Tentunya kita semua tahu bahwa dalam kekristenan terdapat prosesi Perjamuan Kudus dimana salah satu hal yang dilakukan adalah memakan roti tidak beragi. Beberapa dari kita mungkin bertanya, apa artinya? Mungkin banyak yang menjawab bahwa itu melambangkan kesatuan dalam Tubuh Kristus. Hal itu benar. Tetapi perenungan saya terakhir membawa pada hal lain yang juga dapat bermakna bagi kita.
Perjamuan Kudus pertama kali dilakukan pada momen paskah. Itulah mengapa beberapa prosesi Paskah juga dilakukan pada Perjamuan Kudus. Salah satu yang paling kental adalah bahwa pada Paskah, orang Yahudi dilarang untuk memakan roti yang beragi. Mungkin itu yang kita tahu. Padahal ada beberapa perbedaan dasar yang seharusnya kita ketahui.
- Roti tidak beragi pada Perjanjian Lama dilakukan untuk mengenang proses pembebasan bangsa Israel dari tanah Mesir, dimana proses tersebut terjadi begitu cepat (mungkin film Exodus bisa menggambarkannya). Begitu cepatnya sampai-sampai mereka tidak sempat membuat makanan sebagai bekal, sehingga roti yang belum jadipun mereka bawa sebagai bekal. Terdapat perbedaan pada Perjanjian Baru dimana orang Kristen merayakan Paskah sebagai hari kemenangan Yesus dan pembebasan kita dari kutuk dosa.
- Roti tidak beragi pada bahasa aslinya menggunakan kata chametz yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kata ragi (yeast atau leaven pada bahasa Inggris). Singkat katanya, chametz sebenarnya berarti segala sesuatu yang panas dan ditekan (hot and pressed). Jadi jelas bukan ragi masalahnya, tetapi bahwa memang pada waktu Israel keluar dari tanah Mesir, mereka tidak sempat meragi apalagi memasak roti tersebut sampai jadi.
- Akar kata chametz sebenarnya berarti ‘to be sour‘ yang juga berarti sebagai kegiatan untuk membuat jera atau kapok. Itulah mengapa Yesus mengajarkan untuk berwaspada dengan ragi Farisi dan Saduki. Karena chametz bukan masalah perubahan akibat proses fermentasi. Tetapi proses pembumbuan dalam pembuatan makanan juga adalah chametz.
Jadi dari hal ini ada beberapa sikap hati yang dapat kita ambil. Yaitu:
- Fokus ibadah kita bukanlah pada rotinya, tetapi untuk mengingat pengorbananNya dan pembebasan kita. Ini adalah sebuah anugerah yang tidak akan kita balas selain kita memberikan hidup kita sebagai persembahan kepadaNya.
- Waktu memakan roti tersebut, Yesus berpesan bahwa roti tersebut melambangkan tubuhNya. Yesus adalah kepala. Dan semua bagian tubuh (dalam anatomi), selalu tunduk kepada kepala (perintah otak). Jadi jika kita tidak mahir taat kepadaNya, tentunya kita belum menjadi anggota tubuhNya.
- Jika kita pelajari di seluruh Alkitab, kita akan menemukan bahwa kata ‘tubuh Kristus’ paling banyak terkait dengan pesan untuk menjadi satu, bersatu, saling mengasihi, dan sebagainya. Sebagai anggota tubuh, kita harus saling melayani. Jika kaki kita gatal, bukankah tangan harus rela untuk menggaruknya (meskipun mungkin beresiko membuatnya jadi kotor)?
Dengan mengerti dan merenungkan makna yang lebih dalam kita akan mampu untuk lebih mengerti isi hatiNya dan melakukan kehendakNya.





