Visi tidak membuat kita ambisius meskipun ada pengejaran target. Abraham tahu bahwa Allah akan membuatnya kaya, bahkan sangat kaya. Tetapi ia tidak ambisius dan membiarkan Lot memilih tanah yang baik menurut pendapatnya. Dalam mencapai visi, seharusnya kita tidak ambisius. Orang yang ambisius menandakan bahwa ia mengandalkan kekuatannya sendiri, bukan Tuhan dan membuktikan bahwa itu adalah target pribadinya, bukan dari Tuhan.- Visi membuat kita percaya diri. Karena kita tidak sedang mengerjakan proyek pribadi, tetapi proyek Allah, maka kita tahu bahwa kita memiliki partner yang sangat luar biasa. Dalam kacamata Allah, kita bukan sedang mengejar visi, tetapi sedang menjalani visi. Apa perbedaannya? Waktu kita mengejar, berarti itu belum kita raih atau capai. Tetapi kita sedang menjalani, yaitu sebuah konsep bahwa sebenarnya kita sudah berada dalam visi tersebut yang berarti kita sudah raih. Ibrani 12 menjelaskan bahwa kita sudah berada pada sebuah kerajaan, yaitu kerajaan yang tidak tergoncangkan. Itulah visi dari Allah. Kita hidup dibatasi oleh waktu. Allah maha hadir, berarti Ia tidak dibatasi waktu. Anggap saja kita sedang hidup di titik waktu A. Sedang pencapaian visi kita ada di titik waktu B. Allah hidup di kedua titik waktu tersebut. Kita belum berada pada titik waktu B. Tetapi bagi Allah, kita saat ini sama berharganya dengan kondisi kita di titik waktu B.
- Visi mengembangkan seluruh potensi kita. Visi yang Allah berikan sangat besar. Tetapi Ia tidak memberikan ‘beban’ tersebut tanpa memberikan kita alat dan perlengkapan untuk mencapainya. Kita sama seperti prajurit yang telah menggunakan seluruh perlengkapannya. Ada granat, rudal, senapan otomatis, kevlar, dan sebagainya. Dalam hidup kita terdapat Karunia Jawatan (Efesus 4:11), Karunia Manifestasi Roh (1 Korintus 12:10), Karunia Motivasi (Roma 12:6-8) dan segala potensi kita lainnya. Jika kita ragu mengenai visi apa yang Allah berikan secara spesifik, tinggal periksa karunia apa yang Allah berikan dalam hidup kita dan berfungsilah menurut karunia tersebut, maka kita pasti sedang berada pada jalur yang benar untuk mencapai visi tersebut.
- Visi membuat hidup kita berkemenangan. Pada dasarnya, manusia memiliki sense of destiny. Ia tahu mana yang merupakan tujuan dari Allah dan mana yang bukan. Pada pembahasan saya mengenai Buah Pengetahuan Yang Baik dan Jahat, dijelaskan bahwa pencapaian visi dari Tuhan membuat kita mencapai hidup. Hidup dalam bahasa aslinya memiliki arti berkemenangan, berkelimpahan, serta penuh arti. Mengapa kita sering merasa hidup kita tidak berarti? Ulangan 28 merupakan sebuah deklarasi Allah kepada bangsa Israel. Mengikuti Tuhan berarti menerima segala kepenuhan berkat dari Tuhan. Berkat bukanlah material. Kita bisa membeli rumah, tetapi tidak bisa membeli suasana keluarga, kita bisa membeli kasur termahal, tetapi tidak bisa membeli tidur yang nyenyak, kita bisa membeli obat, tetapi tidak bisa membeli kesehatan, dan seterusnya.
- Visi membuat kita hidup untuk orang lain. Ini adalah parameter yang paling mencolok sebenarnya. Orang yang berkata bahwa ia memiliki sebuah tujuan, tetapi sebenarnya itu untuk kepentingan diri sendiri, pastilah tujuan tersebut bukan visi dari Tuhan. Yang Allah inginkan dan rindukan adalah agar hidup kita berfungsi dan memberkati orang lain. Mengapa kita diberkati? Agar kita dapat memberkati orang lain. Tetapi konsepnya bukan kita menunggu berkat Allah dahulu, karena Allah berpegang pada prinsip kapasitas. Jika dengan berkat kita yang sekarang kita sudah dapat memberkati orang lain, Ia akan memberikan berkat yang lebih besar. Berkat adalah kepercayaan. Sama seperti uang dan waktu kita, Allah menginginkan kita untuk mengelolanya dengan baik. Hidup yang Allah karuniakan (dengan penciptaan dan penebusanNya) bukan agar kita nikmati untuk kepentingan kita sendiri.
Visi tidak terbatas pada apa yang saya jabarkan di atas saja. Ada banyak hal lain tentang visi. Namun setidaknya poin-poin tersebut di atas dapat menjadi gambaran bagi kita tentang apa visi kita dan bagaimana cara mencapainya. Poin-poin di atas adalah gambaran besar sekaligus pagar pembatas agar kita tidak melenceng. Namun, visi kita adalah sesuatu yang spesifik. Itulah yang tidak bisa dijelaskan, karena itu menyangkut keunikan diri kita. Untuk dapat mengetahunya, milikilah pembimbing yang dapat mengarahkan anda untuk mencapai visi tersebut. Di tempat saya bertumbuh, terdapat beberapa kuisioner yang dapat membantu untuk mengerti seluruh potensi dan karunia kita. Dari sana, kita dapat berangkat untuk lebih mengerti, apa visi spesifik yang Tuhan rencanakan bagi kita.
(Gambar dari wordpress.com)
Pages: 1 2





