Pernahkah anda berpikir tentang untuk apa anda hidup? Ada banyak jawaban yang terjadi tapi seharusnya kita semua akan setuju kepada Tuhan bahwa yang harus dicapai dalam hidup kita adalah kemaksimalan kita. Tidak ada satupun keinginan Tuhan atas kita yang lebih tinggi daripada untuk melihat potensi yang Tuhan taruh dalam hidup kita akhirnya bertumbuh dan menghasilkan.
Itulah mengapa, Tuhan memberikan perumpamaan tentang talenta, bahwa hamba yang berhasil melipatgandakan talenta yang diberikan tuannya dikatakan sebagai “Baik sekali perbuatanmu..” dan seterusnya. Hidup kita adalah ladang dimana Tuhan telah menginvestasikan apa yang Dia miliki. Bayangkanlah sebuah robot atau mesin yang diciptakan oleh manusia. Tahukah anda, berapa harga sebuah mesin tersebut? Untuk sebuah mesin cetak, harganya sekitar Rp. 2 Milyar, dan untuk sebuah model robot canggih, bisa trilyunan rupiah yang dihabiskan. Jangan bayangkan bahwa robot-robot tersebut seperti yang ada di film-film, dimana rasanya begitu mudah bagi mereka untuk hancur sehingga rasanya robot-robot tersebut sangat mudah untuk dibuat.
Dan, sampai saat ini, belum ada satupun robot atau mesin buatan manusia yang mengalahkan kecanggihan dan intelegensia manusia. Jadi, seharusnya anda bisa membandingkan, berapa investasi yang Tuhan taruh atas hidup seorang manusia? Bukan bermaksud untuk mengatakan bahwa Tuhan adalah pribadi yang materialistis, tapi saya yakin lebih dari 90% manusia di seluruh dunia tidak pernah menyadari hal ini.
Bahkan banyak juga manusia yang tidak sadar bahwa mereka hidup, atau mereka hidup tidak pada realita yang ada. Tidak jarang juga mereka memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, karena mereka tidak sadar bahwa ada potensi yang begitu besar yang ada dalam hidup mereka. Itulah mengapa, kemaksimalan adalah sebuah hakekat hidup. Kenapa?
Karena hanya dengan memaksimalkan potensi kita, maka kita akan menjadi makhluk yang menjalankan mandat penciptaNya. Mengapa Tuhan sering menggunakan perumpamaan sebagai tuan dan hamba? Karena memang kita sebagai makhluk ciptaanNya hanyalah hambaNya yang bertugas untuk mengelola apa yang telah Tuhan taruh.
Buat saya pribadi, menjadi seorang peneliti adalah potensi yang ada dalam diri saya. Bagi saya untuk menyelidiki sesuatu adalah passion yang tidak akan pernah habis. Bahkan penyakit maag yang cukup parah yang saya miliki secara tidak sadar terkontribusi oleh hal tersebut. Hal ini saya sadari baru-baru ini, melalui perenungan pribadi dan dikuatkan oleh pernyataan dari beberapa orang yang sangat saya percayai.
Jadi, siapkah kita? Apakah kita sudah mengetahui potensi-potensi kita? Percayalah bahwa kita pasti memiliki potensi yang besar! Jangan melihat apa yang orang lain miliki, tapi selidikilah dalam diri anda, hal-hal yang anda sukai dan di mana gairah hidup terbesar anda berada?
(Gambar dari blogspot.com)






