
Dunia seperti dihentak saat pencipta Flappy Bird, Dong Nguyen memutuskan untuk menarik permainan tersebut dari pasaran, baik Apple Store maupun Google Play. Mengapa? Karena permainan ini sudah terlanjur terkenal. Terkenal karena tingkat kesusahan yang tinggi. Ada pemain yang sampai menghancurkan gadgetnya atau membunuh adiknya sendiri karena frustrasi. Sehingga ada ungkapan, “Bukan Angry Bird yang membuat saya marah (angry), tetapi Flappy Bird“.
Saya sendiri tidak pernah memainkannya, meskipun pernah menginstallnya. Karena prinsip saya, bermain adalah untuk kesenangan, dan saya bukan tipe orang yang senang untuk kalah. Jadi saya memilih untuk menguninstall sebelum saya menjadi frustrasi juga (“Hahaha”).
Namun ada sebuah pelajaran hidup yang saya petik dari permainan ini. Bagi yang belum mengerti, permainan ini menuntut kita untuk menjaga keseimbangan burung yang ada di layar supaya tidak menabrak benda-benda yang ada. Cukup sederhana sebenarnya. Tapi, bukankah kehidupan kita juga seperti itu?
Kita semua tahu bahwa hidup menuntut kita untuk seimbang. Tidak makan kita akan lapar, namun terlalu banyak makan akan membuat kita (“Maaf”) memuntahkannya. Semuanya harus dalam keadaan cukup, istirahat, bekerja, bermain, dan sebagainya. Sama seperti Flappy Bird, Kelalaian dalam menjaga hal ini akan membuat hidup kita tidak maksimal.
Dalam permainannya, Flappy Bird menuntut kita menyentuh layar supaya burung yang cenderung terjun mampu untuk naik kembali dalam ‘perjalanan hidup’nya. Begitu juga seringkali hidup kita juga memiliki kecenderungan untuk mengarah pada kondisi tertentu. Misalnya, hampir semua orang memiliki kecenderungan untuk malas dan bersantai-santai, ada juga orang yang cenderung untuk tidak rapi atau bahkan jorok, serta masih banyak contoh lainya.
Ini semua tergantung kepada kebiasaan yang terbangun sejak kecil. Jika kita sendiri mengalami hal-hal seperti ini, mungkin kita kemudian berpikir bahwa kita tidak konsisten dalam menjalankan kehidupan. Ada berapa banyak orang yang memendam rasa bersalah yang luar biasa akibat tidak mampu memiliki jadwal saat teduh yang teratur.
Ijinkan saya merubah cara pandang kita tentang konsistensi. Konsistensi bukanlah kemampuan kita untuk secara terus menerus berada pada suatu kondisi tertentu, namun usaha yang terus menerus untuk ‘memperbaiki’ (jika boleh dibilang begitu) kondisi kita. Hidup kita mungkin mirip seperti burung tersebut yang memiliki kecenderungan untuk ‘jatuh’. Rasul Paulus sendiri mengakui akan hal ini (Roma 7:8-11).
Maka seperti dalam usaha pemain untuk menyentuh layar, konsistensi kita terletak pada usaha untuk terus melawan ‘keinginan’ untuk jatuh tersebut. Artinya, fokus perhatian kita bukanlah pada ‘kejatuhan’ kita tetapi kepada usaha untuk bangkit dari kejatuhan itu, yaitu usaha untuk mengembalikan kondisi kepada titik ideal yang ada.
Hal kedua yang dapat kita petik adalah bahwa untuk melewati suatu rintangan, burung tersebut harus berada pada posisi ideal yang dicapai dengan ‘usaha bangkit yang tepat’. Kadang kebangkitan kita yang terlalu ekstrim juga mengakibatkan kita menabrak dinding rintangan.
Misalnya (jika boleh dikotakkan) masalah berdoa. Usaha doa yang benar selalu menuntut kita secara aktif terjun dan melakukan kehendak Tuhan yang kita mengerti dari doa tersebut. Orang yang tidak pernah berdoa berarti tidak seimbang, tetapi orang yang hanya berdoa saja tanpa melakukan sesuatu juga tidak seimbang, karena fokus doa selalu adalah “Jadilah kehendakMu, di bumi seperti di surga”. Dan yang menjadi faktor kunci transformasi ini adalah kita, bukan Tuhan, karena memang bumi ini adalah tanggung jawab kita.
Contoh lain adalah masalah berpikir. Ada tipe orang yang bertindak sebelum berpikir. Namun ada juga orang yang terlalu banyak berpikir sampai lupa atau lambat dalam bertindak. Hal ini tentu menuntut keseimbangan yang diraih melalui latihan pribadi terus menerus yang tidak pernah lelah. Yaitu kemampuan kita untuk menyeimbangkan secara terus menerus kecenderungan hidup yang tidak tepat untuk kemudian diarahkan pada posisi yang tepat.
Mungkin masih banyak hal lain (contoh kasus per kasus) yang bisa dibahas, namun setidaknya apa yang sudah dijelaskan di atas dapat menjadi pegangan dalam kehidupan kita. Hidup kita adalah tanggung jawab pribadi dan sudah menjadi tanggung jawab kita untuk menjadi mahir dalam ‘memainkan’ permainan hidup kita.
(Gambar dari berbagai sumber)






