Buku karangan Dr. Magdalene Kawotjo ini adalah seri ke-2 dari serial “Berhasil Karena Iman”. Bukannya aku sedang belajar jadi kritikus buku, sih, tapi justru aku ingin membagikan apa yang aku dapat.Dari buku ini, ada 1 karakter yang aku dapat. Di akhir pembacaanku, Tuhan memberikan 1 istilah yang cukup keren menurut aku.
“Generasi Yusuf”!
Yusuf adalah anak dari Yakub yang menghabiskan masa mudanya menjadi seorang budak dan tawanan di Mesir. Singkat cerita (karena aku rasa teman-teman sudah pada tahu siapa si Yusuf ini), Yusuf menjadi wakil raja Firaun. Bahkan dikatakan bahwa kelebihan Firaun dari pada Yusuf hanyalah tahtanya saja, atau dengan kata lain, Yusuf menjadi orang nomor 2 di seluruh kerajaan Mesir kuno yang begitu tersohor.
Yang begitu membuatku terkesan adalah bagaimana Yusuf bisa menikmati kemustahilan yang ada dan mengubahnya jadi keberhasilan untuk mencapai rencana Allah dalam kehidupannya. Alkitab mencatat bahwa orang-orang yang berhasil dalam hidupnya harus terlebih dahulu menghadapi kemustahilan dalam kehidupannya. Mengutip apa yang dikatakan oleh Maq, “Abraham dan Sara menghadapi kemustahilan karena mereka mandul, Yusuf menghadapi kemustahilan sebagai seorang budak, Musa menghadapi kemustahilan ketika dia terjepit di Laut Teberau
, Yosua menghadapi kemustahilan ketika harus meruntuhkan tembok Yerikho, nabi Elia mengalami kemustahilan ketika dia harus berhadapan dengan 450 nabi baal, Daud menghadapi kemustahilan ketika dia harus berhadapan dengan Goliat, Sadrakh, Mesakh dan Abednego menghadapi kemustahilan ketika mereka dimasukkan ke dalam dapur api, dan lainnya”.
Ada banyak contoh dari pahlawan Iman yang berhasil pada saat mereka menang dari Kemustahilan. Maq juga berkata bahwa kemustahilan adalah situasi dimana kita tidak dapat melihat jalan keluar dari sebuah masalah. Jika kita masih mampu menghandle sebuah keadaan, maka kita belum berada pada kemustahilan. Dalam kehidupan kita, aku menyadari, betapa naifnya kita, atau minimal aku, dengan mengatakan bahwa aku sudah cukup dekat dengan Tuhan pada saat aku telah mendapati bahwa aku melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh, bahwa aku telah menjaga hidupku sedemikian rupa, menyalibkan kedaginganku.
Memang, hal ini menyenangkan hati Tuhan. Tapi aku lupa, bahwa Tuhan punya rencana yang spesifik dalam kehidupan kita. Sama seperti Tuhan menghendaki Yusuf untuk menjadi wali raja Firaun, Abraham untuk menjadi bapa orang beriman, Daud untuk menjadi raja Israel yang begitu menyenangkan hati Tuhan, maka Tuhan menghendaki diriku untuk menjadi pendiri perusahaan IT yang menguasai Internet.
Memang, inilah misi yang Tuhan tempatkan di dalam hatiku. Seperti yang aku pernah ceritakan, tahun ini, Tuhan berbicara secara spesifik kepada aku tentang masa depanku. Tentang apa yang aku harus lakukan dan perbuat. Aku harus memimpin perusahaan IT yang terdiri dari 5 divisi, yaitu : Website, Database, Sofware, Security dan System Consultant. Dan Tuhan juga menambahkan, bahwa aku harus membuat sebuah Web Portal yang mampu mempengaruhi Internet.
Saat ini, Tuhan baru berbicara sampai di sini kepada aku. Tapi aku rasa itu sangatlah lebih dari cukup. Kata-kata “Generasi Yusuf” adalah kata-kata yang sangat sesuai dengan kehidupanku. Sama seperti Tuhan telah memberikan mimpi kepada Yusuf, demikian juga Tuhan telah memberikan mimpi kepada aku. Sama seperti saat itu Yusuf pun tidak tahu apakah mimpi itu benar, dan bagaimana cara untuk mencapainya, demikian juga aku tidak tahu.
