Menjadi seorang pemikir mungkin adalah kutukan hidupku. Hidup yang aneh menurutku. Hidup dimana hingar bingar dan segala keramaian yang ada di sekitarku, tetapi aku hanya bisa diam. Ah, apakah aku tidak bisa bersosialisasi? Belum lagi masa-masa di mana tiap akhir bootcamp, diriku selalu menjadi seorang yang melankolis, di mana semua orang bisa tertawa bersama peserta dan panitia yang lainnya. Dan yang kutemui tentang diriku adalah duduk di pojok seorang diri dan merenung.
Berpikir, merenung, berandai-andai. Belum lagi masalah besarku saat tidur. Tidak pernah bisa tidur dalam hitungan menit. Pikiranku selalu berjalan, berlari dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya. Apa yang terjadi? Apa yang salah?
Ditambah setiap keinginan dan ambisi yang besar dalam hidupku tanpa sedetikpun aku melihat bahwa aku memang ditakdirkan untuk menjadi pemimpin. Ah, memang dunia yang aneh.
Tetapi toh aku tetap harus menjalaninya. Aku berusaha untuk berubah dan menolak jati diriku saat ini. Tapi aku tak bisa menghilangkannya. Selalu saja begini jadinya.
Maka lebih baik aku menerimanya saja, setiap keanehan ini. Karena tiap waktu aku akan menemukan bahwa keanehanku ini adalah keunikanku. Kelemahanku sekaligus kekuatanku. Lalu kenapa aku harus menolaknya dan menjadi orang lain? Karena berusaha untuk menjadi orang lain adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Dan berusaha untuk memaksakan kekuatan-kekuatan orang lain ada di dalam diriku adalah hal yang membuatku makin menderita.
Dan dua hal inilah yang kupelajari. Menjadi benar-benar diri sendiri, belajar menerima diri kita apa adanya. Dan belajar untuk bersabar. Karena selama ini aku selalu ingin untuk menjadi maksimal, namun tanpa kesadaran bahwa proses membutuhkan waktu. Aku selalu takut bahwa waktuku akan habis sebelum diriku berubah menjadi seperti yang Tuhan mau. Padahal Tuhan telah tetapkan semuanya.
Hanya karena sebuah permainan truff, aku mendapatkan suatu hal yang begitu mengubah hidupku. Hanya dengan 1 kata dari bapak rohaniku. “Tor, kamu sebenarnya bisa lebih, tapi kamu kayaknya terlalu bermain aman”. Ya, benar, itulah yang selalu kulakukan. Bermain aman karena takut diriku terlihat jelek di depan orang lain. Karena takut bahwa diriku akan kalah. Itulah filosofi yang selama ini kupelihara dalam hidupku. Aku selalu merasa, daripada kalah, lebih baik bermain aman. Untunglah dalam truff, kita tidak boleh bermain aman, karena saat kita bermain aman, justru kita tidak akan berhasil mencapai tujuan permainan.
Di sini aku belajar banyak untuk mengeksploitasi hidupku. Dan kini akupun tahu. Bahwa aku harus memiliki target 1-2 langkah lebih besar dari yang selama ini berani aku lakukan dan dari setiap keputusan yang aku ambil aku harus memiliki kemampuan untuk meraihnya. Kadang kemampuan itu berupa daya dan semangat yang besar untuk melakukannya. Dan hal inilah yang seringkali aku takuti. Karena aku sering menjumpai diriku berada di kamar sendirian dan melihat diriku tanpa daya dan kekuatan untuk meraih dan melakukan sesuatu.
Tapi, hidup hanya 1 kali saja. Dan akupun harus melakukan yang terbaik, karena hidupku tidak akan terulang. Itulah mengapa aku menyadari, bahwa aku membutuhkan Tuhan. Bukan hanya untuk mencapai tujuan-tujuanku. Tapi karena aku tahu, tanpa Tuhan aku tidak akan berarti apa-apa. Aku harus punya kemampuan untuk mempertahankan diriku dan semangatku sedemikian rupa, sehingga saat momentum itu datang, aku tidak berada dalam posisi kelelahan.
(Gambar dari photobucket.com)






