Itulah pesan yang tiba-tiba muncul di YM. Singkat cerita, dia memberkenalkan namanya Sean, dari China. Punya nama mandarin sih, tapi dirahasiakan saja yah. Nah, ternyata dia mengetahui ID YM ku dari indonetworks, sebuah business network Indonesia di internet.
Dia bekerja sebagai marketing di sebuah perusahaan kimia yang memproduksi bahan kimia cairan juga kurahasiakan, supaya tidak terkesan promosi. Ternyata karena di Indonetwork aku mengiklankan bahwa aku menjual cairan pembersih, maka ia ingin untuk menjual bahan kimia tersebut sebagai bahan. (Padahal, bahan kimia yang aku jual masih bersifat home industry, lucu juga kalau harus import dari China)
Singkat cerita, karena tidak ada bisnis yang bisa tercapai, kita ngobrol-ngobrol singkat. Aku memperkenalkan bahwa aku adalah keturunan perantauan China di Indonesia. “It’s interesting!”, itu tanggapannya. Singkat cerita lagi, supaya teman-teman tidak bosan, dia bercerita bahwa orang-orang di Cina begitu mencintai negaranya. Apapun yang mereka lakukan dan mereka kerjakan, mereka kerjakan untuk negara dan partai. WOW!
Sekarang aku baru tahu, itulah mengapa China berkembang begitu pesat, baik dari segi ekonomi, olahraga, teknologi, pendidikan, SEMUANYA! Mereka, dari orang kampung, sampai orang kota, petani sampai pedagang, semua melakukan pekerjaannya untuk negaranya. Yang aku bingung, bagaimana pemerintah China bisa mem”brainwash” mereka sampai segitunya. Bayangkan jika bangsa kita bisa demikian?
Satu hal yang patut kita renungkan. Lanjut, ia berkata, apapun yang kami lakukan adalah untuk kemakmuran bangsa China. Mereka punya prinsip, kekayaan bangsa lain boleh mengalir ke China, tapi kami tidak akan membiarkan kekayaan kami keluar dari bangsa kami. Wow, bayangkan, setahuku itulah rahasia bangsa Yahudi bisa begitu kaya. Statement itu keluar saat aku menawarkan produk jasa yang selama ini aku sediakan sebagai pekerjaanku. Ia juga berkata, kami ingin mengembalikan kejayaan bangsa kami di masa lampau yang begitu terkenal, dalam pembuatan Great Wall, misalnya.
Hebat! Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku. Ia hanyalah rakyat biasa. Bahkan bahasa Inggrisnya pun tidak lebih baik dari diriku. Mungkin ia tidak tahu tujuan hidupnya (suatu hal yang selama ini aku selalu dengung-dengungkan), ia tidak terlalu punya ambisi apa-apa, tapi ia mencintai negaranya. Bagaimana denganku? Bagaimana denganmu? Kelihatannya kita masih terlalu egois.
Dia bekerja sebagai marketing di sebuah perusahaan kimia yang memproduksi bahan kimia cairan juga kurahasiakan, supaya tidak terkesan promosi. Ternyata karena di Indonetwork aku mengiklankan bahwa aku menjual cairan pembersih, maka ia ingin untuk menjual bahan kimia tersebut sebagai bahan. (Padahal, bahan kimia yang aku jual masih bersifat home industry, lucu juga kalau harus import dari China)
Singkat cerita, karena tidak ada bisnis yang bisa tercapai, kita ngobrol-ngobrol singkat. Aku memperkenalkan bahwa aku adalah keturunan perantauan China di Indonesia. “It’s interesting!”, itu tanggapannya. Singkat cerita lagi, supaya teman-teman tidak bosan, dia bercerita bahwa orang-orang di Cina begitu mencintai negaranya. Apapun yang mereka lakukan dan mereka kerjakan, mereka kerjakan untuk negara dan partai. WOW!
Sekarang aku baru tahu, itulah mengapa China berkembang begitu pesat, baik dari segi ekonomi, olahraga, teknologi, pendidikan, SEMUANYA! Mereka, dari orang kampung, sampai orang kota, petani sampai pedagang, semua melakukan pekerjaannya untuk negaranya. Yang aku bingung, bagaimana pemerintah China bisa mem”brainwash” mereka sampai segitunya. Bayangkan jika bangsa kita bisa demikian?
Satu hal yang patut kita renungkan. Lanjut, ia berkata, apapun yang kami lakukan adalah untuk kemakmuran bangsa China. Mereka punya prinsip, kekayaan bangsa lain boleh mengalir ke China, tapi kami tidak akan membiarkan kekayaan kami keluar dari bangsa kami. Wow, bayangkan, setahuku itulah rahasia bangsa Yahudi bisa begitu kaya. Statement itu keluar saat aku menawarkan produk jasa yang selama ini aku sediakan sebagai pekerjaanku. Ia juga berkata, kami ingin mengembalikan kejayaan bangsa kami di masa lampau yang begitu terkenal, dalam pembuatan Great Wall, misalnya.
Hebat! Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku. Ia hanyalah rakyat biasa. Bahkan bahasa Inggrisnya pun tidak lebih baik dari diriku. Mungkin ia tidak tahu tujuan hidupnya (suatu hal yang selama ini aku selalu dengung-dengungkan), ia tidak terlalu punya ambisi apa-apa, tapi ia mencintai negaranya. Bagaimana denganku? Bagaimana denganmu? Kelihatannya kita masih terlalu egois.
(Gambar dari destination360.com dan chinatoday.com)