Tapi, dari semua pahlawan iman yang disebutkan dan kita ketahui, semua memiliki kesamaan. Mereka adalah orang yang TAAT meskipun tidak melihat dan mereka KUAT menanggung penderitaan yang ada. Lagi, betapa naifnya aku melihat kehidupanku, karena seolah aku merasa sudah berada pada track yang benar, karena aku sudah berada pada Perusahaan Multimedia dan selalu memproduksi Website, tapi aku lupa, ternyata aku hanya berada pada Zona Nyamanku saja. Kembali mengutip perkataan Maq, aku ingin merasakan berada pada “Zonanya Tuhan” alias “God’s Zone”, yang menuntut kepada Keradikalan Total dan Penyerahan Hidup Sepenuhnya Kepada Tuhan.
Secara mental, aku belum siap. Tapi setidaknya, entah kenapa, akhir-akhir ini Tuhan selalu memberikan aku dorongan untuk mencoba. Sama seperti keputusanku beberapa waktu yang lalu untuk menjadi radikal kepada Tuhan, saat ini aku juga sedang ingin untuk mencobai hidupku. “Seberapa kuat kah aku untuk melangkah di dalam keradikalan?” Jika kita tidak pernah mencobanya, kita tidak akan tahu seberapa kuatkah kita. Jika kita tidak tahu bahwa kita ternyata lemah, kita tidak akan pernah berserah kepada Tuhan dan tidak akan pernah meminta pertolongan dan penguasaan Tuhan secara sepenuhnya dalam kehidupan kita.
Menjadi “Generasi Yusuf” sekali lagi adalah memiliki sebuah mimpi sebagai tujuan kita dan iman sebagai cara untuk mencapainya. Firman Tuhan berkata, “Iman adalah bukti dari apa yang tidak kita lihat!”. Yang artinya, bahwa jika kita memiliki iman, maka hal itu telah terjadi, karena sesuatu yang memiliki bukti adalah sebuah fakta. Begitu juga menjadi “Generasi Yusuf” berarti kita harus menjadi dampak bagi orang lain, sebab firman Tuhan berkata, “…inilah yang mengalahkan dunia: Iman kita!”. Hanya dengan iman bersama, yaitu iman dari Yusuf-Yusuf baru yang bangkit, dari segala keadaan yang terpuruk menuju kepada janji Tuhan dalam hidupnya, demikian juga kita harus memiliki iman secara bersama, yaitu kepercayaan kepada Tuhan bahwa Dia pasti akan menggenapi rencanaNya dalam kehidupan kita.
Dengan aku berkata seperti ini, apakah aku telah berhasil? Tidak, langkahku masih jauh. Tapi dengan aku berkata seperti ini, setidaknya aku sedang meletakkan tonggak bersejarah dalam kehidupanku bahwa aku akan menggenapi rencana Tuhan dalam kehidupanku.
“Generasi Yusuf”!
Yusuf adalah anak dari Yakub yang menghabiskan masa mudanya menjadi seorang budak dan tawanan di Mesir. Singkat cerita (karena aku rasa teman-teman sudah pada tahu siapa si Yusuf ini), Yusuf menjadi wakil raja Firaun. Bahkan dikatakan bahwa kelebihan Firaun dari pada Yusuf hanyalah tahtanya saja, atau dengan kata lain, Yusuf menjadi orang nomor 2 di seluruh kerajaan Mesir kuno yang begitu tersohor.
Yang begitu membuatku terkesan adalah bagaimana Yusuf bisa menikmati kemustahilan yang ada dan mengubahnya jadi keberhasilan untuk mencapai rencana Allah dalam kehidupannya. Alkitab mencatat bahwa orang-orang yang berhasil dalam hidupnya harus terlebih dahulu menghadapi kemustahilan dalam kehidupannya. Mengutip apa yang dikatakan oleh Maq, “Abraham dan Sara menghadapi kemustahilan karena mereka mandul, Yusuf menghadapi kemustahilan sebagai seorang budak, Musa menghadapi kemustahilan ketika dia terjepit di Laut Teberau
, Yosua menghadapi kemustahilan ketika harus meruntuhkan tembok Yerikho, nabi Elia mengalami kemustahilan ketika dia harus berhadapan dengan 450 nabi baal, Daud menghadapi kemustahilan ketika dia harus berhadapan dengan Goliat, Sadrakh, Mesakh dan Abednego menghadapi kemustahilan ketika mereka dimasukkan ke dalam dapur api, dan lainnya”.
Ada banyak contoh dari pahlawan Iman yang berhasil pada saat mereka menang dari Kemustahilan. Maq juga berkata bahwa kemustahilan adalah situasi dimana kita tidak dapat melihat jalan keluar dari sebuah masalah. Jika kita masih mampu menghandle sebuah keadaan, maka kita belum berada pada kemustahilan. Dalam kehidupan kita, aku menyadari, betapa naifnya kita, atau minimal aku, dengan mengatakan bahwa aku sudah cukup dekat dengan Tuhan pada saat aku telah mendapati bahwa aku melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh, bahwa aku telah menjaga hidupku sedemikian rupa, menyalibkan kedaginganku.
