
Tahap pertama dari sebuah rencana adalah desain. Ada yang menyebutkannya sebagai blueprint. Namun, satu hal yang pasti, tiap ciptaan pasti memiliki desain tertentu. Desain memastikan suatu benda berjalan dan bekerja mengikuti keinginan penciptanya. Dengan kata lain, desain ialah batasan dari bagaimana suatu benda bekerja. Artinya, dengan desain, tujuan dari suatu benda didefinisikan. Sebagai contoh, televisi didesain untuk menghadirkan hiburan secara audio dan visual. Artinya, ia bertugas untuk menayangkan gambar dan mengeluarkan suara. Jika ia tidak beroperasi demikian, maka dikatakan televisi tersebut rusak.
Kita percaya bahwa manusia ialah ciptaan Tuhan. Sesuai kodrat seluruh ciptaan, manusia juga memiliki desain. Oleh karena itu, untuk mengetahui tujuan hidup kita, tidak ada satupun pihak yang lebih layak dan mampu untuk menjawab selain Tuhan. Saat menciptakan manusia, Tuhan tidak sembarangan. Ia menciptakan manusia dengan sebuah desain. Kejadian 1:26 berkata bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Itulah desain manusia. Dengan desain seperti itu, artinya manusia memiliki sifat-sifat Illahi yang terbatas pada tubuh jasmani.
Misalnya, Allah maha kuasa, artinya manusia juga memiliki kuasa (Kej 1:28). Allah maha pencipta, artinya manusia mampu untuk menciptakan sesuatu. Allah adalah kasih, maka manusia juga memiliki kasih. Allah maha adil, maka manusia juga memiliki rasa keadilan. Masih banyak contoh lainnya, namun yang tak kalah penting ialah manusia juga memiliki keinginan untuk memenuhi kodratnya tersebut. Artinya, jika ada sebuah sifat yang tidak dapat ia lakukan, secara tidak sadar ia akan merasa kosong. Hal ini mungkin juga terjadi pada televisi yang rusak seandainya ia memiliki perasaan.
Hal ini juga diamati dan ditulis oleh Rasul Paulus dalam suratnya ke Roma. Roma 8 menceritakan sebuah perjuangan yang dialami oleh seluruh umat manusia, bahkan seluruh makhluk. Jika anda membaca secara seksama, intisari dari pasal tersebut bercerita bahwa tiap manusia memiliki panggilan. Dan karena panggilan tersebut, manusia merasakan sakit, karena kita memiliki tubuh duniawi. Rasa sakit yang dialami saat manusia tidak menjalani kodratnya sebagai gambaran Allah.
Namun, ada suatu pernyataan yang sangat luar biasa bahwa ternyata panggilan tersebut tidak hanya berakibat pada rasa sakit, tetapi pada pengharapan dan tujuan. Saat manusia didesain secara spesifik, mereka didesain untuk mencapai tujuan hidupnya. Itulah mengapa manusia selalu bertanya tentang hal itu. Manusia memiliki kodrat untuk mencapai tujuan hidupnya. Dan Roma 8 menceritakan bahwa panggilan kita tersebut adalah panggilan yang hebat, karena Allah sendiri yang turut campur secara khusus dalam kehidupan orang-orang yang terpanggil. Ya, syaratnya ialah menjadi orang-orang yang terpanggil sesuai rencanaNya. Artinya, Tuhan hanya akan turut campur jika manusia sedang berada pada jalan yang benar menuju tujuan hidup yang Allah sudah rancangkan. Dan Roma 8 juga berkata bahwa jika kita terpanggil sesuai rencanaNya, maka kita akan tahan terhadap penderitaan tersebut. Bagaimana supaya kita dapat tahan? Efesus 3:16-20 berkata bahwa kita harus hidup dalam kasih Allah. Waktu kita penuh dengan kasih Allah, kita akan melihat bagaimana Allah melakukan sesuatu di luar apa yang kita doakan dan kita pikirkan.
Ada satu hal yang sangat spesifik. Rasul Paulus berdoa supaya kita mengenal kasih itu. Allah ialah kasih. Artinya, saat Tuhan menguatkan dan meneguhkan kita dalam setiap penderitaan kita, Ia ingin agar kita memiliki pengenalan yang benar terhadap Dia. Itulah mengapa Yohanes 4:23 berkata bahwa akan tiba waktunya bahwa penyembah-penyembah yang benar akan menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran, karena Ia menghendakinya.
Saat manusia diciptakan, setidaknya ada 2 desain yang melekat pada dirinya. Yaitu untuk berhubungan denganNya dan mengenal kasihNya, serta mencerminkan gambar dan rupaNya dalam setiap kehidupannya. Dalam kedua hal itu, manusia akan selalu menuntut dirinya secara sadar maupun tidak sadar. Sejak jaman dahulu manusia selalu ingin untuk berhubungan dengan Allah. Muncullah agama sebagai jalan untuk bertemu dengan Allah. Namun Allah sendiri telah membuka diriNya untuk berhubungan kembali dengan manusia melalui pengorbananNya untuk menebus seluruh dosa manusia yang menghalangi mereka untuk berhubungan dengan Tuhan.
Dengan memenuhi kodrat kita, secara tidak sadar kita akan berjalan menuju tujuan hidup kita. Memiliki hubungan dengan Allah dan mencerminkan kepribadianNya dalam setiap kehidupan kita bukan hanya tugas, tetapi apa yang akan selalu kita rindukan dalam kehidupan kita. Ini karena kita sudah diprogram untuk demikian.
(Gambar dari blogspot.com, dezeen.com, dan davidreport.com)







Imamat Rajani Yang Sejati – The Leipzic Way
[…] « Desain Hidup Manusia […]
Ya, sangat setuju!!! Kita harus mengembalikan gereja-Nya kepada rancangan-Nya yang semula. Mari Victor Lipesik terus kumandangkan apa yang dari Tuhan, supaya mempelai-Nya tidak lagi bercacat dan kerut!
siap laksanakan Pak. to God be the glory!