Saat sebuah masalah terasa begitu berat, kita mengeluh. Saat perjalanan hidup kita serasa menemui gunung yang tinggi, kita menyerah. Kita bertanya, “Bagaimana aku dapat melewatinya?” Saat tiba-tiba gunung tersebut hilang atau mungkin kita telah berhasil melewatinya, kita lega. Namun, mungkinkah bahwa sebenarnya saat sebuah gunung muncul di depan kita, sebenarnya kita harus berhenti dan melihat sekeliling kita? Bahwa telah ribuan langkah kita lewati sebelum menemui gunung tersebut? Bahwa di kiri-kanan kita pohon-pohon hijau ada untuk memberikan kesegaran? Bahwa ada rencana Allah di tiap langkah hidup kita.
Masalahnya bukan berada pada gunung tersebut. Masalahnya akan selalu berada pada sudut pandang kita. Bagaimana kita melihat masalah yang ada di depan kita. Ataupun bagaimana kita melihat hidup kita. Mungkin kita mengerti bahwa hidup kita ialah milik Allah dan harus dipergunakan untuk kepentinganNya. Tapi apakah kita sudah benar-benar mengerti hal tersebut? Ataukah baru sekedar teori?
Mungkin kita termasuk orang yang sudah sangat mengerti tentang alkitab. Bahkan mungkin kita sudah mengkotbahkannya. Namun bagi Allah tidak ada yang lebih kuat daripada perbuatan kita. Demikian juga orang lain melihat kehidupan kita. Dan bukankah hal yang sulit dari sebuah firman ialah melakukannya? Masalahnya selalu terletak pada seberapa kuat diri kita berbicara dibandingkan dengan Tuhan di dalam hidup kita. Saat diri kita yang berbicara, maka kita akan melihat semua masalah, hambatan dan tantangan sebagai sesuatu yang menyakitkan. Dan pastinya kita enggan untuk mengalaminya. Bahkan mendekatinya pun tidak ingin. Dan saat itu terjadi, berapa banyak kita mengalami frustrasi atau stress?
Tapi seharusnya kita melihat diri kita sebagai bagian dari rencana Allah dan percaya bahwa itu sempurna. Berserah bukan dilakukan di tengah-tengah berlangsungnya suatu proses, namun selalu dilakukan di awal suatu proses. Dengan hal tersebut, kita akan memiliki mental yang benar saat menghadapi suatu proses. Mendaki sebuah gunung memang suatu pekerjaan yang sulit dibandingkan jika berjalan di jalan beraspal yang lurus dan landai. Namun apakah hal tersebut yang memang kita harapkan?
Semakin cepat kita mengerti bahwa hidup kita bukan milik kita, maka semakin cepat kita akan menang terhadap proses tersebut. Semakin kita mengerti bahwa hidup yang kita jalani telah dibeli, ditebus dan dibayar lunas oleh Kristus, maka masalah apapun tidak akan terlalu terasa berat. Bukan berarti masalah yang berat itu adalah sesuatu yang harus dihindari, tetapi terkadang masalah tersebut terasa lebih berat dari seharusnya saat kita melihat dari sudut pandang kita.
Dan pengertian bukan hanya terjadi di dalam otak dan pemikiran kita saja. Itu hanyalah langkah awalnya saja. Pengertian tersebut harus ditanam sampai seluruh tubuh dan jiwa raga kita mengerti. Sebab dengan pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib, maka roh kita telah dikuduskan dan telah disempurnakan. Namun, akan selalu ada peperangan dalam aspek jiwa kita. Sebab tubuh kita adalah hamba dosa dan akan selalu bertarung untuk melakukan dosa. Namun, roh kita yang telah disempurnakan memiliki keinginan untuk taat kepada Allah. Peperangannya terjadi pada jiwa kita. Oleh karena itu, kita harus terus mengusahakan untuk menyempurnakan jiwa kita (Matius 5:48).
Peperangan antara kerajaan kita (bukan kerajaan iblis, sebab iblis telah dikalahkan oleh Yesus Kristus) dan kerajaan Allah akan selalu berlangsung. Bagi setiap orang yang terpanggil sesuai rencanaNya (Roma 8:28), bukan hanya rencana baik saja yang Ia sediakan, tetapi juga proses yang menjadikan kita menjadi makin sempurna juga ia sodorkan. Bagaimana kita melihatnya? Apakah hal tersebut menjadi petaka atau berkat? Tergantung dari seberapa besar kehendak kita bisa kita tundukkan kepada kehendakNya! (Sama seperti Yesus Kristus yang menjadi raja karena ia menundukkan diri kepada kehendak BapaNya!)






