Apa saja hal tersebut? Mulai ayat 10-25 ada beberapa poin-poin yang akan dirangkum sebagai berikut.
- Ayat 10, hidup dari seseorang yang bukan siapa-siapa tetapi beroleh anugerah, bahasa Inggrisnya berkata ‘from nothing to something’, artinya kita harus menghayati setiap anugerah Allah yang membuat kita menjadi ‘seseorang’. Blog selanjutnya akan membahas hal ini.
- Ayat 11, menjauhkan diri dari keinginan daging yang melawan roh. Artinya, jangan menjadi nyaman dengan kebiasaan yang salah. Harus ada perubahan budi. Roma 12:2 menjelaskan bahwa kita tidak boleh menjadi serupa dengan dunia/daging yang menguasai kita di saat kebodohan kita (Ef 4:18). Saat kita memanjakan ego kita, akibatnya adalah jiwa kita akan tertekan.
- Ayat 12, hidup sebagai teladan. Ini adalah kunci.
- Ayat 13:18 menjelaskan tentang tata cara menjadi warga negara yang baik.
- Taat pada otoritas karena mereka adalah utusan Allah, sehingga dengan itu, setiap orang di sekeliling kita akan mengerti bahwa kita bukanlah orang yang berbahaya/aneh yang harus dibasmi. Gereja seharusnya menjadi pihak pertama yang melakukan tindakan nyata bagi sekelilingnya sehingga setiap orang merasakan dampaknya.
- Menjalani kebebasan kita dengan melayani Tuhan, bukan dengan melawan peraturan yang ada. Hal ini berkaitan dengan pengertian bahwa kehendak bebas manusia seharusnya menjadi alasan untuk semakin taat dan patuh kepada Tuhan bukan justru mengembangkan ego.
- ‘Treat everyone you meet with dignity’, artinya kita harus dapat memperlakukan setiap orang dengan baik dan benar, tidak seenaknya sendiri karena mungkin kita memiliki kuasa atau kekuatan lebih.
- ‘Love your spiritual family’, artinya kita harus hidup dalam kumpulan orang benar yang tidak hanya berjuang bersama-sama, tetapi saling memperhatikan satu dengan yang lain.
- Saat diperlakukan yang tidak baik, tetapi harus dapat memberikan kinerja yang terbaik. Hal inilah yang diperhitungkan Tuhan.
Dengan pola hidup demikian, maka gereja akan menjalani fungsi dan tugas sebenarnya, yaitu untuk membangun Kerajaan Allah di tempatnya berada, bukan malah berfokus pada diri sendiri. Artinya, dalam setiap pertemuan, tidak hanya kegiatan puji-pujian saja yang dilakukan. Allah senang dengan itu, tetapi hal itu saja tidak cukup, karena Allah tidak mendesain manusia hanya sekedar demikian saja. Gereja harus menjadi pusat (headquarter) untuk menentukan nasib suatu kota. Itu adalah definisi yang sebenarnya dari ekklesia/gereja. Ada satu syarat dalam pergerakan tersebut (pergerakan orang-orang kudus), yaitu menjadi kudus. 1 Petrus 1 dan awal 1 Petrus 2 menjelaskan bahwa kita telah didesain secara sangat unik dan memiliki derajat yang tinggi. Itulah kekudusan. Menjadi kudus berarti berkualitas. Blog selanjutnya akan membahas hal tersebut.
(Gambar dari wordpress.com dan blogspot.com)
Pages: 1 2









Ujian Seorang Raja « The Leipzic Way
[…] terus menerus dalam pasal 1 dan pasal 2 sebelum ayat 9 yang menjelaskan jati diri kita sebagai imamat yang rajani. Mengenai hal ini, ada beberapa penjelasan yang sebenarnya akan mengarah ke sebuah hal yang […]