka ia harus meneladani Kristus.
Untuk memahami hal ini, kita perlu merenungkan bagaimana cara Kristus hidup di dunia. Mengapa di dunia? Karena saat itu, Kristus ialah Allah dan manusia seutuhnya. Ia juga rentan terhadap dosa dan kesalahan, sama seperti kita. Namun bagaimana sebenarnya kehidupan Kristus di dunia?
Mungkin kita sangat sering mendengar bahwa Kristus ialah pribadi yang lembut, baik, perhatian, penurut, sabar, hangat dan sebagainya. Yesus sendiri berkata, “Belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati” (Mat 11:29). Hal ini sebenarnya ialah sisi kelembutan Yesus. Itulah mengapa Ia disebut ‘Lamb of God’. Domba mewakili sesuatu yang lembut, bahkan cenderung untuk tidak memiliki kemampuan untuk bertahan dari serangan musuh. Jika ia mampu selamat, itu karena pendengarannya yang peka terhadap suara gembalanya.
Namun, Ia tidak hanya memiliki satu sisi saja. Seperti dua sisi mata uang, ada sisi lain dari Yesus yang juga melekat kuat dalam diriNya. Ia juga disebut sebagai ‘Singa dari Yehuda’ (Why 5:5). Sebenarnya apa maksud dari frasa tersebut? Dalam seluruh artikel mengenai ‘Singa dari Yehuda’, selalu ada satu kata yang ada, yaitu ‘kemenangan’. Bahkan sebenarnya gambaran singa selalu melambangkan sebuah kekuasaan (dominion). Mengapa singa dan bukan gajah yang menjadi raja hutan?
Penelitian-penelitian mengungkapkan bahwa Yesus sering memperlihatkan wajah yang kaku, seperti batu, yang menggambarkan Ia sebagai pribadi yang tidak mudah dijinakkan. Kitab injil juga menjelaskan bahwa Yesus adalah pribadi yang lebih peduli dengan kebenaran daripada menghitung seberapa banyak orang yang tersinggung dengan hal itu, serta lebih mementingkan kebenaran daripada bagaimana disukai orang, dan yang terpenting, lebih tertarik kepada misiNya daripada bagaimana opini orang terhadapNya.
Kedua hal itu ialah dua gambaran yang unik tentang Yesus yang harus dimiliki oleh seorang pria. Gambaran Aslan, singa yang merupakan raja sesungguhnya dari kerajaan Narnia dalam buku Chronicles of Narnia karangan C. S. Lewis merupakan gambaran Yesus yang tepat. Ia adalah penguasa, tetapi ia memiliki kasih yang cukup kuat untuk membuat dirinya mengorbankan dirinya. Ia tidak membiarkan dirinya ditaklukkan oleh apapun. Sama seperti Yesus.
Kristus bukanlah sembarang domba, Ia ‘Anak Domba Allah’. Ia hanya taat kepada BapaNya. Hal ini seringkali kita lupakan, namun harus kita mengerti, bahwa ia lembut kepada perkataan BapaNya dan tegas terhadap hal yang bertentangan dengan kebenaran. ‘Lamb of God’ melambangkan hubungan yang dengan BapaNya, sedangkan ‘Lion of Judah’ melambangkangkan hubunganNya dengan sekelilingnya, Ia menguasai sekelilingnya.
Menjadi seorang pria berarti menjadi seseorang yang menjalankan misi, sama seperti Yesus yang sangat fokus terhadap misiNya di bumi. Tanpa hal ini, seorang pria akan kehilangan jati dirinya. Saat pria menjalankan misi tersebut, harus ada dua sifat tersebut di atas. Hal ini karena misi yang diemban bukan misi yang mudah. Butuh pendengaran yang tajam dan ketaatan yang konsisten terhadap kehendak Allah serta ketegasan terhadap pengaruh yang salah yang berasal dari lingkungan sekelilingnya. Sudah ada miliaran keturunan Adam yang gagal berfungsi secara maksimal, tentunya kita tidak ingin menambah daftar panjang tersebut. Namun, alkitab memberikan rahasia kesuksesan hidup, yaitu melakukan perintahNya. Sebab di saat yang sama kita sebenarnya sedang menjadi orang yang menggenapi rencanaNya dalam kehidupan kita.
“Tuhan sendiri membiarkan diriNya merasa tidak nyaman untuk bekerja sendiri dan memberikan manusia kekuasaan (dominion) atas pekerjaanNya“ — Hellen Keller (Pengajar dan penulis wanita yang buta dan tuli)
Gambar 1: Simbol ‘Lion of Judah’ yang digunakan dalam seluruh kegiatan kenegaraan di Yerusalem. (Wikipedia)
Gambar 2: Patung ‘Lion of Judah’ di Addis Ababa, simbol Raja Selassie di Ethiopia yang merupakan keturunan ke-111 dari Salomo. ‘Lion of Judah juga merupakan simbol negara Ethiopia, yang juga terdapat pada bendera negara tersebut. (Various, edited)