Memang, hal ini menyenangkan hati Tuhan. Tapi aku lupa, bahwa Tuhan punya rencana yang spesifik dalam kehidupan kita. Sama seperti Tuhan menghendaki Yusuf untuk menjadi wali raja Firaun, Abraham untuk menjadi bapa orang beriman, Daud untuk menjadi raja Israel yang begitu menyenangkan hati Tuhan, maka Tuhan menghendaki diriku untuk menjadi pendiri perusahaan IT yang menguasai Internet.
Memang, inilah misi yang Tuhan tempatkan di dalam hatiku. Seperti yang aku pernah ceritakan, tahun ini, Tuhan berbicara secara spesifik kepada aku tentang masa depanku. Tentang apa yang aku harus lakukan dan perbuat. Aku harus memimpin perusahaan IT yang terdiri dari 5 divisi, yaitu : Website, Database, Sofware, Security dan System Consultant. Dan Tuhan juga menambahkan, bahwa aku harus membuat sebuah Web Portal yang mampu mempengaruhi Internet.
Saat ini, Tuhan baru berbicara sampai di sini kepada aku. Tapi aku rasa itu sangatlah lebih dari cukup. Kata-kata “Generasi Yusuf” adalah kata-kata yang sangat sesuai dengan kehidupanku. Sama seperti Tuhan telah memberikan mimpi kepada Yusuf, demikian juga Tuhan telah memberikan mimpi kepada aku. Sama seperti saat itu Yusuf pun tidak tahu apakah mimpi itu benar, dan bagaimana cara untuk mencapainya, demikian juga aku tidak tahu.
Tapi, dari semua pahlawan iman yang disebutkan dan kita ketahui, semua memiliki kesamaan. Mereka adalah orang yang TAAT meskipun tidak melihat dan mereka KUAT menanggung penderitaan yang ada. Lagi, betapa naifnya aku melihat kehidupanku, karena seolah aku merasa sudah berada pada track yang benar, karena aku sudah berada pada Perusahaan Multimedia dan selalu memproduksi Website, tapi aku lupa, ternyata aku hanya berada pada Zona Nyamanku saja. Kembali mengutip perkataan Maq, aku ingin merasakan berada pada “Zonanya Tuhan” alias “God’s Zone”, yang menuntut kepada Keradikalan Total dan Penyerahan Hidup Sepenuhnya Kepada Tuhan.
Secara mental, aku belum siap. Tapi setidaknya, entah kenapa, akhir-akhir ini Tuhan selalu memberikan aku dorongan untuk mencoba. Sama seperti keputusanku beberapa waktu yang lalu untuk menjadi radikal kepada Tuhan, saat ini aku juga sedang ingin untuk mencobai hidupku. “Seberapa kuat kah aku untuk melangkah di dalam keradikalan?” Jika kita tidak pernah mencobanya, kita tidak akan tahu seberapa kuatkah kita. Jika kita tidak tahu bahwa kita ternyata lemah, kita tidak akan pernah berserah kepada Tuhan dan tidak akan pernah meminta pertolongan dan penguasaan Tuhan secara sepenuhnya dalam kehidupan kita.
Menjadi “Generasi Yusuf” sekali lagi adalah memiliki sebuah mimpi sebagai tujuan kita dan iman sebagai cara untuk mencapainya. Firman Tuhan berkata, “Iman adalah bukti dari apa yang tidak kita lihat!”. Yang artinya, bahwa jika kita memiliki iman, maka hal itu telah terjadi, karena sesuatu yang memiliki bukti adalah sebuah fakta. Begitu juga menjadi “Generasi Yusuf” berarti kita harus menjadi dampak bagi orang lain, sebab firman Tuhan berkata, “…inilah yang mengalahkan dunia: Iman kita!”. Hanya dengan iman bersama, yaitu iman dari Yusuf-Yusuf baru yang bangkit, dari segala keadaan yang terpuruk menuju kepada janji Tuhan dalam hidupnya, demikian juga kita harus memiliki iman secara bersama, yaitu kepercayaan kepada Tuhan bahwa Dia pasti akan menggenapi rencanaNya dalam kehidupan kita.
Dengan aku berkata seperti ini, apakah aku telah berhasil? Tidak, langkahku masih jauh. Tapi dengan aku berkata seperti ini, setidaknya aku sedang meletakkan tonggak bersejarah dalam kehidupanku bahwa aku akan menggenapi rencana Tuhan dalam kehidupanku.
(taken from my primitive blog at friendster, 06-19-2007 at 08:21 AM)





